Breaking News:

Opini

Pemuda dan Semangat Kolaborasi  

Sudah dimaklumkan segenap putra-putri bangsa Indonesia, 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda

Pemuda dan Semangat Kolaborasi   
IST
Firdaus Noezula, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan IPB University, Ketua IKAMAPA Bogor

Oleh Firdaus Noezula, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan IPB University, Ketua IKAMAPA Bogor

Sudah dimaklumkan segenap putra-putri bangsa Indonesia, 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Ikrar pemuda bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu: Indonesia tercetus pada 28 Oktober 1928 atau 92 tahun silam. Ikrar tersebut telah menjadi tonggak sejarah dalam pembangunan kepemudaan di tanah air.

Sumpah pemuda lahir dalam kongres pemuda II yang digelar di Batavia (Jakarta) 1928. Sebelumnya kongres pemuda I 30 April hingga 2 Mei 1926 di Batavia (Jakarta), belum mampu melahirkan sebuah resolusi dan kesepakatan pemuda Indonesia. Sumpah ini lahir dalam situasi genting, pada saat negera masih berada dalam cengkraman penjajahan.

Perlu dipahami, bahwa penyebutan sumpah pemuda baru dikenal secara resmi pada 1959, dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden (Keppres) No.316 Tahun 1959, dan ditetapkan Hari Sumpah Pemuda sebagai bahagian dari Hari Nasional. Bisa dikatakan 31 tahun sesudah 1928 baru dinamakan sumpah pemuda, pada waktu kongres pemuda II dipahami sebagai keputusan kongres.

Semangat sumpah pemuda terus dijadikan pintu masuk dan momentum penting dalam membangun bangsa ke arah lebih baik. Kalau dulu arah pemuda mengusir penjajah, pada masa kini diharapkan mengisi pembangunan dalam berbagai sektor bernegara termasuk isu ekonomi.

Keseriusan negara

Dalam menjawab keberadaan penting pemuda, kebijakan negara telah benar, memposisikan pemuda sebagai kelompok strategis (investasi penting) dalam perwujudan bangsa Indonesia yang berdaulat dan berdaya saing tinggi. Keseriusan ini tercermin jelas bila membaca Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Dalam pasal 12 disebutkan salah satu urusan wajib pemerintahan yang tidak bersifat pelayanan dasar adalah urusan kepemudaan. Sehingga kewajiban pembinaan pemuda menjadi tanggung jawab bersama; antara pemerintah pusat maupun daerah. Dampak kebijakan pasal 12 tersebut lahirlah kementerian pemuda dan olah raga di tingkat pusat. Pada level daerah seluruh provinsi hingga kabupaten/kota seluruh Indonesia memiliki Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang menangani urusan kepemudaan. Ini merupakan sebagai bukti nyata menyangkut pemuda menjadi isu prioritas negara. 

Penyataan di atas, bukan ingin menunjukkan bahwa urusan kepemudaan menjadi kewajiban kementerian pemuda dan olah raga saja, atau SKPD terkait kepemudaan, tetapi hanya ingin melihat struktur tata kelola negara. Dalam pemberdayaan pemuda hingga memiliki daya saing tinggi, diperlukan kerjasama lintas kementerian dan SKPD di tingkat daerah secara kolaboratif. Program pemberdayaan, ruang dan peningkatan skill pemuda menjadi tugas bersama. Pemuda menjadi sasaran program untuk menyiapkan generasi emas Indonesia.

Langkah persiapan

Pemerintah telah merilis berbagai data yang menunjukkan bahwa ada bonus demografi penduduk Indonesia di tahun 2030-2040, yakni jumlah penduduk usia produktif; 15-64 tahun lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif; di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun. Pada saat itu penduduk usia produktif mencapai 64 persen dari total penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa.

Pada dimensi waktu tersebut, bisa dipastikan jumlah pemuda Indonesia (angkatan kerja) muda sangat berlimpah. Lantas bagaimana kita memamfaatkan bonus demografi yang ada? Salah satu jawabannya adalah: sumber daya manusia yang menjadi bonus demografi yang melimpah perlu ditingkatkan kualitas dari sisi pendidikan dan terampil, sehingga tidak kalah saing dalam menghadapi pasar kerja global. 

Kebijakan terbaru negara melahirkan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker), katanya bahagian dari strategi memanfaatkan bonus demografi di depan mata. Menurut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy, pembangunan pemuda menjadi kunci keberhasilan bonus demografi Indonesia, "caranya membangkitkan semangat kewirausahaan pemuda dan melahirkan pengusaha-pengusaha muda yang bisa membuka lapangan kerja untuk dirinya dan masyarakat luas melalui Usaha Mikro Kecil dan Menegah (UMKM)".

Pemuda diharapkan menjadi pembuat harapan baru bagi dirinya dan masyarakat. Bukan sebaliknya, menjadi penunggang harapan yang telah dibuat oleh generasi terdahulu. Karena jika kualitas pekerja bagus, produktif dan berdaya saing, maka bonus demografi ini akan membantu memicu pertumbuhan. Sebaliknya, jika bonus demografi ini tidak diikuti dengan peningkatan kapasitas pemuda, maka hal ini akan melahirkan "malapetaka" demografi. 

Aspek penting lainnya yang diperlukan dalam pembinaan pemuda merupakan karakter. Karakter akan membentuk pemuda mampu bersaing, bermoral, beretika, sopan-santun dan mampu berinteraksi dengan segenap masyarakat. Dalam dunia kerja memang dibutuhkan tenaga yang terampil dan handal (hard skill). Namun, sebuah penelitian dari Harvard University Amerika Serikat, bahwa kesuksesan seseorang bukan saja ditentukan semata-mata oleh pengetahuan, kemampuan teknis saja (hard skill), tetapi kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill) juga sangat memberi pengaruh.

Penelitian ini menyimpulkan, kesuksesan hanya ditentukan 20 persen oleh hard skill dan 80 persen oleh soft skill. Bahkan orang-orang sukses di dunia bisa berhasil sebab lebih banyak didukung kemampuan soft skill dibandingkan hard skill (Ali Ibrahim Akbar, 2007). Temuan ini memberi sinyal, selain penyiapan pemuda yang memiliki kemampuan spesifik, perlu juga disiapkan karakter pemuda dalam menghadapi bonus demografi kedepan.

Soft skill dalam istilah sosiologis merupakan sikap kepribadian menyangkut seseorang dengan Tuhan-nya, diri sendiri dan orang lain. Soft skill untuk melengkapi hard skill diperlukan dalam kehidupan. Sikap ini penting untuk peningkatan value yang akan bermuara pada peningkatan prestasi kerja.

Dari beberapa Aspek soft skill yang mampu membimbing personal pemuda menjadi lebih baik, penulis menilai bahwa aspek utamanya adalah integritas dan kemampuan berkolaborasi.

Integritas menjadi faktor utama yang harus dimiliki oleh pemuda Indonesia. Variabel paling besar dalam integritas adalah sikap jujur. Thomas J. Stanley, Ph. D penulis buku Millionaire Mind, telah melakukan riset tentang 100 faktor yang menetukan kesuksesan.

Riset tersebut 70% respondennya adalah millioner. Ternyata memiliki IQ yang tinggi, lulusan sekolah favorit dan perguruan tinggi bergengsi bukan termasuk 10 faktor utama yang mendukung kesuksesan. Riset yang dilakukan di Amerika ini menempatkan kejujuran sebagai faktor utama yang mendukung kesuksesan seseorang, di samping 9 soft skill lainnya. Jika nilai kejujuran-integritas sudah tertanam, maka kolaborasi adalah keniscayaan.

Kita ikut menyaksikan bagaimana kolaborasi menghentikan "perang" antara taxi Blue Bird dan GOJEK pada awal-awal kemunculan aplikasi taxi online. Kemudian dua perusahaaan transportasi ini bersepakat membangun bisnis dan meraih keuntungan secara bersama-sama.

Sebagai pemuda, kita harus meyakini bahwa kolaborasi akan melahirkan sesuatu yang monumental dan bertahan lama. Dalam konteks Aceh, para pendahulu juga telah mengingatkan kita dengan hadih madja (peribahasa); ta catok sidroe lheuh si are, menyoe na dua-lhee lheuh si gunca. Hadih madja ini juga menitikberatkan pentingnya kolaborasi untuk meraih sesuatu yang lebih besar. Selamat Hari Sumpah Pemuda dan Mari berkolaborasi! (firdausnoezula@gmail.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved