Internasional

Bangladesh Berlakukan Hukuman Mati Bagi Pemerkosa, Setelah Aksi Protes Berhari-hari

Pemerintah Bangladesh memberlakukan hukuman mati bagi pemerkosaan pada Senin (12/10/2020). Setelah berhari-hari protes yang dipicu oleh serangkaian

Editor: M Nur Pakar
AFP/HAZEM BADER
Para demonstran turun ke jalan untuk memprotes penangkapan empat pemimpin mahasiswa dalam demo mengutuk pemerkosaan geng di Dhaka, Bangladesh, Senin (12/10/2020). 

SERAMBINEWS.COM, DHAKA - Pemerintah Bangladesh memberlakukan hukuman mati bagi pemerkosaan pada Senin (12/10/2020).

Setelah berhari-hari protes yang dipicu oleh serangkaian serangan seksual, kata pemerintah.

Demonstrasi telah pecah di seluruh negeri setelah rekaman mengerikan dari sekelompok pria yang menelanjangi dan menyerang seorang wanita menjadi viral di media sosial.

Klip itu memicu kemarahan di negara Asia Selatan itu.

Di mana para aktivis mengatakan hanya sebagian kecil dari korban pelecehan seksual yang mencari keadilan.

Perdana Menteri Sheikh Hasina juga menghadapi protes di dalam jajaran partai yang berkuasa atas kelambanannya, sebelum pemerintah menyetujui proposal hukuman mati pada sebuah pertemuan di Dhaka.

Baca juga: Lebanon Menunjuk Tim Pembicaraan Perbatasan Laut dengan Israel

Menteri Kehakiman Anisul Huq kepada AFP, Senin (12/10/2020) mengatakan undang-undang tersebut akan diberlakukan oleh presiden pada Selasa (13/10/2020).

Sebelumnya hukuman maksimal untuk pemerkosaan adalah penjara seumur hidup.

Kemarahan nasional atas masalah ini telah meledak sejak bulan lalu, ketika anggota sayap mahasiswa partai yang berkuasa ditangkap dan didakwa dalam kasus pemerkosaan geng terpisah.

Para pengunjuk rasa di ibu kota Dhaka dan tempat lain menuntut hukuman yang lebih keras untuk pemerkosaan, pengadilan yang lebih cepat bagi pemerkosa, dan diakhirinya apa yang mereka lihat sebagai budaya impunitas.

Baca juga: Oman Berlakukan Kembali Jam Malam, Perang Melawan Covid-19

Beberapa juga menyerukan pengunduran diri Hasina, sebuah pertunjukan pembangkangan publik yang tidak biasa di negara di mana kritik terbuka terhadap perdana menteri semakin langka.

Demonstrasi berlanjut pada Senin (12/10/2020) di Dhaka meskipun hujan lebat, dengan ratusan orang mengutuk penangkapan pemimpin mahasiswa baru-baru ini oleh pihak berwenang yang berusaha menekan protes.

Bangladesh telah menggantung 23 orang sejak 2013 sementara setidaknya 1.718 lainnya berada di hukuman mati, menurut kelompok hak asasi lokal.(*)

Baca juga: Cuaca Buruk, Pelayaran di Pelabuhan Calang Ditunda Sampai Waktu tidak Ditentukan

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved