Breaking News:

Salam

Kolaborasi Aceh‑Pusat Atasi Corona, Insya Allah Sukses  

Sejak medio pekan lalu, penanganan Covid‑19 di Aceh dilakukan dengan formula baru yang lebih intensif melalui kolaborasi Pemerintah Aceh dengan

Editor: bakri
Foto Humas dan Protokoler Setda Aceh
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah bersama jajaran menerima Tim Kemenkes RI untuk berkoordinasi penanganan Covid-19 di Aceh yang dipimpin Stafsus Menteri Kesehatan RI Bidang Peningkatan SDM Kesehatan dr Mariya Mubarika di Meuligoe Gubernur Aceh, Banda Aceh Rabu (14/10/2020). 

Sejak medio pekan lalu, penanganan Covid‑19 di Aceh dilakukan dengan formula baru yang lebih intensif melalui kolaborasi Pemerintah Aceh dengan Kemenkes RI. Satuan Tugas Penanganan Covid‑19 Aceh sudah menggelar pertemuan dengan Tim Kementerian Kesehatan untuk koordinasi dan kolaborasi dalam menekan penyebaran virus Corona di daerah ini.

Staf Khusus Kementerian Kesehatan RI, Maria Mubarika, menyatakan Aceh menjadi salah satu provinsi yang mereka beri perhatian khusus di luar 10 provinsi lainnya dalam penanganan Covid‑19. Ia mengatakan, Satgas Covid‑19 Pusat akan terus melakukan upaya‑upaya penguatan penanganan virus Corona, hingga laju penyebarannya di Aceh dapat berkurang secepatnya.

Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, menyambut baik dan mendukung penuh upaya Kemenkes membantu penanganan Covid‑19 di Aceh. Pihaknya siap bersinergi dengan Pemerintah Pusat dalam menghadapi masalah tersebut.

Nova menjelaskan, saat awal merebaknya virus di Aceh, pihaknya bersama Forkopimda juga langsung melakukan langkah strategis, yaitu, dengan menerapkan jam malam guna memperkecil pergerakan dan perkumpulan massa. Kebijakan tersebut, terbukti mampu menghalau penyebaran virus Corona di Aceh pada saat itu.

Tapi, sebagaimana kita tahu, kala pembatasan pergerakan massa diterapkan Pemerintah Aceh banyak yang komplain, termasuk dari kalangan wakil rakyat. Dan, setelah jam malam dicabut ditambah kesadaran masyarakat untuk patuh pada protokol kesehatan masih sangat rendah, maka virus Corona pun pelan‑pelan merebak di Aceh hingga melahirkan kluster‑kluster baru termasuk kluster keluarga. Dan, "booming"lah Covid‑19 di Aceh seperti sekarang ini. Catatan hingga 18 Oktober 2020, ada Aceh yang positif: 6551 orang, yang sembuh 4605, dan meninggal 233 orang.

Yang sangat mencemaskan, virus Corona bukan cuma menginfeksi dan membunuh banyak orang di Aceh, tapi pelan‑pelan juga sudah mematikan dan melemahkan banyak sisi kehidupan, terutama sosial dan ekonomi. Para pelaku bisnis dan pengamat ekonomi beberapa bulan lalu mengatakan perlambatan perekonomian di masa pendemi sudah membuat beberapa bisnis terancam bahkan sudah gulung tikar.

Demikian halnya dengan rumah sakit, tidak luput terkena dampak ancaman kolaps jika tidak dikelola secara baik. Manajemen rumah sakit perlu segera beradaptasi untuk berpikir secara kritis untuk mendapatkan langkah strategis agar dapat bertahan dalam jangka panjang dan mengembalikann keadaan dengan cepat, mengatasi kesulitan keuangan serta mengatasi situasi tertekan.

Kita tahu, ada banyak rumah sakit swasta di Aceh yang sudah melakukan langkah‑langkah efisiensi dengan memotong gaji pegawai dan merumahkan sebagian lainnya. Ini dilakukan sehubungan dengan berkurangnya pasien selama musim pandemi. Bukan karena tidak ada orang sakit, tapi masyarakat sekarang takut ke rumah sakit setelah sejumlah Puskesmas dan rumah sakit menjadi kluster penyebaran virus Corona yang ditandai dengan terinfeksinya para perawat dan dokter.

Jadi, pandemi Covid‑19 sudah menimbulkan gangguan kelangsungan pelayanan kesehatan, kepada masyarakat, sehingga perlu diambil langkah‑langkah untuk menyeimbangkan kebutuhan penanganan virus Corona dan tetap memastikan kelangsungan pelayanan kesehatan masyarakat tetap berjalan secara baik.

Pemerintah sudah menerbitkan protokol pencegahan covid‑19, yaitu protokol kesehatan dan lainnya. Agar protokol yang belum cukup baik diterima masyarakat ini, para pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat maupun daerah, hendaknya memang harus seirama dalam sosialisasi.

Masyarakat juga harus paham bahwa keluarga juga bisa menjalankan peran sebagai agen pencegahan penyebaran  Covid‑19. Keluarga bisa menjalani fungsi sosialisasi dengan  mengedukasi masyarakat serta orang‑orang di sekitarnya mengenai berbagai hal positif terkait penghentian dan pencegahan Corona.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved