Breaking News:

Opini

Berbagi Pengalaman di Ruang Kelas  

Ada dua hal penting dalam dua minggu ini. Pertama, publikasi data tentang masih tingginya angka kecelakan lalu lintas di Aceh

Sulaiman Tripa, Dosen Fakultas Hukum Unsyiah 

Oleh Sulaiman Tripa, Dosen Fakultas Hukum Unsyiah

Ada dua hal penting dalam dua minggu ini. Pertama, publikasi data tentang masih tingginya angka kecelakan lalu lintas di Aceh. Menurut Direktorat Lalu Lintas Polda Aceh, seminggu mencapai 10-13 kasus. Faktor human error mendominasi kecelakaan lalu lintas. Safety riding diharapkan menjadi salah satu yang bisa mengubah perilaku pengendara. Selain human error, faktor cuaca dan kondisi jalan menjadi penyebab terjadinya kecelakaan (Serambi, 17/10/2020).

Kedua, Operasi Zebra Seulawah 2020 dilaksanakan Polda Aceh di seluruh Aceh beberapa hari ke depan (Serambi, 26/10/2020. Diharapkan operasi ini akan berkorelasi dengan perilaku pengendara. Selain mengefektifkan pemeriksaan kelengkapan kendaraan, operasi ini hendaknya juga menyasar perilaku dominan yang menyebabkan kecelakaan lalu lintas, yakni human error.

Angka 10-13 kecelakaan bukan jumlah sedikit. Untuk mendapatkan angka setahun, tinggal dikalikan dengan 54 minggu, berarti berjumlah sekitar 540 kasus. Tinggal dikalkulasi berapa jiwa dalam setiap kasus. Karena setiap terjadinya kasus, selain kecelakaan tunggal, bisa juga bersama jiwa-jiwa yang lain.

Bagi kami yang belajar hukum dan masyarakat, saat berbicara jiwa, tidak etis disandingkan dengan jumlah. Untuk sebuah kecelakaan, yang berdampak pada jiwa manusia, tidak bisa dinilai dengan angka minimal atau maksimal. Walau hanya satu, jiwa itu tetap berharga. Hal ini penting, agar pembaca tidak mengaitkan keberhasilan berkendaraan di jalan dengan bertumpu pada angka korbannya.

Tugas kuliah

Bagi saya, kondisi di atas tidak aneh. Perilaku keseharian di jalan bisa disaksikan sendiri. Sebagai pengajar, saya juga didukung oleh pengalaman lain. Akhir semester yang lalu, untuk satu tugas mata kuliah yang saya ajarkan di kampus, saya memberikan tugas kepada mahasiswa membuat pengamatan sederhana. Lokasinya persimpangan yang ada lampu lalu lintas (traffic light). Tugas kelompok ini masing-masing dikerjakan 4-5 orang.

Tugas mereka sederhana, yakni menangkap apa saja fenomena yang terjadi sepanjang 30 menit, di satu persimpangan berlampu lalu lintas. Pada pertemuan kuliah selanjutnya, mereka presentasikan hasilnya. Hanya itu instruksi yang saya berikan. Selebihnya mereka menafsir dan mengerjakan sendiri. Berbekal hasil pengamatan, lalu mereka menuliskannya dalam laporan 2-5 halaman kuarto.

Sebagai dosen, saya tentu paham bahwa tidak semua mereka melaksanakannya dengan sempurna. Dari laporan mereka yang saya baca, tampak ada beberapa kelompok yang sebagian data berasal dari imajinasi. Hal ini kemudian saya buktikan saat presentasi saya tanyakan sejumlah hal yang menggambarkan mereka mendapatkan secara sahih di lapangan atau tidak. Akan tetapi dari mereka yang mengerjakan secara serius, menarik untuk didalami. Mudah-mudahan catatan ini diresapi juga oleh para pengambil kebijakan.

Berdasarkan lokasi pengamatan, sejumlah temuan serius didapatkan, antara lain: Pertama, dominasi para penerobos lampu merah. Sejumlah titik di pinggiran kota, tidak jelas lagi fungsi warna lampu lalu lintas, karena saat lampu merah, mereka yang berhenti hanya sedikit. Fenomena ini juga tampak di titik pusat kota. Bahkan ketika saat ada polisi pun, masih ada pengendara yang menerobos.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved