Breaking News:

Salam

Prancis Tuai Kekerasan  

Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB) menilai karikatur Charlie Hebdo soal Nabi Muhammad Saw merupakan bentuk provokasi terhadap umat muslim

Wakil KOHSAR / AFP
Demonstran Muslim memegang spanduk saat mereka meneriakkan slogan-slogan selama protes terhadap komentar Presiden Prancis Emmanuel Macron atas karikatur Nabi Muhammad, di pusat kota Kabul Pada tanggal 30 Oktober 2020. 

Perserikatan Bangsa‑Bangsa (PBB) menilai karikatur Charlie Hebdo soal Nabi Muhammad Saw merupakan bentuk provokasi terhadap umat muslim di dunia. Ketua Aliansi Peradaban PBB, Miguel Angel Moratinos, mengaku prihatin atas ketegangan yang terjadi terkait karikatur Charlie Hebdo dan insiden pemenggalan guru di Prancis.

Situasi semakin tegang setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron melontarkan pernyataan yang membela pihak Charlie Hebdo. Macron menyatakan bahwa yang dilakukan media itu merupakan bagian dari kebebasan berpendapat. Presiden Prancis juga mengutuk pemenggalan seorang guru oleh pelaku 18 tahun. Guru tersebut dipenggal setelah sebelumnya akan mengadakan diskusi di sekolah soal karikatur Charli Hebdo tentang Nabi Muhammad.

Angel Moratinos kemudian menyampaikan rasa prihatin dan menilai ketegangan ini bagian dari karikatur Charlie Hebdo dianggap menyinggung perasaan umat muslim seluruh dunia. "Karikatur Charlie Hebdo yang menghasut juga memprovokasi tindakan kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa yang diserang karena agama, kepercayaan atau etnis mereka," ujar Angel Moratinos.

PBB menegaskan, "Hinaan terhadap semua agama termasuk simbol agama yang dianggap suci bisa memprovokasi kebencian dan kekerasan dalam bentuk ekstrimisme. Pada akhirnya menciptakan polarisasi dan perpecahan di masyarakat."

Makanya, Perwakilan PBB juga secara resmi menyatakan keprihatinan atas ketegangan yang terjadi terkait kasus Charlie Hebdo. "Kami menyampaikan kekhawatiran mendalam atas ketegangan dan intoleransi yang terpicu dari publikasi karikatur satir yang menggambarkan Nabi Muhammad."

Kabar terakhir dari Paris menyebutkan, 7.000 tentara disiagakan pemerintah Prancis setelah pemberlakuan status darurat tinggi sejak Kamis (29/10/2020) waktu setempat. Tentara dengan senjata lengkap terlihat di tempat umum seperti jalanan, sekolah, dan tempat ibadah. Pemberlakuan status darurat itu merupakan level keamanan tingkat tinggi.

Sebelumnya, aksi penikaman terjadi di gereja kota Nice, Prancis, pada Kamis (29/10/2020) pagi waktu setempat. Tiga orang tewas dalam serangan teroris itu. Insiden penikaman hanya berselang dua minggu setelah pembunuhan guru sekolah yang membahas karikatur Nabi Muhammad di kelas kebebasan berekspresi.

Enam tahun lalu, sebuah jajak pendapat menyebutkan, hampir separuh orang Prancis menentang penerbitan kartun Nabi Muhammad. Mereka yakin, kartun yang oleh banyak orang Islam dianggap ofensif seharusnya tidak diterbitkan. Lembaga jajak pendapat Ifop menyampaikan hasil itu, di tengah debat mendalam tentang batas kebebasan berpendapat di Prancis pada 2014.

Menurut Ifop, 42 persen warga Prancis menolak penerbitan kartun Nabi Muhammad. Kemudian, 50 persen mendukung pembatasan kebebasan berpendapat di negera itu.

Presiden Macron mestinya memahami bahwa sejak lama orang Muslim merasa tersinggung dengan karikatur Nabi Muhammad di Charli Hebdo. Sebab, sesungguhnya kebebasan berpendapat tidak harus diartikan sebagai kemerdekaan yang juga boleh menghina agama apapun.

Tentang provokatif yang diamksud adalah penerbitan ulang kartun Nabi Muhammad yang enam tahun lalu sudah pernah heboh. Umat Islam marah dan beberapa orang terbunuh kala itu. Namun, seolah tidak kapok, kemudiannya Charli Habdo menerbitkan lagi dengan menempatkan 12 kartun Nabi Muhammad di halaman depan. Inilah yang dinilai sebagai provokatif, memancing kemarahan umat Islam.

Imam Besar Al Azhar, Ahmed Al‑Tayeb berkata kartun tersebut tak patut dijustifikasi dengan alasan kebebasan. "Menjustifikasi hinaan seperti itu dalam rangka melindungi kebebasan berekspresi adalah kesalahpahaman terhadap perbedaan hak kebebasan manusia dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam upaya melindungi kebebasan."

Karena itulah kita mendukung desakan terhadap PBB supaya  melarang peningkatan Islamofobia di banyak negara. Provokasi yang disengaja untuk kebencian dan kekerasan harus pula dilarang secara universal.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved