Breaking News:

Dilatih Dosen Unsam Langsa, Dengan Uang Rp 6 Ribu, Masyarakat Bisa Produksi Hand Sanitizer

Dosen Program studi (Prodi) MIPA Kimia Fakultas Teknik (FT) Universitas Samudra (Unsam), Langsa, kembali melatih masyarakat Aceh Tamiang

DOK UNSAM
Peserta pelatihan pembuatan hand sanitizer foto bersama dengan instruktur dan panitia di Kantor Datok Penghulu Raja Tuha, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, Rabu (14/10/2020). 

Ia memastikan, proses pembuatan hand sanitizer itu mudah dan aman. Sebab, sebelum melatih masyarakat, sebut Amri, dirinya bersama tim terlebih dulu melakukan uji coba menggunakan tutorial resmi dari WHO. “Kami memang menggunakan standar WHO, sehingga sudah pasti aman dan nyaman serta sudah dipakai di seluruh dunia,” kata Amri.

Dosen Program studi (Prodi) MIPA Kimia Fakultas Teknik (FT) Universitas Samudra (Unsam), Langsa, kembali melatih masyarakat Aceh Tamiang, tentang cara memproduksi sendiri hand sanitizer. Pelatihan ini sengaja diadakan di tengah meningkatnya kasus Covid-19 agar masyarakat tak lagi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan cairan yang berfungsi sebagai bahan alternatif membersihkan tangan ketika tidak ada air dan sabun.

Pelatihan yang berlangsung di Kantor Datok Penghulu Raja Tuha, Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang, pada Rabu (14/10/2020), itu diikuti sejumlah ibu rumah tangga, remaja, dan mahasiswa. Berbeda dengan materi pelatihan sebelumnya yang menggunakan bahan alami, kali ini tim dosen yang terdiri atas Yulida Amri dan Dewi Novianti, menggunakan bahan dari alkohol, hidrogen peroksida, gliserol, dan air suling.

“Kami sengaja menggunakan bahan berbasis alkohol karena ingin mengikuti formulasi yang dianjurkan WHO (Badan Kesehatan Dunia),” kata Yulida Amri, Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Unsam, kepada Serambi, Sabtu (17/10/2020).

Meski berbasis alkohol, Amri memastikan pembuatan hand sanitizer ini tak membutuhkan dana besar. Untuk menghasilan 100 mililiter (ml) cairan ini, sebutnya, hanya dibutuhkan biaya Rp 6 ribu. Jumlah itu, sambung Amri, jauh lebih murah dibanding harga hand sanitizer di pasaran yang berkisar Rp 15 ribu-Rp 30 ribu per mililiter. “Dibanding membeli di pasaran, tentu dengan membuat sendiri jauh lebih murah,” ujarnya.

Amri menambahkan, pelatihan membuat hand sanitizer yang dilakukan pihaknya ini merupakan salah satu tugas dosen untuk memenuhi Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di tengah meningkatnya wabah Covid-19, sambung Amri, mereka pun merasa perlu mengedukasi masyarakat tentang virus Corona dan melatih mereka cara membuat hand sanitizer secara mandiri.

Dalam proses pembuatan hand sanitizer tersebut, tim PKM yang dibantu mahasiswa mengajak masyarakat terlibat dalam semua tahapan mulai dari menyiapkan botol, pencampuran formula, dan pengemasan cairan hand sanitizer ke dalam botol. “Setelah mengikuti pelatihan ini, kita berharap masyarakat dapat memproduksi hand sanitizer minimal untuk kebutuhan sendiri sehingga tidak perlu lagi membeli di pasar,” harapnya.

Ia memastikan, proses pembuatan hand sanitizer itu mudah dan aman. Sebab, sebelum melatih masyarakat, sebut Amri, dirinya bersama tim terlebih dulu melakukan uji coba menggunakan tutorial resmi dari WHO. “Kami memang menggunakan standar WHO, sehingga sudah pasti aman dan nyaman serta sudah dipakai di seluruh dunia,” kata Amri.

Awalnya, beberapa peserta sempat takut meracik alkohol karena khawatir meledak. Namun, setelah diberi pemahaman bahwa bila alkohol dijauhkan dari api, ketakutan itu tidak akan terjadi. Dalam pelatihan yang berlangsung sekitar dua jam, 23 perserta akhirnya berhasil memproduksi hand sanitizer sebanyak 14 liter. Hand sanitizer itu kemudian dikemas dalam 141 botol dan semuanya diserahkan kepada peserta dan Ketua PKK Kampung Raja Tuha.

Sebelumnya, pelatihan serupa juga dilaksanakan oleh tiga dosen Fakultas Teknik Unsam. Pelatihan dengan peserta warga Kampung Sriwiyaja, Kecamatan Kota Kualasimpang, Aceh Tamiang, ini berlangsung pada Rabu (9/9/2020) lalu.

Bedanya, tiga dosen yang memandu pelatihan tahap pertama yaitu Nirmala Sari, Fajriani, dan Ida Ratna Nila, membuat hand sanitizer dengan bahan-bahan tanpa kandungan alkohol. “Kami menggunakan ekstrak daun salam sebagai alternatif pembersih cuci tangan bebas alkohol,” kata Nirmala, ketika itu. (rahmad wiguna)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved