Jumat, 17 April 2026

Internasional

Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad, Muslim Berhak Membunuh Orang Prancis, Twitter Hapus Postingan

Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad, Kamis (29/10/2020) mentweet bahwa Muslim memiliki hak untuk membunuh jutaan orang Prancis.

Editor: M Nur Pakar
AFP
Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad 

SERAMBINEWS.COM, KUALA LUMPUR - Mantan PM Malaysia Mahathir Mohamad, Kamis (29/10/2020) mentweet bahwa Muslim memiliki hak untuk membunuh jutaan orang Prancis.

Hal itu disampaikannya setelah serangan mengerikan di gereja Nice yang memicu kemarahan meluas dan mendorong Twitter untuk menghapus postingannya.

Tiga orang terbunuh di sebuah gereja di kota Prancis selatan, dengan penyerang menggorok leher, setidaknya satu dari mereka.

Pihak berwenang menilai sebagai serangan jihadis terbaru untuk mengguncang negara itu, lansir AFP, Kamis (29/10/2020).

Tak lama kemudian, Mahathir yang merupakan Perdana Menteri (PM) Malaysia yang mayoritas Muslim hingga pemerintahannya runtuh pada Februari 2020 melontarkan ledakan luar biasa dalam serangkaian tweet di Twitter.

Baca juga: Konsulat Prancis di Arab Saudi Diserang Pria Berpisau, Penjaga Terluka

Merujuk pada pemenggalan kepala seorang guru sejafrah Prancis yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya, Mahathir mengatakan tidak menyetujui serangan itu.

Tetapi, tetapi kebebasan berekspresi tidak termasuk menghina orang lain.

"Terlepas dari agama yang dianut, orang yang marah membunuh," kata pria berusia 95 tahun yang blak-blakan itu.

Di masa lalu selalu menuai kontroversi atas pernyataan menyerang orang Yahudi dan komunitas LGBT.

"Prancis dalam perjalanan sejarahnya telah membunuh jutaan orang," katanya.

:Banyak di antaranya adalah Muslim, sehingga memiliki hak untuk marah dan membunuh jutaan orang Prancis untuk pembantaian di masa lalu," ujarnya.

Baca juga: Seorang Pria Berpisau Serang Gereja di Nice Prancis, Seorang Wanita Lari ke Cafe Ditikam Sampai Mati

Tapi dia menambahkan pada umumnya Muslim belum menerapkan hukum 'mata ganti mata'.

Mahathir, yang menjabat sebagai perdana menteri Malaysia dua kali selama 24 tahun, mengatakan Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak menunjukkan dirinya beradab, tetapi sangat primitif.

"Orang Prancis harus mengajari orang-orangnya untuk menghargai perasaan orang lain," harapnya/

"Karena Anda telah menyalahkan semua Muslim dan agama Muslim atas apa yang dilakukan oleh satu orang yang marah, maka Muslim berhak menghukum orang Prancis," tambahnya.

"Boikot tidak dapat mengkompensasi kesalahan yang dilakukan oleh Prancis selama ini," urainya.

Dia tidak merujuk langsung ke serangan Nice.

Baca juga: Kanselir Jerman Terguncang Dengan Pembunuhan Mengerikan di Prancis

Komentarnya memicu kecaman luas, dengan pengguna media sosial menyebut keterlaluan dan tercela.

Twitter awalnya menandai tweetnya tentang membunuh jutaan orang Prancis sebagai "memuliakan kekerasan, tetapi tidak menghapusnya.

Namun, tak lama kemudian, tweet tersebut dihapus seluruhnya.

Pemenggalan kepala guru Samuel Paty, mendorong Macron menjanjikan tindakan keras terhadap Islam radikal.

Tetapi langkah tersebut telah mengobarkan ketegangan, dengan protes terhadap Prancis meletus di beberapa negara Muslim, dan beberapa mendesak pemboikotan barang-barang Prancis.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved