Breaking News:

Kilas G30S PKI

Kesaksian Penggali Sumur Lubang Buaya, Tercium Bau Busuk hingga Menangis Temukan Potongan Mayat

Ia kaget saat tiba di lokasi melihat banyak tentara bersenjata dengan baret merah dan melihat tujuh kawannya sedang memacul kebun.

Penulis: Seni Hendri | Editor: Faisal Zamzami
Youtube Kurator Museum
Yusuf, salah satu warga yang ikut menggali Lubang Buaya, menceritakan kisahnya kepada Drs. Imam Wardoyo dan Suharjo yang mewawancarainya pada tanggal 11 Juni 1999 di Kelurahan Lubang Buaya, Jakarta Timur. 

SERAMBINEWS.COM – Kisah tentang kekejaman PKI selalu mengemuka pada setiap pertemuan bulan September dan Oktober.

Pada tahun 1965, hari-hari pada akhir September dan awal Oktober adalah hari-hari yang penuh duka dan kisah kelam.

Pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari, Indonesia diguncang peristiwa penculikan 6 orang perwira tinggi dan 1 orang perwira pertama Angkatan Darat.

Peristiwa kelam 55 tahun itu dikenal dan dikenang dengan nama Gerakan 30 September atau G30S/PKI.

Kudeta gagal itu menyebabkan gugurnya sejumlah perwira tinggi AD, anggota Brimob, serta putri AH Nasution, Ade Irma Suryani.

Jasad 6 orang perwira tinggi dan 1 orang perwira pertama Angkatan Darat ditemukan di dalam sumur tua yang dikenal dengan nama lubang buaya.

Dua jenderal gugur ditembak saat diculik di rumah dinasnya, mayatnya diseret ke dalam truk dan dibawa ke Lubang Buaya, yaitu:

1. Jenderal TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)

2. Mayjen TNI Donald Izacus Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik) gugur ditembak saat diculik di rumah dinasnya, mayatnya diseret ke dalam truk dan dibawa ke Lubang Buaya

Lima lainnya diculik dan mengalami penyiksaan sebelum ditembak dan mayatnya dikubur di dalam Lubang Buaya, yaitua:

3. Letjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)

4. Letjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD Bidang Perencanaan dan Pembinaan)

5. Letjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD Bidang Intelijen)

6. Mayjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal AD)

7. Kapten Pierre Tendean (ajudan AH Nasution).

Jenderal TNI Abdul Haris Nasution berhasil meloloskan diri walau kakinya terkena peluru.

Seperti tertuang dalam buku biografi Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009), selain tujuh perwira tinggi dan menengah itu, pasukan yang ditugaskan menculik jenderal itu juga menembak mati Aipda Karel Satsuit Tubun (anggota Brimob yang bertugas di rumah Wakil Perdana Menteri II Dr J, Leimena).

Ade Irma Nasution, putri bungsu AH Nasution, juga menjadi korban dan meninggal dunia akibat tembakan personel pasukan Pasopati Tjakrabirawa.

Di luar Jakarta, oknum pasukan Batalion L juga menculik Brigjen TNI Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas) dan Kolonel Raden Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Kodam VII/Diponegoro) dari rumah dinas masing-masing.

Keduanya disiksa dan dibunuh, lalu dimasukkan ke sebuah lubang di tengah rawa di belakang Markas Batalion L di Kentungan, sekitar 6 kilometer sebelah utara Kota Yogyakarta.

Kareena Kapoor Mulai Merasa Kuat Kembali Saat Memasuki Lima Bulan Kehamilan

Perang Armenia dan Azerbaijan Makin Sengit, Giliran Kota Ganja Dihujani Roket

Kesaksian Penggali Lubang Buaya

Kembali ke Lubang Buaya, mayat para jenderal itu ditemukan di lubang buaya pada tanggal 3 Oktober 1965 tengah malam.

Proses pengangkatan jenazah yang telah membusuk itu baru selesai keesokan harinya yaitu pada 4 Oktober 1965.

Sehari setelahnya, tanggal 5 Oktober 1965, jenazah para jenderal dan Kapten Tendean dimakamkan dalam upacara militer di Taman Makam Pahlwan, Kalibata.

Tak mudah bagi RPKAD untuk menemukan jasad para pahlawan revolusi itu.

Mereka hanya mempunya informasi dan kesaksian Agen Polisi Dua Sukitman, yang sempat diculik pasukan Pasopati ketika berpatroli tanggal 1 Oktober 1965 Subuh di dekat rumah DI Panjaitan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Sukitman yang berhasil lolos dari sekapan penculiknya mengabarkan para jenderal dibawa ke Desa Lubang Buaya.

Saat itu wilayah yang kini masuk Jakarta Timur ini masih sepi dan masih berupa kebun dan hutan, termasuk hutan karet.

Hanya ada 13 rumah yang terpencar jauh satu sama lain dan satu sumur tua.

Kondisi itulah dimanfaatkan para simpatisan PKI dan menjadikan basis berkumpul serta mengusir warga.

Lebih-lebih, Sukitman tak tahu persis tempatnya.

Dibantu warga, pasukan RPKAD yang dipimpin Letda Sintong Panjaitan Komandan Peleton 1/A Kompi Tanjung, pada Minggu, 3 Oktober 1965, menyisir seluruh tempat yang ada.

Beberapa kali mereka menemukan gundukan tanah yang diduga sebagai timbunan baru, tapi gagal.

Baru setelah itu ada seorang warga menunjukkan tempat lain di bawah pohon pisang, berupa sumur tua yang sudah ditimbun dan disamarkan.

Yusuf adalah salah satu warga yang ikut menemukan dan menggali sumur maut itu.

Kala itu, Yusuf yang masih berusia 16 tahun, adalah anggota Hansip di Desa Lubang Buaya.

Kesaksian Yusuf ini diceritakan kembali kepada Drs. Imam Wardoyo dan Suharjo yang mewawancarainya pada tanggal 11 Juni 1999 di Kelurahan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Video wawancara eksklusif ini diupload ke Youtube oleh Channel Kurator Museum pada tanggal 26 Jun 2020.

“Kameramen: Aceh Yulius Faisal. Alat rekam: Sony DCR-SR58E. Piranti sunting video: Movavi Video Editor 20.3.0,” tulis Kurator Museum dalam keterangan video itu.

Dalam wawancara itu, Yusuf bercerita awalnya dia diminta lurah untuk membantu membetulkan jembatan.

Ia sama sekali tak tahu jika tugas yang dijalaninya ini akan tercatat dalam sejarah perjalanan Bangsa Indonesia.

Dengan membawa cangkul, Yusuf bergegas naik ke mobil pak Lurah yang menjemputnya dan menuju lokasi.

Ia kaget saat tiba di lokasi melihat banyak tentara bersenjata dengan baret merah dan melihat tujuh kawannya sedang memacul kebun.

“Disitu saya lihat ada bang Ambar Suparyono, Mahmud, Mawih, saya dateng ama Pane,” ucap Yusuf dalam video itu.

Di lokasi, Yusuf bersama delapan orang diperintahkan menggali beberapa tempat yang mencurigakan.

Hingga kemudian mereka menemukan sebuah lokasi mirip sumur, tapi ditanami pohon pisang.

Di situ juga ditemukan sayuran, potongan kain merah, kuning, hijau.

“Terus ada serombongan datang bilang persisnya di Sumur ini. Saya gatau siapa, berpakaian tentara, ada juga pakaian coklat, enggak tau siapa,” imbuhnya.

Usaha yusuf dan bersama terus menggali sumur tersebut sampai akhirnya waktu gelap.

Di antara mereka pun sudah ada yang hampir pingsan lantaran kelelahan dan tak makan ataupun minum.

“Mawi dari bawah (sumur) udah lemes setengah pingsan, kita dari siang kan. Namanya minum makan enggak, tentara juga enggak sama,” jelasnya.

Setelah hampir jam 11 malam galian sumur terus menemukan sampah berupa daun kering, abu, potongan bujur, kayu kecil hingga sampah basah lagi.

“Dan dari kejauhan kita melihat panser masuk (ke lokasi). Pasukan item-item, pasukan katak terus melakukan penggalian.

Kemudian kita mendengar melihat beberapa petugas tadi yang jalan-jalan cari air cuci tangan basah karena lumpur, kabarnya ngangkat mayat,” tandasnya.

Para tentara akhirnya pergi dari Lubang Buaya usai berhasil menemukan mayat tujuh jenderal yang sebelumnya dibuang ke sumur tua di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Saat itu, Yusuf dan teman-temannya tak tahu bahwa sumur yang mereka gali itu adalah tempat pembuangan jasad enam jenderal dan satu pamen korban keganasan PKI.

Yusuf hanya ingat ada kejadian menarik, ketika salah satu dari temen Yusuf harus menyumpal hidup dengan bubuk kopi.

Bahkan ada juga temannya yang kesurupan.

Kawan Yusuf yang bernama Pane terus menangis setelah menemukan potongan tubuh mayat.

Simak video di bawah ini tentang kesaksian Yusuf, sang penggali Lubang Buaya.

Dalam buku biografi Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009) dikisahkan, saat RPKAD bersama warga melakukan penggalian, ditemukan timbunan dedaunan segar, batang pohon pisang dan pohon lainnya.

Mereka semakin yakin lubang itu adalah lubang jenazah para jenderal ditimbun karena menemukan potongan kain yang biasa digunakan sebagai tanda oleh pasukan Batalion Infanteri 454/Banteng Raider dari Jawa Tengah dan Batalion Infanteri 530/Raiders dari Jawa Timur.

Ketika kedalaman sudah 8 meter, tercium bau busuk.

Malam tanggal 3 Oktober 1965 semakin larut, ketika seorang personel RPKAD berteriak menemukan kaki yang tersembul ke atas dari dalam timbunan.

Sintong Panjaitan meminta penggalian terus dilakukan hingga jenazah para jenderal terlihat agak jelas di kedalaman 12 meter.

Temuan itu langsung dilaporkan kepada Lettu Feisal Tanjung, Komandan Kompi Tanjung Batalion 2 Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD), dan diteruskan kepada Panglima Kostrad Mayjen Soeharto.

Lettu Feisal Tanjung yang ikut terlibat operasi penumpasan PKI itu belakangan menjabat sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (kini Tentara Nasional Indonesia/TNI).

Sementara juniornya Sintong Panjaitan, pernah menjabat sebagai Penasihat Presiden Bidang Pertahanan dan Keamanan di era Presiden BJ Habibie pada 1999.(*)

Vishal Kirti Bagikan Kenang-kenangan Foto Pesta Pernikahan Bersama Sushant Singh Rajput

Shekhar Suman Prihatin Melihat Makam Aktor Irrfan Khan Tidak Terawat, Sampah Berserakan

VIRAL Pria Ini Ngaku Hijrah dari Dunia LGBT, Cobaan Digoda Cowok-cowok Ganteng, Terjadi Perang Batin

(Artikel ini telah tayang di Serambiwiki.tribunnews.com)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved