Breaking News:

Salam

WHO Peringatkan  Pemimpin Dunia  

Seorang dokter Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan para pemimpin dunia untuk menghentikan lockdown atau penguncian sebuah kota

tasnimnews
Kepala Darurat WHO, Richard Brennan 

Seorang dokter Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan para pemimpin dunia untuk menghentikan lockdown atau penguncian sebuah kota atau negara akibat pandemi virus Corona. "Penguncian hanya memiliki satu konsekuensi yang tidak boleh Anda remehkan, dan itu membuat orang miskin menjadi semakin miskin. Kami di Organisasi Kesehatan Dunia tidak menganjurkan penguncian sebagai cara utama pengendalian virus ini," kata Dr David Nabarro. Namun, dokter dari badan kesehatan dunia itu tidak mengaitkan dengan berapa banyak nyawa yang terselamatkan oleh kebijakan lockdown.

Menurut Nabarro, satu-satunya alasan WHO menyarankan adanya lockdown adalah “untuk memberi Anda waktu untuk mengatur ulang, menyusun kembali, menyeimbangkan kembali sumber daya Anda, melindungi petugas kesehatan Anda yang kelelahan, tetapi pada umumnya, kami lebih suka tidak melakukannya.”

Maret lalu WHO memang menyarankan adanya lockdown untuk cegah penyebaran virus Corona. Namun, selama tujuh bulan ini penguncian telah digunakan berbagai negara dan kota sebagai salah satu cara untuk mengendalikan virus Corona.

Kritik utama Dr Nabarro terhadap penguncian wilayah akibat Corona setelah melihat dampak global yang membuat kemiskinan meningkat tajam di berbagai negara. “Lihat saja apa yang terjadi dengan industri pariwisata di Karibia, misalnya, atau di Pasifik karena orang-orang tidak berlibur. Lihat apa yang terjadi pada petani kecil di seluruh dunia. Lihat apa yang terjadi dengan tingkat kemiskinan. Kita mungkin memiliki dua kali lipat kemiskinan dunia pada tahun depan. Setidaknya dua kali lipat dari malnutrisi anak bakal muncul."

Karena itulah, Dr Nabarro menganjurkan pendekatan baru untuk mengendalikan virus. Ia meminta kepada semua pemimpin dunia untuk berhenti menggunakan lockdown sebagai metode kendali utama. WHO menyarankan untuk mengembangkan sistem yang lebih baik untuk melakukannya. Bekerja sama dan belajar dari satu sama lain menjadi salah satu kunci sukses atasi pandemi Corona.

Baru-baru ini, para ahli kesehatan dunia membuat petisi yang disebut Deklarasi Great Barrington, yang mengatakan bahwa lockdown adalah kerusakan yang tidak dapat diperbaiki. “Sebagai ahli epidemiologi penyakit menular dan ilmu kesehatan masyarakat, kami memiliki keprihatinan besar tentang dampak merusak kesehatan fisik dan mental dari kebijakan Covid-19 yang berlaku, dan merekomendasikan pendekatan yang kami sebut Perlindungan Terfokus,” bunyi petisi yang sudah ditandatangani 12.000 ahli kesehatan dunia.

Dalam petisi yang disampaikan Sunetra Gupta dari Universitas Oxford, Jay Bhattacharya dari Universitas Stanford, dan Martin Kulldorff dari Universitas Harvard, para ahli kesehatan menegaskan kebijakan penguncian saat ini menghasilkan efek yang menghancurkan pada kesehatan masyarakat jangka pendek dan panjang.

Sesungguhnya, banyak negara dan kota memang sudah memprediksi sejak awal dampak kebijakan lockdown dan PSBB. Karenanya berbagai program membantu rakyat kecikl diluncurkan secara langsung maupun tak langsung, Di antaranya ada bantuan langsung tunai kepada pekerja bergaji kurang dari Rp 5 juta perbulan, bantuan untuk pendidikan anak-anak sekolah dan mahasiswa, serta berbagai program lainnya.

Akan tetapi, memang program itu tak cukup kuat untuk menahan laju peningkatan kemiskinan secara global. Oleh sebab itu, upaya memaksa masyarakat patuh pada protokol kesehatan akan lebih baik ketimbang melarang masyarakat beraktivitas di luar rumah. Sebab, yang ditakutkan sejak awal adalah kelonggaran yang diberikan pemerintah biasanya membuat masyarakat lengah dan menganggap seolah-olah Corona sudah berlalu.

Harapan kita tentu saja dunia segera menemukan vaksin yang ampuh untuk membunuh Corona yang sudah merajalela selama tujuh bulan terakhir. Dan, jangan lupa, tetap disiplin memakai masker, menjaga jarak, dan cuci tangan pakai sabun.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved