Breaking News:

Semangat Kepemudaan di Era Teknologi  

Ketika saya masih tinggal di negeri Taiwan beberapa tahun silam, di berbagai convenience store/swalayan mini terdapat sebuah mesin seukuran mesin ATM

Semangat Kepemudaan di Era Teknologi   
FOTO/IST
Dr. Kahlil Muchtar, S.T., M.Eng.Kepala Pusat Riset Telematika dan Dosen Prodi Teknik Komputer, Universitas Syiah Kuala

Oleh Dr. Kahlil Muchtar, S.T., M.Eng.Kepala Pusat Riset Telematika dan Dosen Prodi Teknik Komputer, Universitas Syiah Kuala

Ketika saya masih tinggal di negeri Taiwan beberapa tahun silam, di berbagai convenience store/swalayan mini terdapat sebuah mesin seukuran mesin ATM. Mesin ini bisa dikatakan serbaguna karena memudahkan keperluan-keperluan yang sifatnya rutin (reguler). Dari sisi transportasi, mesin ini bisa digunakan untuk memanggil taksi sesuai keinginan, dan dalam hitungan menit akan tiba di depan swalayan mini tempat kita memesannya.

Tidak hanya itu, pembayaran tiket kereta cepat, pesawat terbang dan kereta api bisa dilakukan dengan mudah. Begitupun dari sisi telekomunikasi dan administratif, mesin ini juga menyediakan fitur membeli pulsa ponsel, cetak dokumen melalui USB, hingga mengirim surat elektronik (email). Mesin dengan fitur layar sentuh ini menjadi mesin serbaguna dan sangat memudahkan masyarakat. Kini mesin itu telah bertransformasi menjadi ponsel pintar yang berada di seluruh saku celana masyarakat dunia.

Dengan saldo tabungan yang cukup, paket data internet yang tersedia, atau uang digital seperti go-pay, linkaja atau sakuku, semua peran mesin serbaguna tadi dapat digantikan. Begitulah ilustrasi pesatnya evolusi teknologi, semakin hari teknologi semakin pintar, terjangkau dan memudahkan.

Kita baru saja memperingati hari Sumpah Pemuda, yang merupakan lambang perjuangan pemuda di masa prakemerdekaan dengan buah pikiran yang segar dan cemerlang. Kalau dulu para pemuda mengikrarkan bahwa bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan, kini bagaimana pemuda milenial menunjukkan nasionalismenya?

Menurut penulis, salah satunya adalah menunjukkan bahwa pemuda mampu bersahabat dengan teknologi secara positif untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa ini. Bukankah eyang Habibie pernah berpesan "Pesawat N-250 Gatot Kaca adalah hadiah saya untuk ulang tahun Indonesia yang ke-50 waktu itu. Anak muda Indonesia sekarang harus lebih hebat dari Habibie, karena segala fasilitas untuk berinovasi saat ini sangat lengkap" (TribunNews-Pesan Habibie saat peringati Hari Kebangkitan Teknologi ke-23").

Ya, fasilitas untuk berinovasi dengan mudahnya didapat, diakses dan dimanfaatkan. Namun demikian, membangun pola pikir inovatif membutuhkan waktu yang panjang, karena masyarakat harus mampu mengubah pola pikir "penikmat hasil" menjadi "penggagas inovasi". Hari ini kalau kita bertanya dimana pusat elektronik terbesar di dunia, jawabannya adalah kota Shenzhen, di Tiongkok. Kalau kita bertanya dimana pusat talenta potensial di bidang komputer dan perangkat lunak (software) yang siap pakai, maka jawabannya adalah India.

Dari kota Shenzhen kita harus belajar banyak dalam hal persiapan infrastruktur teknologi jangka panjang. Kota Shenzhen yang dulunya hanya desa tertinggal, kini berubah menjadi kota megapolitan, sekaligus mencetak inovator kelas dunia, sebut saja Ren Zhengfei yang mendirikan perusahaan telekomunikasi, Huawei.

Jika Shenzhen identik dengan keunggulan di sisi piranti keras (seperti ponsel pintar, kamera, CCTV, dll), maka India mampu mencetak talenta ahli piranti lunak (software) yang tersebar di seluruh dunia. Sehingga tidak heran kalau posisi penting di beberapa perusahaan startup di Indonesia seperti Tokopedia dan Go-Jek diisi oleh engineer asal India.

Tidak hanya itu, Satya Nadella dan Sundar Pichai yang merupakan orang nomor satu di Microsoft dan Google menyelesaikan studi S1-nya di negara asal mereka, India. Salah satu modal talenta-talenta hebat India adalah kemampuan berbahasa Inggris dan bidang eksakta di atas rata-rata.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved