Berita Aceh Barat Daya
Satu Keluarga Tempati Gubuk Pinggir Jalan, Delapan Mualaf Ikut Berteduh
Satu keluarga, suami bersama istri dan dua anak, penduduk Kecamatan Manggeng Aceh Barat Daya (Abdya) menempati gubuk pinggir jalan nasional
Penulis: Zainun Yusuf | Editor: M Nur Pakar
Laporan Zainun Yusuf| Aceh Barat Daya
SERAMBINEWS.COM, BLANGPIDIE - Satu keluarga, suami bersama istri dan dua anak, penduduk Kecamatan Manggeng Aceh Barat Daya (Abdya) menempati gubuk pinggir jalan nasional
Mereka sudah hampir enam tahun menempati gubuk di Labuhan Haji Aceh Selatan.
Sang suami, Arbulan Telaum Banua (46) bersama istri Syamsidar dan dua anaknya, Saumi Rahmadani, siswi kelas III SMP dan M Thavid siswa kelas I SMP di Manggeng, menempati pondok 2,5 meter x 6 meter.
Gubuk tidak layak sebagai tempat tinggal itu berdiri di atas berem jalan yang diapit saluran irigasi dengan tanah milik almarhum Teuku Jakfar.
Lokasi gubuk tersebut di Dusun Ujong Blang, Desa Kuta Trieng., Kecamatan Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan atau perbatasan dengan Kabupaten Abdya.
Arbulan asal Tapanuli, Sumut menikahi Syamsidar, perempuan asal Desa Tengah, Manggeng, Abdya.
Awalnya, pasangan ini tinggal di rumah mertua, kemudian berpindah-indah tempat tinggal dalam kawasan Kecamatan Manggeng, antara lain di Desa Paya dan Desa Padang.
“Kami sekeluarga masih warga Desa Padang, Manggeng, Abdya," kata Arbulan kapada Serambinews.com, Jumat (18/9/2020) sore.
Gubuk tempat tinggal Arbulan dibangun dari bahan kayu bulat dan pohon pinang, beratap daun rumbia sehingga jauh dari sebuah rumah layak huni.
Awalnya gubuk tersebut sebagai tempat jual eceran minyak, kemudian dijadikan tempat tinggal bersama keluarganya.
Arbulan mengaku tidak ada tanah untuk membangun rumah tempat tinggal.
Meski tinggal sementara di lokasi berbeda kabupaten, jarak tempat tinggal Arbulan di kawasan Aceh Selatan dengan kampung asal istrinya di Manggeng Abdya hanya berjarak sekitar 6 km.
Gubuk disekat dengan triplek dan terpal plastik menjadi ukuran ruangan tempat tidur.
Sisanya, dibiarkan ruang terbuka berlantai papan sebagai tempat duduk siang hari, sekaligus sebagai tempat memasak.
Sedangkan kompor untuk memasak dan tempat cuci piring di atas saluran irigasi persis di samping gubuk.
Arbulan bersama Syamsidar dikaruniai tiga putra putri. anak tertua, Muhammad Yahya, tidak tamat SMA, sekarang tinggal bersama kakak ipar Arbulan di Desa Tengah, Manggeng, Abdya.
Sehari-hari Arbulan melakoni pekerjaan sebagai tukang beca antar jemput siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di Manggeng.
“Selama empat bulan terakhir atau selama penyebaran Virus Corona, tak ada lagi siswa yang harus saya antar jemput, karena sekolah libur,” kata Arbulan.
Gubuk kecil dengan kondisi sangat memprihatinkan itu, sekarang ini menjadi tempat menampung delapan mualaf, yaitu Fatimah Telaum Banua (39) bersama tujuh putrinya
Fatimah, tidak lain adik bungsu dari Arbulan yang baru saja secaar resmi masuk agama Islam.
Fatimah bersama tujuh putrinya mengucapkan kalimat syahadat di Masjid At-Taqwa Manggeng, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Abdya, Sabtu (12/9/2020) lalu.
Setelah mengucapkan kalamat syahadat sejak lebih satu pekan lalu, hingga sekarang Fatimah bersama tujuh putrinya masih menumpang di gubuk yang ditempati abangnya Arbulan Telaum Banua.
Sedangkan bubuk di tepi jalan itu hanya punya satu kamar kecil yang digunakan sebagai ruangan tidur keluarga Arbulan.
Dinding ruang tidur seadanya saja dari triplek dan terpal plastik. Sedang pintu masuk dan keluar hanya ditutup dengan kain.
Meskipun hidup dalam kondisi serba kekurangan, Arbulan berhati mulia. Ia bersedia menampung adiknya, Fatimah bersama tujuh putrinya yang baru saja menjadi muallaf dengan senang hati.
Karenanya sangat diharapkan perhatian pemerintah dan uluran tangan dermawan lainnya membantu rumah tempat tinggal sang adik besama tujuh putrinya yang baru saja menjadi muallaf.
Selain itu tujuh putri dari sang adik yang tidak sekolah juga perlu dipikirkan.
Sebelumnya, Fatimah dan keluarga tinggal dengan membuka kebun di areal hutan Mursa kawasan Desa Gunung Baringin, Kecamatan Angkola Selatan, Padang Sidempuan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut.
Hutan Morsa merupakan lokasi sangat terpencil.
“Jaraknya satu hari naik mobil dari Padang Sidempuan, dan setelah tiba di penghabisan ujung jalan Desa Gunung Beringin, harus jalan kaki selama 4 jam baru mencapai hutan Morsa tempat tinggal Fatimah,” kata Arbulan Telaum Banua.
Tinggal di lokasi terpencil seperti itu sehingga anak-anak Fatimah tidak bersekolah.
Fatimah mengaku dikaruniai 10 anak dengan nomor satu dan dua pernah sekolah, kemudian putus, dan sudah berkeluarga tinggal di Padang Sidempuan.
Anak nomor lima, laki-laki sekarang sekolah di SMP, tapi tinggal dengan orang lain di Padang Sidempuan.
Lalu, anak nomor tiga, empat enam sampai sepuluh, seluruhnya perempuan dibawa untuk masuk agama Islam di Abdya.
Dari tujuh putri yang sudah memeluk agama Islam itu, hanya anak nomor tiga dan empat yang pernah sekolah sampai kelas II SD, kemudian putus.
Sedangkan anak nomor enam, tujuh, delapan, sembilan dan sepuluh, tak pernah sekolah sama sekali.
“Anak-anak tak bersekolah karena tempat tinggal di sana tak ada bangunan sekolah,” kata Fatimah.
Sebagai catatan, Fatimah bersama tujuh putrinya mengucapkan ikrar syahadat dipandu Drs Said Firdaus, Imam Masjid At-Taqwa Manggeng.
Tujuh putri Fatimah yang mengucapkan syahadat masing-masing, Nidar Ratna Ayu Gea (18 tahun), Iren Cantika Gea (17), Muliani Gea (13), Melia Gea (11), Amila Gea (9), Mariani Gea (4), Imel Gea (3 tahun)
IRT kelahiran Gunung Sitoli pada 28 Februari 1981 ini (seperti data KTP), ini nekat meninggalkan hutan Mursa lokasi sangat terpencil itu dengan memboyong tujuh putrinya untuk pindah keyakinan, memeluk agama Islam.
Sementara sang suami, Eti Sama Gea (44) dan tiga anaknya masih tinggal di kawasan Desa Gunung Baringin, Kecamatan Angkola Selatan, Padang Sidempuan.
Tiga anak yang belum menyertainya, dua diantaranya sudah berkeluarga, Iman Suriani Gea (23), perempuan dan Yaswan Gea (20), laki-laki serta satu anak laki-laki nomor lima masih bersekolah SMP, bernama Yusafat Gea.
“Adik saya ini sejak lahir beragama Islam dengan nama Fatimah. Lalu, pindah keyakinan saat menikah dengan suami nonmuslim, tapi namanya tidak berubah. Kami empat bersaudara, yang bungsu Fatimah,” kata Arbulan Telaum Banua kepada Serambi.
Arbulan mengaku sudah 20 tahun tidak pernah bertemu dengan Fatimah.
Keinginan bertemu dengan sang adek terus diusahakan, akhirnya ada titik terang dengan bantuan seorang teman facebook di Sibolga.
Bantuan teman di Sibolga itu, Arbulan berhasil memperoleh nomor telepon Fatimah sehingga bisa komunikasi dengan Fatimah, setelah 20 tahun tidak pernah bertemu.
Perjalanan Fatimah bersama tujuh orang anak dari Padang Sedempuan menuju tempat tingal abangnya di Labuhan Haji Barat, Aceh Selatan sangat menyedihkan.
Seperti disebutkan Arbulan kepada Serambinews.com, Fatimah dan tujuh putrinya sempat terkatung-katung di Sidikalang, Dairi, Sumut akibat kehabisan uang.
Beruntung ada orang yang berbaik hati membantu ongkos dari Sidikalang menuju Terminal Subulussalam, Kota Subulussalam, Aceh.
Kemudian, jamaah Masjid At-Taqwa Subulussalam membantu ongkos transportasi dan makan dalam perjalanan, sehingga Fatimah bersama tujuh anaknya bisa sampai ke alamat abangnya, Arbulan.
Suami, Anak, Menantu dan Cucu akan Menyusul
Masih menurut Arbulan bahwa suami bersama satu orang anak perempuan yang nomor dua dan suaminya serta seorang anak bayi serta anak nomor 5 laki-laki usia SMP yang sekarang masih di Padang Sidempuan, Sumut, segera menyusul Fatimah ke Aceh.
“Tujuan mereka untuk memeluk agama Islam di Aceh. Jadi masih ada gelombang dua sejumlah 5 orang akan masuk Islam."
"Mereka adalah suami, anak nomor 5 dan anak nomor 2 berama suami dan anaknya yang masih kecil (cucu) segera tiba di sini untuk masuk Islam,” ungkap Arbulan.(*)
• Inspektorat Abdya Audit Dugaan SPPD Fiktif di Sekretariat DPRK
• Satu Lagi Pasien Probable Meninggal di RSUTP Abdya, Masih Dirawat Enam Orang
• Nek Juriah Tersenyum, Rumah Koropos Miliknya Direhab Prajurit TNI Kodim Abdya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/gubuk-pinggir-jalan-aceh-selatan.jpg)