Pemkab Relokasi Pasar Opak
Pemkab Aceh merelokasi pedagang Pasar Opak yang saat ini sudah tumpah ke badan jalan Kampung Simpang IV, Kecamatan Karangbaru
KUALASIMPANG – Pemkab Aceh merelokasi pedagang Pasar Opak yang saat ini sudah tumpah ke badan jalan Kampung Simpang IV, Kecamatan Karangbaru. Mereka nantinya akan direlokasi ke Kampung Upah, Kecamatan Bendahara.
Guna mendukung rencana itu, PT Mopoli Raya kembali diminta menebang 40 batang pohon kelapa sawit di areal perkebunan Kampung Upah, Bendahara. Permintaan ini disampaikan Bupati Aceh Tamiang, Mursil dengan menyurati komisaris perusahaan perkebunan kelapa sawit itu. Namun dipastikan areal penebangan ini sebelumnya sudah dilakukan pelepasan HGU. “Sudah ada balasan dari pihak komisaris, dan mereka memenuhi permintaan kita,” kata Mursil, Rabu (4/11/2020).
Mursil menjelaskan, permohonan penebangan 40 batang pohon kelapa sawit ini berkaitan dengan rencana relokasi pedagang Pasar Opak yang saat ini sudah tumpah ke badan jalan Kampung Simpang IV, Kecamatan Karangbaru.
Diakuinya, permohonan ini merupakan yang kedua kali diajukan, setelah pada permohonan pertama telah dilakukan penebangan 30 batang pohon kelapa sawit. Menurutnya, berdasarkan desain yang dibuat Dinas PUPR Aceh Tamiang, areal pasar baru ini membutuhkan areal yang lebih luas.
“Kita sangat mengapresiasi pihak Mopoli karena mendukung program pembangunan pemerintah daerah. Artinya, mereka sudah mengorbankan 70 batang pohon sawitnya untuk relokasi ini,” ucap Mursil.
Dia menambahkan, relokasi Pasar Opak sudah sangat mendesak dan seharusnya dilakukan tiga tahun lalu. Keberadaan pedagang yang sudah memenuhi badan jalan membuat arus lalu lintas macet parah. Kondisi ini diperparah lalu lalang kendaraan berat yang mengangkut minyak milik Pertamina. “Itu salah satu jalur utama ke Pertamina, makanya ketika truk minyak lewat, kondisi semakin parah,” ucap Mursil.
Mursil bersama Kadis PUPR, Kadis Perindagkop, Camat Karangbaru, Camat Bendahara dan masing-masing datok penghulu di daerah itu sudah meninjau lokasi baru itu pada Selasa (3/11/2020) siang. Dari pemantauan langsung itu disepakati akan meninggikan tanah untuk menghindari banjir. “Kalau mengikuti kondisi saat ini, akan banjir, pedagang tidak akan mau nanti. Harus lebih tinggi dari jalan,” kata Kadis PUPR Aceh Tamiang, Edi Mofrizal.
Edi menambahkan, desain pasar baru ini dilengkapi dengan toilet, musolah dan lahan parkir. Letak kios sengaja menjorok ke dalam untuk menghindari kendaraan parkir di badan jalan.
Sementara Asisten Kebun PT Mopoli Raya, Sumarno menjelaskasn, pembersiahn lahan kedua ini berada di blok 32. Menurutnya, tanaman di blok itu masih memiliki produksi yang baik karena hasil penanaman 2009.
Kehadiran Pasar Opak di Kampung Upah, Kecamatan Bendahara diyakini akan menciptakan sentral perekonomian baru di Aceh Tamiang. Keyakinan ini muncul setelah Pemkab mempercayakan pengelolaan pasar tradisional kepada aparatur kampung. “Pasar Opak ini dikelola oleh BUMK, saat ini ada dua Kampung yang mengelola, Kampung Upah dan Kampung Simpangempat,” kata Mursil, Rabu (4/11/2020).
Keterlibatan dua kampung ini sendiri didasari letak awal Pasar Opak yang berada di Kampung Simpangempat, Karangbaru, sedangkan lokasi baru terletak di Kampung Upah, Bendahara. “Kemungkinan akan ada satu kampung lagi yang bergabung. Kita berharap ini menjadi contoh kampung lain untuk berkolaborasi dalam mengelola dana desa,” ungkapnya.
Dia berharap para datok penghulu mengambil pelajaran dari sejumlah desa di Jawa yang berhasil mengelola dana desa menjadi sumber pendapatan kampung. “Di Bali dan di Jawa Barat sudah ada desa yang BUMK-nya hasilan puluhan miliar. Saya berharap Pasar Opak bisa menjadi motivasi kampung lain untuk berkembang,” harapnya.(mad)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/lahan-perkebunan-kelapa-sawit-yang-akan-dijadikan-relokasi-pasar-opak.jpg)