Breaking News:

Kupi Beungoh

Pilpres AS, Mazhab Pandemi, dan Kita (I)

Dari segi jumlah pemilih popular, angka 4 juta yang diperoleh Biden, adalah jumlah terbanyak yang diperoleh presiden AS sepanjang sejarah.

SERAMBINEWS.COM/Handover
Ahmad Humam Hamid, Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala. 

Mazhab Asia timur adalah mazhab yang menomorsatukan hidup, karena tanpa hidup, maka kehidupan tidak akan berjalan dengan sempurna.

Pilihan prioritas kepada “hidup” dari mazhab ini juga berbasis ilmi pengetahuan yang sangat kuat dan solid.

Pilihan kebijakan pada mazhab ini adalah menggunakan seluruh sumber daya untuk mengeliminasi pandemi, bahkan dengan pengelontoran biaya yang besar, dan  membuat “mati suri” ekonomi sesaat dalam waktu tertentu.

Kata kunci dalam mazhab ini adalah, test, tracing, karantina, lockdown, dan pelayanan.

Logika dari pendekatan ini adalah, negara mengeluarkan uang banyak, menerapkan hukum yang keras terhadap pelanggar kebijakan dan aturan pandemi, dan mengambil alih sementara “kebebasan” individu atas nama pengendalian pandemi.

Mazhab kedua adalah mazhab AS yang dipimpin oleh presdien Donald J.Trump.

Prioritas mazhab ini adalah kehidupan, yang menomorsatukan kehidupan ekonomi dan menomorduakan hidup.

Realitas perkembangan Covid-19, tetap saja membuat filsafat individualisme-kehidupan sebagai tangung jawab pribadi sebagai salah fondasi kehidupan Eropah dan AS, dijadikan oleh Trump untuk tidak tunduk kepada prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.

Baca juga: FOTO - Kegembiraan Warga New York Saat Merayakan Kekalahan Donald Trump

Di jantung kebijakan pandemi AS yang digagas oleh Trump adalah hukum alam Darwinian “survival of the fittest”-sebuah proses seleksi alam, yang kuat dan adaptif yang bertahan.

Ini adalah prinsip biologi dan evolusi Darwin yang menyebutkan makhluk hidup yang hidup dan berlanjut adalah mahkluk yang sanggup berjuang untuk tetap hidup dari segala gangguan dan bencana.

Prinsip inilah yang kemudian yang merasuk ke dalam filsafat barat yang dipegang teguh oleh Trump, dan tidak menggunakan instrumen negara untuk menyelamatkan warga secara ketat seperti yang terjadi di negara-negara Asia Timur.

Jika test dan tracing yang dikawal oleh negara dengan ketat dilaksanakan di negara-negara Asia Timur, maka di AS hal itu lebih banyak diserahkan kepada masing-masing individu.

Kebijakan yang agak ketat, termasuk dalam penerapan karantina memang ditemukan di sejumah negara bagan, terutama negara bagian yang diperintah oleh penguasa dari Partai Demokrat.

Tetapi kebijakan itu tidak bergema keras, karena kibijakan nasional AS presiden yang cenderung menganggap enteng dan meremehkan Covid-19.

Trump sebagai presiden bahkan tidak menganjurkan apalagi mewajibkan warga memakai masker dan sejumlah protokol Covid-19 lainnya.

Ia ingin membuka sekolah, membuat kehidupan normal,seperti ketika tidak ada Covid-19, dan membiarkan rakyat membuat pilihan pribadi terhadap kehidupannya.

Baginya hidup tidak boleh mengganggu, apalagi kalau kematian itu hanya bepeluang besar terjadi pada orang-orang yang tidak produktif untuk kehidupan ekonomi nasional seperti kelompok manula, dan orang miskin dan kulit berwarna.

Baginya ekonomi lebih di atas segalanya, bahkan dengan mengorbankan kematian warganegaranya.

Mazhab ketiga, oleh Martin Jacques disebut dengan mazhab Eropah, kecuali Jerman.

Mazhab ini menurutnya adalah mazhab ragu-ragu antara mengikuti Asia Timur atau mengikuti mazhab AS yang dipelopori oleh presiden Trump.

Karenanya di Eropah, kadang dimulai dengan lockdown dan tracing yang ketat seperti Cina dan negara Asia Timur lainnya, kemudian dilepas lagi tanpa engendalian meniru AS.

Ini yang kemudian hari ini menghasilkan gelombang ke dua Covid-19 yang kini mulai kembali dan mengoyak-ngoyak banyak negara Eropah.

Bagi yang suka dengan grafik, perkembangan kurva Covid-19 dengan merujuk kepada ketiga mazhab ini akan terlihat jelas.

Kurva perkembangan Covid-19 negara Asia Timur adalah kenaikan sejenak yang tidak sangat tinggi,dan kemudian mendatar terus berlanjut sampai dengan hari ini.

Berbeda dengan Asia Timur, kejadian di AS adalah perbedaan gelombang Covid-19 antara negara bagan yang umumnya berbentuk bukit barisan, kecuali untuk sebágian negara bagian yang serius mengurusnya.(Bersambung)

*) PENULIS adalah Sosiolog, Guru Besar Universitas Syiah Kuala.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved