Breaking News:

Opini

Ketika Istri Menjadi Tulang Punggung Keluarga  

Kewajiban suami terhadap istri ada yang bersifat materi yang disebut dengan nafkah, dan yang bukan materi yang identik dengan masalah rohaniah

Ketika Istri Menjadi Tulang Punggung Keluarga   
IST
Dr. H. Agustin Hanafi, Lc. Ketua Prodi S2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, Peneliti ICAIOS

Oleh Dr. H. Agustin Hanafi, Lc. Ketua Prodi S2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, Peneliti ICAIOS

 Usai ijab-qabul diikrarkan oleh suami-istri maka lahirlah hak dan kewajiban antara mereka. Kewajiban suami terhadap istri ada yang bersifat materi yang disebut dengan nafkah, dan yang bukan materi yang identik dengan masalah rohaniah, seperti menggauli istrinya secara patut, menjaganya dari perbuatan dosa dan mara bahaya.

Sedangkan kewajiban istri tidak ada yang berbentuk materi, tetapi hanya terkait persoalan batiniah semata, seperti menggauli suaminya secara layak sesuai dengan kodratnya, memberikan rasa tenang dalam rumah tangga dan memberikan rasa cinta dan kasih sayang dalam batas-batas kemampuannya, taat dan patuh terhadap suami selama ia tidak menyuruhnya untuk melakukan perbuatan maksiat.

Mengenai hak dan kewajiban suami-istri ini disinggung dalam Q.S. Al-Baqarah: 228, "Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Tetapi para suami mempunyai kelebihan atas mereka". Kemudian dalam Kompilasi Hukum Islam, "Suami wajib melindungi istrinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup berumah tangga sesuai dengan kemampuannya".

Dengan demikian, hak dan kewajiban suami-istri begitu besar, terutama bagi seorang suami, dan masing-masing dari mereka harus memikulnya dengan penuh tanggung jawab dan bersikap amanah, agar keluarga samara yang didambakan dapat terwujud. Suami sebagai kepala rumah tangga seharusnya memiliki peran vital dalam menyejahterakan keluarga, karena memiliki fisik dan daya magnet silaturahim yang kuat, terlebih budaya kita masih melihat laki-laki sebagai sosok sentral di ranah publik, sedangkan posisi perempuan hanya bersifat membantu laksana "ban serap".

Tetapi realitanya banyak perempuan yang harus mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga, karena suami kurang bertanggung jawab, lalai, malas, kurang inisiatif, dan sebagainya, sehingga istri harus memeras keringat dan membanting tulang, demi menyelamatkan kehidupan keluarga. Selain menjadi tulang punggung keluarga, para istri juga harus bertanggung jawab penuh atas pekerjaan rumah tangga, seperti membersihkan rumah, mengurus anak, mencuci, dan memasak, sehingga istri memiliki peran ganda yang kurang seimbang.

Pemahaman ulama

Menurut ulama fikih, istri pada dasarnya tidak mempunyai kewajiban materi apapun untuk membiayai keluarga, kewajiban tersebut dibebankan kepada suami, sampai memasak pun bukan kewajiban istri. Menurut ulama, makanan yang wajib disediakan suami adalah makanan masak yang sudah siap saji. Dengan kata lain, suami yang membawa makanan mentah atau bahan makanan ke rumah, masih berkewajiban memasaknya sehingga siap santap.

Sekiranya suami tidak sempat atau tidak mau menyiapkannya, maka suami harus menyediakan pembantu (budak) untuk memasakkannya.  Kalau istri disuruh suami atau merasa terpaksa mengerjakannya dan dia tidak rela, maka dia berhak meminta upah kepada suaminya, atau dianggap sebagai utang yang harus dibayar oleh suami.

Adapun tugas istri dalam kaitan ini hanyalah sekadar mengatur dan memberitahu pembantu untuk mengerjakan semuanya dengan baik. Kewajiban istri dalam hal penyediaan makanan ini hanyalah menghidangkannya, karena menghidangkan makanan serta kesediaan istri mendampingi suami selama makan, dianggap sebagai bagian dari pelayanan istri kepada suami.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved