Breaking News:

Jurnalisme Warga

Spirit Berkebun di Anjungan Aceh-TMII Semasa Pandemi

Untungnya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sigap dan cerdas memproteksi kesehatan warganya, terutama melalui instruksi agar semua waspada

Spirit Berkebun di Anjungan Aceh-TMII Semasa Pandemi
IST
IR. CUT PUTRI ALYANUR, ASN pada Badan Penghubung Pemerintah Aceh di Jakarta, melaporkan dari TMII Jakarta

Seluruh bangunan, isi, pemeliharaan aset, gedung, dan lainnya yang berada di atas lahan atau area yang dipinjamkan itu menjadi otoritas masing-masing provinsi dalam pemanfaatannya. Lahan seluas 6.552 meter di Anjungan Aceh, selain ditujukan

sebagai tempat membangun sarana utama seperti gedung kantor, tapak rumah pameran khas Aceh, lahan pameran Pesawat Modal PerjuanganRI (Seulawah RI-001),  tempat Lonceng Cakradonya, diperuntukkan pula bagi pohon- pohon khas daerah.

Misalnya, pohon pala sumbangan Pemkab Aceh Selatan, pohon kakao dari Pemkab Pidie Jaya, pohon jeruk bali (boh giri) dan jeruk purut (boh kruet) dari Pemkab Bireun, serta pohon apel Simeulue sumbangan Bupati Simeulue saat menjadi tuan rumah HUT TMII, mewakili Pemerintah Aceh. Aneka pohon khas daerah  selalu setia mendampingiikon flora Aceh, yakni "pohon jeumpa" yang dikenal bunganya melalui syair lagu Aceh Bungong Jeumpa. Lagu ini kerap terdengar bersama lagu Nusantara di seantero TMII saat menyambut wisatawan dalam dan luar negeri.

Di antara pohon buah dan bunga-bunga khas Aceh, lahan pekarangan anjungan menjadi fokus kami untuk dimanfaatkan lebih baik lagi, karena kegiatan dan acara pentas seni budaya dan pertunjukan belum dapat dilaksanakan di masa pandemi ini. Untuk tetap berkarya di masa pandemi, kami olah tanah di lahan pekarangan anjungan dengan kegiatan berkebun  layaknya di rumah sendiri. Pemanfaatan lahan pekarangan dalam lingkup terbatas ini dapat berkontribusi nyata terhadap upaya kecukupan, ketahanan, dan kemandirian pangan.

Wujud dari tekad ini dimulai dengan pembangunan sebuah kolam kecil berisi ikan nila, gurami, dan tanaman kangkung, bayam merah, selada air dalam paralon-paralon sederhana yang kami desain sendiri.Keduanya dipelihara bersama dan berbeda tempat, tetapi saling bersimbiosis mutualisme yang dikenal dengan pemeliharaan ala akuaponik.

Cara akuaponik ini dapat mengarahkan tanaman memperoleh media dan nutrisi dari air kolam dan limbah kotoran ikan, sedangkan ikan mendapat media hidup dari air bersih setelah dibersihkan oleh saringan dan akar tanaman.

Beberapa literatur tentang acuan berkebun di lahan pekarangan menyebutkan, "Limbah kotoran ikan banyak mengandung zat amoniak yang dapat diubah oleh cacing- cacing mikroba di sekitar akar tanaman sebagai nutrisi yang diperlukan tanaman." Budi daya tanaman dan ikan dengan cara akuaponik cukup efektif dan praktis, karena lahan dapat dimanfaatkan secara optimal, air dan listrik yang digunakan juga sangat hemat.

Panennya dapat dilakukan secara bersamaan dengan produk yang berbeda dan tanaman lebih segar dengan kualitas terjamin, serta tidak perlu nutrisi bahan kimia yang mengandung  zat-zat berbahaya bagi tanaman dan ikan. Sementara, kolam pemeliharaan ikan leledi pojok pekarangan menjadi  upaya lain demi memenuhi kebutuhan lauk protein utama harian kami.

Di samping kesiapan si cabai rawit, cabai merah, pare, mentimun, terong, pokcay, dan sawi yang terus tumbuh subur menggairahkan pekarangan Anjungan Aceh. Semua kegiatan ini dilakukan dengan kerja sama, gotong royong, swadaya, dan mandiri.

Setiap staf anjungan secara ikhlas menanam sebatang pohon pilihannya sebagai kontribusi dalam gerakan berkebun. Ada yang menyumbang bibit pohon sirsak, kelengkeng, jeruk, alpukat, jamblang, sawo, jambu, ceremai, bahkan petai. Areal Anjungan Aceh semakin berwarna dengan hadirnya pohon tin dan zaitun. Pohon tin yang dikenal juga sebagai ara (fig), pohon buah istimewa dari taman surga, demikian pula dengan pohon zaitun. (QS. At- Tin: 1).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved