Breaking News:

Salam

Anjuran Ulama Lebih Didengar  

Tenaga Ahli Utama Kedeputian V Kantor Staf Presiden (KSP) Rumadi Ahmad mengatakan pemerintah akan melibatkan berbagai organisasi keagamaan

AFP/File
PBB siapkan jarum suntik vaksin Covid-19 untuk seluruh dunia 

Tenaga Ahli Utama Kedeputian V Kantor Staf Presiden (KSP) Rumadi Ahmad mengatakan pemerintah akan melibatkan berbagai organisasi keagamaan untuk memastikan informasi yang cukup tentang vaksin Covid‑19. Hal tersebut bertujuan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi terhadap penolakan vaksin.

Berdasarkan pengalaman selama ini, setiap kali ada geralan vaksinasi, maka ada dua hal yang dipertanyakan masyarakat Indonesia. Pertama apakah vaksin itu sudah menjalani uji klinis? Maksudnya, dipertanyakan apakah vaksin itu tidak memberi efek buruk bagi kesehatan masyarakat?

Kedua, yang selalu paling keras dipertanyakan mayoritas masyarakat Indonesia adalah apakah vaksin itu terbuat dari bahan yang halal? Artinya, apakah dalam vaksin itu tidak mengandung najis atau zat-zat lain yang tidak halal bagi umat muslim?

Rumadi menjelaskan, pemerintah memang ingin ada keterbukaan informasi dari produsen terkait produksi vaksin yang akan dipakai di Indonesia itu. Namun begitu, ia mengingatakan bahwa vaksin merupakan ikhtiar untuk mencegah, bahkan mengobati penyakit. Karena itu, berbagai riset untuk mencari vaksin harus didukung, hal itu pada dasarnya sejalan dengan apa yang diajarkan Rasulullah. Bahwa, setiap penyakit pasti ada obatnya. Namun obat harus diupayakan dan dicari, tidak datang dengan sendirinya," jelas Rumadi Ahmad.

Pemerintah pun yakin, para ulama mempunyai perangkat keilmuan dan juga kearifan untuk tidak menghalangi penggunaan vaksin jika vaksin yang tersedia belum bisa dipastikan kehalalannya. Meski begitu, pada prinsipnya segala sesuatu yang masuk dan dikonsumsi umat Islam sangat penting memastikan kehalalannya. "Tapi dalam keadaan darurat, jika belum ada obat yang lain, Islam tidak melarang mengonsumsi obat tersebut," tambahnya.

Pernyataan Rumadi merujuk pada hukum Islam mengenai teori darurat atau nadhariyat ad‑darurah. Ada juga pembahasan tentang rukhsah atau kemudahan yang diberikan oleh Allah SWT. Kemudahan itu sebagai jalan bagi umat Islam jika dihadapkan pada situasi yang mengancam jiwa, hal yang sangat dilindungi Islam (hifz an‑nafs). "Para ulama Indonesia pasti sangat memahami hal tersebut dan akan memberi panduan yang memudahkan, bukan mempersulit," tutupnya.

Sedangkan, secara medis, Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Hariadi Wibisono menyatakan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap keamanan dari vaksin, selain itu vaksinasi juga merupakan bagian dari pencegahan penyebaran virus Covid‑19. “Pada saatnya vaksin nanti sudah selesai kajiannya dan sudah bisa, kan nanti akan melalui Badan POM (Pengawasan Obat dan Makanan) lagi untuk mendapatkan izin edar dan itu akan direview kembali prosedur‑prosedur yang sudah lewat direview.”

Hariadi pemerintah sudah berpengalaman dalam hal berurusan dengan vaksin. Makanya, kekhawatiran itu tidak perlu berlebihan. Sebab, setiap vaksin, sebelum dilepas ke masyarakat pastinya sudah teruji tingkat keamanannya, selain itu, setelah digunakan masyarakat tetap akan dipantau, apakah muncul gejala‑gejala yang tidak diinginkan, yang mestinya tidak terjadi.

“Jadi setelah vaksin itu telah melewati Badan POM, melalui suatu kajian aman dipake untuk masyarakat dan terus dipantau perkembanganya,” terangnya.

Setiap kali ribut-ribut mengenai vaksin, biasanya yang paling didengar masyarakat adalah pendapat ahli kesehatan dan pendapat para ulama. Dan, pendapat keduanya harus disampaikan secara ilmiah bahkan  melalui hasil uji laboratoris secara terbuka. Jika para ahli medis dan kalangan ulama menyatakan sudah aman, maka vaksinasi biasanya berjalan lancar, meskipun penolakan-penolakan kecil tetap ada, terutama mereka yang “termakan” informasi-informasi yang menyesatkan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved