Breaking News:

Opini

Ketika Istri Menjadi Tulang Punggung Keluarga  

Kewajiban suami terhadap istri ada yang bersifat materi yang disebut dengan nafkah, dan yang bukan materi yang identik dengan masalah rohaniah

Ketika Istri Menjadi Tulang Punggung Keluarga   
IST
Dr. H. Agustin Hanafi, Lc. Ketua Prodi S2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, Peneliti ICAIOS

Ada pun kewajiban istri karena pernikahan menurut ulama adalah memberikan pelayanan (taat kepada suami) dalam artinya yang luas, semisal menghangatkan suasana agar kehidupan rumah tangga terasa nyaman, tenteram, dan gembira. Dengan istilah lain, menjadi "matahari keluarga", memberi sambutan ketika suami pulang, menghidangkan makanan sembari menemani/melayani suami ketika makan, menjaga rumah dan isinya (misalnya, dengan tidak menerima kehadiran orang yang tidak diizinkan oleh suami), dan menjadi pumpunan (pusat) tempat anak-anak mencari motivasi dan perlindungan.

Namun, kalau istri rela mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sebagian atau seluruhnya, maka bantuan tersebut dianggap sebagai sedekah atau hadiah dari istri kepada suami. Begitu juga kerelaan suami atas perilaku atau ketidakmampuan istri mengatur rumah tangga adalah sedekah suami kepada istri. Menurut Fikih, kalau suami tidak sanggup menyediakan semua keperluan di atas dan istri tidak rela menerima keadaan itu, maka dia berhak meminta cerai.

Begitu juga sebaliknya kalau istri tidak sanggup menunaikan kewajibannya dan suami tidak puas, maka dia boleh menceraikannya. Akibat lanjut dari ketentuan ini tidak adanya harta bersama di dalam perkawinan. Istri tidak berhak atas kekayaan apapun dari penghasilan suaminya, kecuali nafkah atau sesuatu yang lain yang secara jelas telah diberikan suami untuknya.

Di Indonesia terutama di Aceh, sangat sedikit keluarga yang mengamalkan pemahaman ulama di atas secara sangat kaku, karena jika berpegang semata-mata pada hak dan kewajiban, maka suasana rumah tangga akan menjadi dingin, kaku, dan hambar. Untuk itu, suami dan istri sama-sama bekerja, keduanya saling membantu untuk mencukupi keperluan rumah tangga, bahkan tidak dikenal adanya kewajiban suami untuk menyediakan pembantu guna mengurus tugas-tugas domestik.

Artinya, pembagian tugas antara suami dan istri baik di luar maupun di dalam rumah, tidaklah ketat apalagi mutlak. Bahkan ada suku yang menganggap pekerjaan menyapu halaman, mengangkut air, mencari kayu bakar dan beberapa tugas domestik lainnya adalah tugas suami.

Begitu juga sebaliknya, ada beberapa pekerjaan di sawah, atau pasar yang dianggap sebagai tugas istri, sehingga mereka berdua mengerjakan semua pekerjaan di dalam dan di luar rumah secara bersama-sama. Untuk itu, maka penghasilan atau kekayaan yang mereka peroleh pun menjadi milik bersama, dan sekiranya terjadi perceraian maka harta bersama harus dibagi antara mereka berdua.

Mengenai perempuan bekerja di luar rumah, tidak ditemukan satu teks keagamaan yang melarang perempuan untuk bekerja, bahkan pada zaman Nabi Saw pun perempuan telah bekerja dengan aneka pekerjaan. Untuk itu, di era post-modern saat ini yang permasalahannya serba kompleks, pekerjaan diyakini dapat memberikan perlindungan bagi perempuan, terlebih ia memiliki pendidikan dan skill, tentu akan menjadi daya tawar sekiranya suaminya tidak setia atau bersikap macam-macam.

Perempuan boleh bekerja selama pekerjaan itu dilakukan dalam suasana terhormat, dapat memelihara tuntunan agama, serta dapat menghindarkan dampak-dampak negatif terhadap diri, keluarga, dan lingkungannya. Bekerja meringankan beban pasangan merupakan sikap terpuji dan mulia, serta bernilai tinggi di sisi Allah swt,  membantu suami dalam meringankan beban memenuhi kebutuhan keluarga bukanlah dianggap sebagai utang jika suami mengalami kesulitaan, karena prinsip dalam keluarga ialah saling tolong menolong.

Namun, jika perempuan sebagai pencari nafkah utama, padahal suami masih sehat, dan setelah pulang ke rumah pun istri masih harus bekerja menyelesaikan tugas-tugas domestik, sementara suami menganggur dan sering menghabiskan waktu dengan mengobrol, main kartu/catur, main gitar, atau minum-minum di warung kopi, tidak berinisiatif apapun, bersikap cuek dan malas, bahkan untuk membeli rokok pun dari hasil jerih payah istri, berarti suami telah bersikap zalim dan berdosa besar karena telah melalaikan kewajibanya. Wallahu A`lam!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved