Breaking News:

Salam

Perhatikan UMKM Agar Mereka Mampu Bertahan  

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, memberi peralatan kerja kepada sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)

BIRO PERS SEKRETARIAT PRESIDEN
Presiden Joko Widodo memberikan sambutan pada acara penyerahan bantuan produktif usaha mikro kepada para pelaku usaha mikro dan kecil Aceh di Pusat Layanan Usaha Terpadu KUMKM Provinsi Aceh, Kota Banda Aceh, Selasa (25/8/2020). 

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, memberi peralatan kerja kepada sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak Covid‑19. "Bantuan ini saya harapkan dapat membantu pelaku UMKM. Makannya peralatan ini harus dimanfaatkan sebaik‑baiknya dan jangan dijual atau dipindahtangankan kepada orang lain," pesan Aminullah Usman.

Dampak Covid‑19 ini memang teramat sulit bagi UMKM, bahkan bisa digolongkan sebagai kejadian luar biasa yang tak pernah diprediksi sebelumnya. Sangatlah ironis nasib UMKM yang harus menanggung getirnya usaha akibat Covid‑19.

Karenanya, kita mengapresiasi perhatian Wali Kota Banda Aceh kepada pelaku UMKM. Menurut pengamatan banyak pihak, saat ini kondisi UMKM umumnya "hidup segan mati tak mau". Pandemi Corona ini bukan hanya mengancam keselamatan jiwa manusia, tapi juga ternyata  berdampak mematikan berbagai aktivitas bisnis pelaku UMKM.

UMKM itu hidup dan berkembang di tengah padatnya mobilitas manusia, Maka, ketika mobilitas masyarakat dibatasi, pelaku UMKM langsung merasakan pukulan hebat, yakni sepi konsumen. Apa boleh buat, pemerintah memang harus memutuskan pilihan, antara kepentingan ekonomi atau keselamatan warga negara. Sudah pasti dengan penuh perhitungan dan konsekuensi risikonya, keselamatan warga negara adalah di atas segala‑galanya.

Menoleh ke belakang, pada krisis ekonomi 1998 dan 2008, tatkala perusahaan‑perusahaan skala besar banyak yang tumbang, sebaliknya sektor UMKM tampil sebagai penyelamat dan penopang perekonomian nasional. Menurut pemerhati, ketangguhan UMKM menjadi modal utama, membawa perekonomian nasional selamat dari krisis dan perlahan tapi pasti perekonomian kita dapat pulih kembali. UMKM saat itu mampu menggerakkan ekonomi akar rumput dan menjaga daya beli masyarakat. Namun, kini kondisinya jauh berbeda kala pandemi Covid‑19 melanda. UMKM tak lagi tangguh, lumpuh, tidak dapat lagi diandalkan sebagai penopang perekonomian bangsa. Pangsa pasar yang dimilikinya, berupa kebutuhan masyarakat sehari‑hari, baik sandang maupun pangan, menyempit.

Dengan kondisi ini, UMKM praktis tidak memiliki kontribusi dalam menjaga pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. Berbanding terbalik dengan kondisi di kala normal, di mana UMKM menyumbang 60% produk domestik bruto (PDB) secara nasional dan pertumbuhan ekonomi yang ditopang dari konsumsi rumah tangga dominan digerakkan sektor ini. Termasuk sumbangsihnya terhadap penyerapan tenaga kerja yang mencapai 96% dari 133 juta angkatan kerja secara nasional serta menyumbang 14% dari total ekspor.

Dan, bila pandemi ini masih berkepanjangan, aktivitas usaha UMKM akan mati suri, dampaknya angka kemiskinan dan pengangguran akan semakin tinggi, yang tentu akan menjadi beban sosial yang harus dipecahkan pemerintah.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengingatkan, di tengah lesunya ekonomi akibat pandemi, ada dua ciri UMKM yang bisa bertahan. Pertama adalah UMKM yang sudah terhubung dengan ekosistem digital dengan memanfaatkan marketplace‑marketplace di Indonesia. Banyak saat ini UMKM yang sudah berjualan di marketplace seperti di Bukalapak, Lazada, dan lainnya.

Ada 13 persen UMKM yang sudah tergabung di ekosistem digital, sisanya 87 persen masih melakukan penjualan secara offline. "Jadi saya kira ekonomi digital ini memang harus dipercepat. Apalagi kalau dilihat berdasarkan data yang saya terima penjualan online di tengah pandemi itu naik 18 persen," kata Teten.

Lalu yang kedua adalah pelaku UMKM yang berhasil mengadaptasikan bisnisnya dengan mengeluarkan produk‑produk inovasi. Misalnya saja saat ini banyak UMKM yang harus banting setir, dari berjualan produk‑produk tas dan baju jadi jualan masker kain. Mereka pun menjualnya di online, dan pembelinya lebih banyak.

Oleh sebab itu, Pemerintah saat ini sedang gencar mendorong pelaku UMKM untuk Go‑Digital, dengan memberikan pelatihan‑pelatihan kepada pelaku UMKM melalui berbagai program. Bagaimana dengan UMKM di Aceh yang kebanyakan belum tersentuh digital? Inilah yang menjadi tugas berat pemerintah di Aceh. Semoga ada solusinya.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved