Breaking News:

Salam

Pilpres AS di Tengah Demokrasi Buram  

Tiga tahun lalu, satu artikel di The Washington Post mengungkapkan, pada 2017, demokrasi Amerika Serikat tidak berjalan baik

AFP/JIM WATSON, SAUL LOEB
Ekspresi calon presiden dari Partai Demokrat Joe Biden (kiri) dan Presiden AS Donald Trump dalam debat panas di Cleveland, Ohio, AS, Selasa (29/9/2020) malam. 

Tiga tahun lalu, satu artikel di The Washington Post mengungkapkan, pada 2017, demokrasi Amerika Serikat tidak berjalan baik. Hanya mempertahankan status dan skor yang sama dengan tahun 2016, kala Donald Trump mampu memanfaatkan ketidakberdayaan para pemilih yang frustrasi karena stagnasi politik dan ekonomi AS. Namun, setelahnya,  kepresidenan Trump hanya mempolarisasi negara  lebih dalam. Orang Amerika tetap terpecah karena isu‑isu seperti imigrasi dan kebijakan ekonomi dan lingkungan.

Penulis laporan tersebut memperingatkan bahwa polarisasi ini memungkinkan kemerosotan demokratis lebih lanjut, terutama karena polarisasi mengarah pada pemerintah yang kurang fungsional, orang yang kurang mampu berkompromi dan berkumpul untuk memecahkan masalah besar. Kecenderungan menuju keberpihakan juga terkait dengan pergeseran kepercayaan pada pemerintah.

Isu itulah antara lain yang dieksploitir sehingga jalan Presiden Trump untuk kembali terpilih sebagai orang nomor satu AS semakin terjal. Dua minggu menjelang hari pemungutan suara pada 3 November, Trump tidak menunjukkan tanda‑tanda dia dapat mengejar ketertinggalannya yang jauh dari pesaingnya calon presiden (capres) Partai Demokrat Joe Biden yang unggul dua digit.

Mantan Wakil Presiden Barack Obama itu memimpin jauh dengan selisih 10,8 persen. Angka ini meningkat dari 10,3 persen pekan lalu. Suami Jill Biden itu digdaya dengan raihan 52,5 persen. Angka ini menjadikan Biden sebagai capres non‑petahana terkuat sejak survei ilmiah digelar pada 1936. Trump terpuruk dengan 41,7 persen. Presiden berusia 74 tahun itu tidak dapat meningkatkan raihan suaranya dari kisaran 41 hingga 43 persen. Keunggulan dua digit Biden juga terlihat pada dua survei nasional yang dirilis pekan lalu.

Survei NBC/The Wall Street Journal memberikan keunggulan 11 poin terhadap Biden yaitu 53 persen berbanding 42 persen. Angka ini tidak berbeda jauh dengan survei yang sama sebelumnya di mana Biden memimpin 53 persen berbanding 39 persen. Biden juga unggul jauh di sejumlah survei yang dilaksanakan berbagai lembaga.

Pakar pemilu AS Nate Silver yang menjalankan simulasi model pilpres FiveThirtyEight memberikan peluang yang sangat tinggi, yaitu 88 persen kepada Biden untuk memenangkan pilpres 2020 ini. Jalan Trump menuju angka 270 electoral votes memang semakin rumit. Taipan real estate ini tidak dapat memperkecil selisih dengan Biden di tiga negara bagian Rust Belt yang merupakan kunci kemenangannya pada Pilpres 2016. Data  The New York Times menunjukkan Trump tercecer dengan selisih 8‑9 poin di Pennsylvania, Wisconsin, dan Michigan. Tanpa tiga negara bagian ini, Trump harus mencari negara bagian lain yang dimenangkan Hillary Clinton pada pilpres 2016, seperti Minnesota dan New Hampshire. Namun, kabar buruknya adalah di dua negara bagian itu  Trump juga tertinggal dua digit menurut survei The New York Times.

Trump memang belum kalah hingga hasil pemilihan Presiden AS diumumkan awal November nanti. Tapi, tentang Trump akan kalah sudah diramal sejak dua tahun lalu, terutama oleh lawan politiknya, termasuk Joe Biden.  Seperti kita katakan di awal tadi, jika kelak Trump memang kalah, maka sebab utama kekalahannya antara lain karena ia tidak memimpin dalam iklim demokrasi yang sehat. Belakangan malah isu-isu rasialis berkembang hebat di AS hingga api membara di mana-mana oleh pengunjuk rasa yang antirasialis. Ini, menurut para pengamat politikl, membuat iklim demokrasi di AS kian buram.

Sekali lagi, Donald Trump belum kalah. Bahkan, berbagai hasil survei memperlihatkan data dirinya kalah telak, justru menjadi bahan ejekannya.  "Bisakah Anda membayangkan jika saya kalah? Aku tidak akan merasa begitu baik. Mungkin aku harus meninggalkan negara ini, entahlah." Dia juga berkali‑kali mengejek pencalonan yang dilakukan rivalnya ini dan menyebutkan, “Akan sangat memalukan apabila kalah dari mantan wakil presiden.”

Di tengah popularitasnya yang menurun, Trump juga dihujani kritik dari anggota partai pendukungnya. Sejumlah anggota Partai Republik mengkritik Trump habis-habisan. Namun, Donald Trump menanggapinya secara santai dengan mengatakan, “mereka orang-orang bodoh.” Nah!?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved