Breaking News:

Seniman Teater Aceh Teliti Seni Tradisi Mop-mop  

Seniman teater Aceh, T Zulfajri atau yang akrab disapa Tejo meneliti seni pertunjukan tradisi Aceh ‘Mop-mop’

Dokumen Pribadi
Seniman teater Aceh, T. Zulfajri atau Tejo saat mewawancarai beberapa seniman tradisi Mop-mop di Aceh Utara dan Bireuen, beberapa waktu lalu. 

BANDA ACEH - Seniman teater Aceh, T Zulfajri atau yang akrab disapa Tejo meneliti seni pertunjukan tradisi Aceh ‘Mop-mop’. Fokus penelitian dilakukan di Kabupetan Aceh Utara dan Bireuen. Tujuannya untuk pelestarian seni lakon yang diambang punah tersebut.

Untuk diketahui, Mop-mop adalah seni pertunjukan tradisi Aceh yang dimainkan oleh tiga orang, menampilkan bermacam kisah seputar persoalam keluarga, dengan gaya kocak dan beda dengan seni pertunjukan lainnya yang ada di Indonesia. "Di sebagaian wilayah lain di Aceh kesenian ini memiliki sebutan yang berbeda yaitu, Biola Aceh atau Apa Raoh," kata Tejo kepada Serambi, Rabu (21/10/2020).

Dia menjelaskan, dalam seni tradisi Mop-mop, seorang pemain memerankan sosok ayah, sekaligus sebagai syech, juga bertugas mengatur/mengontrol alur cerita sambil memainkan biola. Dua orang lain , berperan sebagai dara baro dan linto baro (pengantin baru).

Keunikan mop-mop, melibatkan banyak unsur seni yang harus dipahami seluruh pemain, seperti syair Aceh, pantun, hiem, gerak tari, musik dan lainnya. Semuanya dipadukan dalam satu pertunjukan.

"Generasi saat ini tidak ada lagi yang tahu tentang Mop-mop, beda dengan sandiwara Aceh atau Dalupa yang sebagian kecil masih diketahui, walau memang sudah benar-benar tidak ada lagi komunitasnya. Jadi ini yang akan kita orbit ke permukaan agar masyarakat paham," sebut Tejo.

Sedangkan sejarahnya, belum diketahui pasti kapan awal muncul Mop-mop, namun dipastikan sudah ada sebelum Indonesia merdeka, kemudian jaya di era 60 hingga 80-an. Pertunjukan ini biasa ditampilkan saat hari-hari besar, hajatan rakyat, pesta pernikahan, bahkan juga ditampilkan di lokasi pasar rakyat dan lainnya.

Kemudian meredup seiring masuknya teknologi hiburan ke tengah-tengah masyarakat Aceh , seperti televsi, radio dan yang banyak menampilkan seni peran secara praktis kepada masyarakat.

Menurut lulusan S2 Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tersebut, penelitian yang didukung oleh Kemendikbud RI ini dilakukan di beberapa tempat di Aceh Utara, yaitu di Gampong Paloh Raya dan Gampong Kambam di Kecamatan Muara Batu, karena di sana masih tersisa denyut seni Mop-mop. Kemudian dilakukan juga di Bireuen, tepatnya di Gampong Matang Pasie, Kecamatan Peudada.

"Penelitian ini nantinya akan melahirkan semacam buku panduan dan dokumentasi pertunjukan khas ini. Kemudian menjadi referensi dan informasi seni Mop-mop secara detail , terutama bagi generasi muda, mahasiswa dan pelajar yang perhatian terhadap seni Aceh," kata seniman yang juga alumni IAIN Ar-Raniry ini.

Tejo juga berharap, pemerintah dan para pemangku kebijakan dan masyarakat tidak lupa dengan seni tradisi seperti Mop-mop, karena Mop-mop adalah aset seni yang harus dimunculkan kembali, sebagai identitas seni pertunjukan khas masyarakat Aceh di pesisir pantai timur.(dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved