Breaking News:

Qanun Diniyah Selesai, Aminullah: Banda Aceh akan Lahirkan Generasi Muda Berakhlaqul Karimah

Qanun Diniyah baru saja selesai dibahas. Wali Kota Banda Aceh Aminullah Us­man mengatakan, lahirnya Un­dang-Undang Daerah

Editor: bakri
For Serambinews.com
Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman 

BANDA ACEH - Qanun Diniyah baru saja selesai dibahas. Wali Kota Banda Aceh Aminullah Us­man mengatakan, lahirnya Un­dang-Undang Daerah ini akan mampu melahirkan generasi muda berakhlakul karimah, cerdas, dan cakap dalam menghafal Alquran.

“Qanun diniyah adalah upaya kita dalam mengawal akhlak anak sejak dini, mengarahkan anak kita untuk lebih dekat dengan agama, terampil dalam membaca kitab, sesuai dengan visi misi kita dalam menjadikan Banda Aceh gem­ilang dalam bingkai syariat,” kata Aminullah, Sabtu (31/10/2020).

Qanun yang telah diren­canakan sejak sembilan tahun si­lam baru saja terwujud. Aminullah menyambut suka cita atas hal ini. “Ini patut dibanggakan, sudah jadi cita-cita bersama mewujudkan generasi Banda Aceh, dan Aceh umumnya sebagai generasi yang faham akan agama sebagai identi­tas kita masyarakat di bumi seram­bi mekkah,” ujarnya.

Aminullah pun mengapre­siasikan pihak yang turut serta berkontribusi dalam merumuskan qanun tersebut. “Kepada DPRK Banda Aceh khususnya tim di komisi IV yang dipimpin Ibu Tati Mutia, Bapak Safni dan kawan-kawan tim khususnya lainnya. Juga kepada Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Kota, Saminan dan jajaran, kita apresiasi yang seting­gi-tingginya,” ucapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Sam­inan menyebutkan, pada prinsipnya dalam pelaksanaan Qanun Diniyah ini meliputi tiga poin dasar. Yaitu siswa mampu membaca dan menu­lis Alquran, siswa mampu membaca, menulis dan memahami kitab arab melayu, dan siswa mampu mengh­afal Alquran minimal satu juz untuk tamat SD, dan dua juz untuk SMP.

“Metode yang dikembangkan dalam pendidikan diniyah ini yang pertama, kita mengupayakan untuk seluruh siswa yang ada di SD dan SMP pada saat tamat nanti tidak ada lagi yang tidak mampu membaca Alquran,” kata Saminan.

Lalu, yang dituntut pada anak SD dan SMP yaitu kemam­puan membaca kitab arab melayu, mulai SD kelas 4 sampai kelas 6 itu dituntut paling kurang sudah mampu membaca kitab Masaila Muhtadi dan Bidayah. Kemudian ketika sudah di SMP nanti siswa akan membaca kitab arab melayu, tambahnya.

“Dan terakhir, sejak SD kelas satu, itu anak-anak dituntut dapat menghafal Alquran. Hal ini sesuai visi Kota Banda Aceh dalam bing­kai syariah,” katanya lagi.

Saminan menjelaskan, di dalam qanun tersebut, sebet­ulnya tidak ada yang baru, jadi kalau dulunya pelajaran diniyah tersebut masuk ke dalam ekstra­kurikuler, kalau sekarang dalam qanun itu pelajaran diniyah akan jadi mata pelajaran wajib. “Proses pengkajian juga telah melalui be­berapa tahap, sudah pernah kita bahas di Dinas Pendidikan Kota, kemudian juga dibahas dengan komisi IV DPRK, selepas itu juga pernah kita bahas dua kali di Kota Meulaboh, public sharing, sudah dipanggil ke bidang hukum ke kan­tor Gubernur, saat ini telah meng­arah ke perbaikan yang ditangani langsung oleh tim ahli di komisi IV DPRK dan akan segera disahkan rencananya dalam waktu dekat,” kata Saminan.(hba/*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved