Breaking News:

Salam

Kita Diingatkan Supaya Tetap Produktif di Tengah Pandemi  

Pada tanggal antara 3 dan 4 November 2020, jumlah pasien terinfeksi virus Corona di Aceh yang sembuh mencapai 132 orang

For Serambinews.com
Jubir Covid-19 Pemerintah Aceh, Saifullah Abdulgani.     

Pada tanggal antara 3 dan 4  November 2020, jumlah pasien terinfeksi virus Corona di Aceh yang sembuh mencapai 132 orang, sedangkan pasien positif baru mencapai 44 orang. Yang menggembirakan, tingkat kesembuhan pasien Covid-19 di daerah ini terus meningkat dan sudah mencapai 76,92 persen dari 7.526 pasien.

“Angka kesembuhan Covid‑19 Aceh terpaut 6,9 % dibandingkan data Nasional yang sekitar 83,8%. Tetapi  angka kematian hanya selisih  0,3%. Angka kematian di Aceh 3,7% dan Nasional 3,4%,” kata  Juru Bicara Satgas Covid‑19 Aceh, Saifullah Abdulgani.

Sejak kasus konfirmasi pertama dilaporkan pada 27 Maret 2020, jumlah kasus Covid‑19 di Aceh sudah mencapai 7.526 orang. Yang masih dalam perawatan 1.463 orang, sudah sembuh 5.786 orang, dan meninggal dunia 277 orang.

Melihat data-fata yang diungkap Satgas Covid-19 itu, ada dua hal yang menjadi perhatian kita. Pertama kita bersyukur bahwa tingkat kesembuhan pasien terinfeksi Corona di Aceh terus meningkat. Kedua, di balik data itu kita juga melihat pertambahan kasus baru masih terus terjadi meskipun jumlahnya juga terus menyusut.

Yang mencemaskan kita, seperti diungkapkan Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid‑19 Pusat, Dewi Nur Aisyah bahwa secara nasional ada kecenderungan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan turun, terutama saat libur panjang pada 28 Oktober‑1 November 2020. Hal ini berdasarkan data yang dipantau Satgas dari titik‑titik tempat wisata yang ada di 34 provinsi. "Pertama, dari sisi kepatuhan pemakai masker ada penurunan. Jadi ini kalau kita lihat trennya pada libur panjang lebih turun dibanding hari‑hari di pekan biasa," ujarnya.

Pihaknya menduga, penyebab kondisi ini karena antar individu saling bertemu dengan banyak orang saat liburan. Pada kondisi itu, ada kecenderungan orang untuk meniru kondisi sekitarnya. Kenyataan yang terpantau, kepatuhan penggunaan masker sebenarnya angkanya sudah cukup tinggi. Sekarang orang‑orang sudah terbiasa keluar pakai masker. Namun, pada poin kepatuhan menjaga jarak, angka kepatuhannya lebih rendah.

Dewi mengatakan, ada jeda sekitar 10‑14 hari untuk memantau ada atau tidaknya kenaikan kasus Covid‑19 akibat liburan panjang yang telah membuat sebagian masyarakat mengabaikan protokol kesehatan. “Dampak libur panjang sejak 28 Oktober hingga 1 November 2020 belum bisa dipastikan untuk saat ini. Kita cek lagi nanti setelah 10 ‑ 14 hari," katanya.

Dampak libur panjang pekan lalu sangat harus menjadi perhatian kita semua. Sebab, merujuk kepada kondisi liburan panjang pada Agustus 2020 yang ternyata berdampak kepada peningkatan kasus Covid‑19 di pekan pertama September 2020 sangat tinggi, termasuk di Aceh. Kondisi itu berlangsung hingga pekan ketiga September 2020.

Beberapa waktu lalu, seorang akademisi mengatakan, “Fenomena pandemi Covid‑19 telah memaksa semua pihak untuk berubah dan beradaptasi. If you don’t change you will become extinct. Siapa yang tidak dapat berubah dan beradaptasi secara cepat maka akan punah. Hampir semua industri dan lini kehidupan terdampak oleh pandemi Covid‑19. Namun survival ability, learning ability and adaptive ability terkait seberapa cepat mereka beradaptasi sangatlah variatif.

Banyak dari kita menyalahkan pandemi atas ketidakproduktifan kita sendiri. Padahal sejatinya produktifitas kita dan kinerja kita bukan hanya ditentukan oleh external factor melainkan lebih banyak ditentukan dari internal factor, diri kita sendiri, yakni dari kemampuan kita untuk mengenali pola dan potensi diri kita sendiri dan bagaimana mengoptimalkan potensi kita. Belajarlah dari diri sendiri, refleksikan bagaimana strategi terbaik yang dapat anda lakukan untuk terus produktif dan lakukanlah secara konsisten, karena guru terbaikmu adalah dirimu.”

Jadi, sudah jelas, agar kita tetap survive di tengah pendemi, ternyata bukan hanya patuh pada protokol kesehatan, tapi juga harus kreatif dan inovatif supaya kita semua tetap menjadi manusia yang produktif!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved