Breaking News:

Berita Luar Negeri

Setelah Muslim Uighur, China Mulai Tekan Muslim Utsul di Hainan, Larang Penggunaan Jilbab

Persekusi kaum Muslim China oleh Beijing semakin membesar dan melebar ke wilayah lain di negara itu, termasuk kaum kecil Muslim yang berada di selatan

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
SCMP.com
Sekelompok gadis Muslim Utsul mengenakan jilbab sambil membaca buku pelajaran di luar Sekolah Tianya Utsul, dengan dikelilingi oleh petugas polisi. Mereka dilarang menempuh pendidikan jika jilbab masih dikenakan 

SERAMBINEWS.COM – Saat ini, perhatian dunia sedang terfokus pada perlakuan China terhadap kaum minoritas Muslim Uighur di Xinjiang.  

Namun, persekusi kaum Muslim China oleh Beijing semakin membesar dan melebar ke wilayah lain di negara itu, termasuk komunitas kecil Muslim yang berada di selatan.

Langkah terbaru yang dilakukan pemerintah China adalah, melarang penggunaan jilbab dan pakaian yang berbau agamis di sekolah dan kantor pemerintah kepada Muslim Utsul.

Muslim Utsul merupakan komunitas yang kurang dikenal, memliki sekitar 10.000 orang yang berbasis di Sanya, sebuah kota di provinsi pulau Hainan, hampir 12.000 km dari Xinjiang.

Melansir dari South China Morning Post, Selasa (29/9/2020), Dokumen Partai Komunis juga menunjukkan pihak berwenang akan meningkatkan pengawasan mereka terhadap penduduk di lingkungan Muslim.

Dokumen partai Komunis itu meminta untuk "menyelesaikan masalah" dan pembatasan yang lebih ketat pada penggunaan pakaian muslim dan arsitektur "Arab" akan diberlakukan.

Perintah pelarangan hijab di sekolah memicu protes dari sekolah-sekolah di lingkungan Muslim Utsul awal bulan ini.

Nathalie Holscher Bagikan Kebahagiaan sebagai Muslimah, Hapus Foto Seksi Usai Jadi Mualaf

Gambar serta video yang beredar di media sosial China menunjukkan, sekelompok gadis mengenakan jilbab membaca buku pelajaran di luar Sekolah Tianya Utsul, sambil dikelilingi oleh petugas polisi.

“Dalam aturan resminya adalah bahwa tidak ada etnis minoritas yang dapat mengenakan pakaian muslim di lingkungan sekolah, tetapi etnis minoritas lainnya (di Sanya] tidak mengenakan pakaian muslim dalam kehidupan sehari-hari mereka

sehingga tidak ada bedanya bagi mereka, tetapi bagi kami jilbab adalah bagian yang tidak terpisahkan.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved