Breaking News:

Salam

Pencegahan Corona Harus Ditangani Lebih Baik Lagi  

Ketua DPRA, Dahlan Jamaluddin, mendesak Pemerintah Aceh supaya mengevaluasi secara menyeluruh proses penanganan wabah Covid-19

SERAMBINEWS/MASRIZAL
Ketua DPRA, Dahlan Jamaluddin memberikan pers terkait perkembangan penanganan Covid-19 di Aceh di Gedung DPRA, Senin (14/9/2020). 

Ketua DPRA, Dahlan Jamaluddin, mendesak Pemerintah Aceh supaya mengevaluasi secara menyeluruh proses penanganan wabah Covid-19 di provinsi ini mengingat wabah Corona makin terus melonjak. Dari hampir 3.000-an orang yang terinfeksi Covid-19 di Aceh, 400 orang merupakan tenaga pelayanan medis. Dan, jumlah korban meningga akibat Corona di Aceh sudah 100-an orang.

Dahlan menilai, sejak wabah ini merebak di Aceh pada Maret lalu, yang artinya sudah memasuki bulan keenam, sampai sekarang belum terlihat adanya kerangka penanganan yang jelas dan komprehensif. Padahal Pemerintah Aceh memiliki dana refocusing sebesar Rp 2,3 triliun. "Apa yang dilakukan selama ini oleh Pemerintah Aceh lebih kepada pencitraan,” kata pimpinan lembaga legislatif itu.

Dalam penilaian DPRA, dalam penanganan kesehatan, Pemerintah Aceh juga tidak berkoordinasi terpadu dengan pihak-pihak terkait tingkat provinsi hingga tingkat desa. Dampak dari tidak adanya kerangka kerja dan koordinasi, juga membuat banyak tenaga kesehatan mengeluh dan kasus positif terpapar virus Corona terus meningkat di provinsi ini. "Pemerintah harus berani menyampaikan bahwa kondisi saat ini tidak sedang baik-baik saja. Mari sama-sama kita berteriak dengan harapan ada perubahan sikap dan prilaku kebijakan dari pemangku kepentingan kita hari ini,” kata wakil rakyat itu.

Ketua DPRA juga menyeru Pemerintah Aceh untuk segera melakukan swab massal sesuai standar WHO. Tes swab massal penting dilakukan karena saat ini tidak diketahui lagi klaster-klaster mana saja yang terpapar Covid. “Dengan tes swab massal, kita bisa tahu sejauh mana peredaran virus Corona sehingga bisa diambil kebijakan untuk memutus mata rantai penyebarannya."

Pemerintah Aceh pun diminta memikirkan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Anggota DPRA, Abdurrahman Ahmad berpendapat, Aceh harus terapkan PSBB total. "Jakarta saja yang ditentang oleh menteri-menteri tetap menerapkan PSBB, kenapa Aceh tidak melakukannya," kata Abdurrahman Ahmad.

Tentang kerangka kerja yang tidak jelas, kita tidak akan melihat dari kacamata yang sama dengan DPRA. Tapi, kita memang melihat seperti ada “something wrong” dalam penanganan kasus Corona di Aceh. Antara lain kita lihat dari sisi banyaknya pejabat penentu kebijakan yang terinfeksi Covid-19. Ada bupati, wali kota, wakil wali kota, wakil bupati, sekda, pimpinan rumah sakit, dan lain-lain. Padahal, sesungguhnya mereka adalah bagian yang harus memberi contoh bagaimana menjalankan protokol kesehatan secara ketat sehingga terhindar dari paparan virus Corona.

Yang sangat menakutkan juga, saat ini sejumlah unit pelayanan kesehatan mulai lumpuh satu persatu karena petugas medis atau operatornya terinfeksi Covid-19. Ada rumah sakit, puskesmas, dan lain-lain harus ditutup sementara. Kabar terbaru adalah Rumah Sakit Umum Dokter Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh yang terpaksa menutup unit pelayanan cuci darah karena beberapa petugas di sana terpapar virus Corona dan harus menjalani perawatan dan isolasi mandiri.

Terkait penghentian sementara layanan cuci darah, Direktur RSUZA Banda Aceh, Dr dr Azharuddin SpOT K-Spine, FICS, mengungkapkan, awalnya, ada delapan staf di unit layanan cuci darah yang terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19. “Sedangkan 16 orang lagi menunggu hasil swab. Jadi mereka sedang isolasi mandiri. Karena pertimbangan itu maka pelayanan cuci darah kita tutup tiga hari," kata dia.

Menurut Azhar, tutupnya sementara instalasi HD tersebut perlu juga untuk menyadarkan masyarakat agar semuanya mematuhi protokol kesehatan sehingga efek tularnya bisa hilang atau minimal. "Sangat dahsyat akibatnya jika petugas bertumbangan lantaran positif Covid. Efek lanjutan akan dirasakan masyarakat, khususnya kelompok yang sangat rentan terhadap Covid, ya seperti mereka yang rutin seminggu dua kali ke RSUZA untuk cuci darah itu," jelas Dr Azharuddin.

Proses pencegahan penularan Corona di Aceh memang harus dilakukan secara lebih efektif lagi agar angka penularannya tidak terus membengkak. Perbaikan proses penanganan mestinya dilakukan segera, sebab jika terlambat, maka wabah itu semakin meruyak dan penanganannya akan semakin sulit!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved