Pemusalaran Jenazah Covid-19 Dilaksanakan Sesuai Protokol dan Syariah Islam
Dalam menangani jenazah Covid-19, secara medis Aceh tentu saja tetap mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan nasional
BANDA ACEH – Dalam menangani jenazah Covid-19, secara medis Aceh tentu saja tetap mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan nasional. Namun dikombinasikan dengan syariat islam, artinya proses-proses pemusalaran jenazah harus sesuai syariah.
“Beberapa kali kita sosialisasikan dan ditinjau langsung oleh para ulama,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh, Dr dr Safrizal Rahman, M.Kes, SpOT saat menjadi narasumber dalam dialog “Suara Publik: Keikutsertaan Ulama, Umara dan Medis Dalam Upaya Mencegah Covid-19”, yang ditayangkan langsung melalui TVRI Aceh, Selasa (13/10/2020). Acara itu dipandu oleh presenter, Ida Almaddany.
Dalam kesempatan itu juga hadir narasumber lainnya yaitu Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani, S.ST, M.Kes, dan Tgk H Muhammad Yusuf (Tu Sop).
Dikatakan Dr Safrizal, memang secara nasional dibeberapa tempat keluar isu bahwa terhadap jenazah tidak dilakukan upaya-upaya sesuai syariah yang dilaporkan oleh pihak keluarganya. Sehingga isu ini menjadi besar, dan masyarakat Aceh pun terkena dampaknya akibat pemberitaan dari luar.
“Tapi kita yakin di Aceh dilakukan dengan metode yang sudah direkomendasikan oleh MPU, dan dikatakan sudah sesuai syariah. Bahkan sudah disosialisasikan melalui pemerintah daerah. Artinya, walaupun diluar Aceh kita ada mendengar informasi seperti itu, tetapi insya Allah tidak ada orang di Aceh yang lari dari syariah, karena itu kan dosanya sangat luar biasa bagi kita,” jelasnya.
Sementara Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani mengatakan ada tiga strategi yang dilakukan dalam penanganan Covid-19, yaitu pertama, putuskan penularan jangan sampai terjadi penularan. Kedua, berikan pelayanan optimal bagi mereka yang terinfeksi. Ketiga, tangani dampaknya termasuk dampak ekonomi, sosial dan lainnya.
Dikatakan SAG, sapaan akrabnya, pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit terhadap pasien Covid-19 masih optimal. Namun, apabila korban terus bertambah maka pelayanan yang optimal ini dikhawatirkan akan tidak mampu diberikan lagi, sehingga angka kematian juga akan naik.
Menurutnya, ini merupakan perilaku baru bagi masyarakat untuk memakai masker dan sesuatu yang tidak nyaman. Namun harus tetap digunakan untuk mencegah penularan Covid-19.
“Negara berkembang seperti negara kita penularan penyakit-penyakit menular juga tinggi, karena kesadaran untuk mencegah masih rendah. Apalagi masuk Covid-19, jadi kita ini bebannya berlipat-lipat ganda karena itu. Harus dipikirkan bersama bahwa semua orang itu menjadi juru bicara untuk pencegahan Covid-19,” sebutnya.
Terkait dengan bagaimana peran ulama dalam membimbing masyarakat bahwa protokol kesehatan itu penting, guna memutuskan mata rantai Covid-19, Tu Sop menyampaikan harus didukung pula dengan kondisi yang rasional.
“Misalnya ada yang berpikir semua yang (kasus positif) meningkat itu pertanda penanganannya bagus, ada tesnya yang berjalan. Sedangkan yang tidak meningkat bukan tidak ada, enggak berjalan rapidnya atau sebagainya. Artinya, mereka tidak percaya yang nilainya masih rendah itu, apakah sudah diperiksa secara general,” katanya.
Dikatakan, harus dicarikan formula untuk meyakinkan mereka terlebih dahulu. Tindakan preventif itu perlu disosialisasikan.
“Menurut saya perlu adanya komunikasi yang efektif saling melengkapi dan mendukung dalam pencegahan Covid-19 tersebut sehingga para tokoh agama dan tokoh lainnya bisa satu kata dalam menghadapi pandemi”, ujar Tu Sop.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pemusalaran-jenazah-covid-19-dilaksanakan-sesuai-protokol-dan-syariah-islam.jpg)