Breaking News:

Salam

Cerdaslah Supaya tidak Jadi Korban Penipuan  

Polisi di Aceh Utara kembali menerima sejumlah laporan pengaduan dari warga yang menjadi korban penipuan jual beli barang via online

For Serambinews.com
Kompol Ahzan, didampingi Kasat Reskrim, AKP Indra T Herlambang memperlihatkan barang bukti pada kasus dugaan penipuan secara online. 

Polisi di Aceh Utara kembali menerima sejumlah laporan pengaduan dari warga yang menjadi korban penipuan jual beli barang via online. Padahal, ketika kasus ini heboh di kabupaten itu tahun lalu yang memakan banyak korban, polisi sudah mengingatkan masyarakat supaya berhati-hati dalam berbelanja secara online, terutama yang menawarkan barang dengan harga yang sangat murah.

Menurut polisi, korban yang tertipu mayoritas karena tertarik dengan penawaran harga murah dari pelaku. Kasus penipuan pembelian barang murah seperti handphone (HP) dan mobil serta barang lainnya mendominasi kasus penipuan via online yang pernah ditangani penyidik Reskrim Polres Aceh Utara.

Pelaku yang melakukan penipuan tersebut kebanyakan menggunakan akun pribadi, bukan akun perusahaan. Bahkan ada yang menggunakan modus mengirim pesan singkat melalui WhatsApp dan juga menggunakan kasus akun media sosial. “Kebanyakan jual beli barang yang dilelang melalui akun media sosial dengan harga murah, semisal laptop, HP. Setelah tersambung dengan korban, pelaku langsung meminta dikirim uang sebagai syarat untuk dikirim barang,” kata polisi.

UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) No. 11/2008 sesungguhnya telah melindungi masyarakat dari kejahatan yang berbasis teknologi informasi seperti perjudian, pencemaran nama baik/penghinaan, muatan yang melanggar kesusilaan maupun pemerasan/pengancaman.

Pada awal 2020, Polres Lhokseumawe berhasil mengungkap satu kasus penipuan dalam jual beli handphone secara online. Ternyata, pelakunya bersindikat. Ada yang berdomisili di Aceh dan sebagian lainnya berdomisili di Medan. Mereka membuat skenario sangat rapi yang dieksekusi secara matang. Mereka tahu bagaimana mengincar calon korban agar kemudian bisa ditipu.

Dari kasus itu, yang ingin kita katakan bahwa para penipu itu bekerja dengan perencanaan yang sangat matang. Mereka sudah mempelajari betul data dan mungkin juga kekayaan calon korbannya. Jadi, sebagian penjahat dalam jual beli online itu tidak bekerja amatiran tapi berlagak seperti pebisnis sungguhan untuk menipu korbannya.

Sebaliknya, yang menjadi kelemahan hingga membuat banyak orang menjadi korban penipuan atau kejahatan secara online adalah karena pengguna jejaring sosial itu sendiri yang belum cerdas. Sebab, meski secara teknologi bersifat netral, jejaring sosial bisa menjadi pisau bermata dua. Bisa dimanfaatkan dalam meningkatkan peran aktif masyarakat dalam proses demokrasi dan menawarkan berbagai layanan yang bersifat membangun, tetapi juga bisa bersifat merusak.

Karena berpotensi digunakan untuk kriminalitas, pengguna jejaring sosial yang masih awam perlu diberdayakan agar tidak menjadi sasaran empuk penjahat internet. Karena bersifat anonimous, hendaknya jangan percaya begitu saja dengan jenis kelamin maupun data‑data tertentu dari orang yang ingin berteman atau yang menawarkan barang-barang murah kepada kita.

Data‑data kita pun harus dijaga agar tidak semua dibuka dan dapat diakses semua orang. Ajakan orang yang baru dikenal hendaknya dipastikan dulu siapa orang yang mengajak, latar belakangnya, tujuannya dan hal‑hal lainnya agar kita tidak menjadi korban kejahatan seperti penipuan maupun penculikan.

Apalagi sekarang anak‑anak sekolah pun sudah tergabung juga dalam media jejaring sosial, yang sesungguhnya tidak diperkenankan. Maka, jangan beri kesempatan penjahat untuk menipu, menculik dan hal lainnya yang menggunakan media jejaring sosial. Berhati-hatilah dan manfaatkanlah internet atau jejaring sosial secara cerdas.

Dan, atas pengaduan-pengaduan masyarajat yang sudah menjadi korban penipuan dalam jual beli secara online, kita berharap pihak kepolisian bisa bekerja profesional untuk mengungkap dan menangkap para pelaku kejahatan itu. Kita yakin dengan profesionalitas polisi kasus-kasus itu bisa terungkap.

Sedangkan masyarakat, seperti sudah sering diingatkan, supaya berhati-hati berbelanja secara online, terutama yang menawarkan barang dengan harga murah yang tidak masuk akal. Demikian juga terhadap pengumuman-pengumuman kemenangan undian macam-macam yang hampir setiap hari masuk ke handphone kita, jangan sampai tertipu!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved