Breaking News:

Opini

Nantampuk Mas dari Kota Hamzah Fansuri

LIBUR semester genap hampir berakhir. Kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu libur yang tinggal sedikit lagi ini. Ancang-ancang mengisi waktu libur

Editor: hasyim
Nantampuk Mas dari Kota Hamzah Fansuri
IST
SIFA SALSABILA, Mahasiswi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan Anggota UKM Jurnalistik STKIP Bina Bangsa Getsempena, Banda Aceh, melaporkan dari Subulussalam

Sekitar 15 menit akhirnya kami sampai di gapura Air Terjun Nantampuk Mas. Pengunjung yang ingin ke  lokasi wisata air terjun ini tidak perlu membayar tiket masuk. Hanya perlu membayar uang parkir saja, untuk sepeda motor (sepmor) Rp 3.000 dan untuk mobil Rp 6.000. Namun, jika hari libur tarif parkir naik: Rp 5.000 untuk sepmor dan Rp 10.000 untuk mobil. Setelah membayar uang parkir kami bergegas melanjutkan perjalanan menuju tempat tujuan. Dalam perjalanan kami harus melewati jembatan gantung. Masyarakat setempat menyebutnya rambingan. Jembatan ini juga cocok dijadikan sebagai spot foto karena pemandangannya sangat menarik. Hamparan alam yang membentang luas ditambah lagi dengan sungai yang mengalir tenang tepat berada di bawah jembatan gantung tersebut. Di sana juga terdapat kolam renang. Apabila bagi pengunjung khawatir dengan sungai yang berarus bisa bermain di kolam renang yang telah disediakan. Tak perlu khawatir jika pengunjung kehabisan stok makanan karena di sepanjang tepi sungai jembatan gantung banyak masyarakat yang berjualan lain aneka makanan dan minuman.

Selain itu, tempat ini juga dilengkapi dengan masjid untuk beribadah sehingga menambah kenyamanan pengunjung untuk berlibur ke Nantampuk Mas.

Sekitar 15 menit kami mengendarai motor, kami harus berjalan kaki untuk menuju lokasi air terjun, karena jalan untuk naik ke atas tidak bisa menggunakan kendaraan. Kami harus berjalan kaki sekitar 20 menit. Namun, jangan khawatir, selama perjalanan kita akan melihat bentangan alam yang masih sangat terjaga. Masih ada dua sungai yang harus kami lewati dengan airnya yang dingin, masih sangat alami, dan sungguh menyegarkan mata.

Beberapa orang juga tengah asyik memancing di sungai yang baru saja kami lewati. Warga juga menyapa pengunjung yang datang, termasuk saya dan teman-teman, walaupun kami adalah warga setempat juga. Masyarakat di sini sangat menjaga keasrian alam dan kebersihan sehingga apa yang mereka jaga juga dapat membantu kelangsungan hidup mereka, seperti memancing tadi.

Debur suara air dari ketinggian sudah mulai terdengar, kian menambah hasrat kami untuk segera sampai ke tujuan. Melewati bebatuan besar yang licin membuat kami sangat berhati-hati untuk melangkahkan kaki, saling bahu-membahu saat melangkah hingga akhirnya kami sampai ke tujuan.

Benar saja, empasan air yang jatuh dari ketinggian menambah kesejukan, dengan tebing tinggi yang menjulang menambah kesan gagah air terjun tersebut. Tempat wisata tersembunyi yang satu ini belum diketahui oleh banyak orang serta belum banyak pengunjungnya sehingga menjadikan air terjun ini masih sangat terlihat alami dan bersih. Tempat ini diapit oleh pegunungan dan bebatuan. Selain itu, tentunya dikelilingi hutan murni yang menjalar bak mahkota yang sungguh indah. Rasa lelah selama perjalanan akan terbayar jika melihat air terjun ini. Kami putuskan membangun tenda untuk beristirahat sembari menikmati keindahan yang Tuhan ciptakan.

Memang tempat ini tidak strategis karena agak jauh dari pusat ibu kota, tapi tak ada salahnya jika kita sedang lewat atau singgah di sini sempatkan juga untuk mengunjungi potensi alam yang ada di dalamnya. Satu hal yang perlu diingat adalah jika berkunjung ke tempat wisata di sini perhatikan barang yang harus Anda bawa serta jangan lupa untuk melestarikan alam dengan tidak membuang sampah sembarangan agar keasriannya tetap terjaga.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved