Breaking News:

Opini

Menekan Covid-19 Ala Taiwan  

Ketika Covid-19 mulai merebak di Tiongkok, para analis memprediksi bahwa Taiwan akan menjadi negara kedua dengan kasus tertinggi

Editor: bakri
Menekan Covid-19 Ala Taiwan   
FOTO/IST
Dr. Kahlil Muchtar, S.T., M.Eng. Kepala Pusat Riset Telematika Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Alumni National Sun Yat-sen University, Kaohsiung, Taiwan.

Oleh Dr. Kahlil Muchtar, S.T., M.Eng. Kepala Pusat Riset Telematika Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Alumni National Sun Yat-sen University, Kaohsiung, Taiwan.  

Ketika Covid-19 mulai merebak di Tiongkok, para analis memprediksi bahwa Taiwan akan menjadi negara kedua dengan kasus tertinggi. Hal ini sangat logis terjadi dikarenakan jarak Tiongkok dan Taiwan yang hanya berkisar 81 mil. Selain itu, jumlah penerbangan antarkedua negara ini sangatlah intensif (per harinya).

Banyak rakyat Tiongkok memilih Taiwan sebagai destinasi wisata. Tercatat pada tahun 2019, ada sekitar 2,7 juta rakyat Tiongkok yang bepergian ke Taiwan. Penulis yang pernah tinggal di Taiwan pun meyakini hal yang sama akan penyebaran virus ini. Wisatawan asal Tiongkok dapat dengan mudah ditemui di area publik, tempat wisata bersejarah hingga pasar malam.

Namun demikian, seluruh prediksi penyebaran Covid-19 di Taiwan tidak terbukti, dan hingga hari ini Taiwan tercatat sebagai salah satu negara dengan kasus terendah, sekaligus memiliki kemampuan mengendalikan virus ini secara rapih dan terintegrasi.

Setelah mempelajari beberapa literatur baik ilmiah dan non-ilmiah, penulis berpendapat, setidakny aada 3 faktor utama kesuksesan Taiwan menjinakkan Covid-19; kepemimpinan (leadership), teknologi (technology), dan kebijakan yang fleksibel (flexible policy).

Salah satu tokoh penting dari sisi kepemimpinan adalah Audrey Tang, menteri digital Taiwan yang berusia 39, dan tercatat sebagai salah satu menteri termuda di dunia. Meskipun terbilang muda, ia mampu menyusun sistem digital tanggap bencana secara cepat dan tepat guna.

Kontribusi Tang yang utama adalah karantina digital bagi penduduk yang baru saja bepergian ke Tiongkok (di awal masa pandemik). Karantina digital merupakan isolasi mandiri dengan pengawasan secara digital melalui sinyal telepon pribadi.

Oleh karena itu, jika penduduk yang tengah menjalani karantina menyelinap keluar (yang dibuktikan dengan pelacakan sinyal telepon mereka), maka penduduk tersebut akan dikenakan denda. Namun sebaliknya, jika seluruh peraturan karantina ditaati maka pemerintah memberikan uang saku senilai 33 dolar per harinya kepada penduduk tersebut.

Ternyata dengan memanfaatkan teknologi disertai kepatuhan, tingkat penyebaran mampu ditekan dengan optimal. Tidak hanya itu, Tang menggunakan posisinya sebagai menteri untuk memberdayakan komunitas masyarakat, khususnya pegiat teknologi. Bermula dari seorang pengembang piranti lunak (software) bernama Howard Wu, yang secara suka rela mengembangkan piranti lunak berbasis peta.

Aplikasi yang ada di HP ini diperuntukkan untuk memantau stok masker di setiap toko yang ada di Taiwan. Dengan adanya aplikasi ini, masyarakat dapat dengan mudah memantau ketersediaan masker di toko terdekat, lokasi toko dan seberapa jauh jarak toko tersebut dari rumahnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved