Breaking News:

Salam

Dunia Menanti Perubahan Pasca Kekalahan Trump

Kandidat dari Partai Demokrat, Joe Biden, mengalahkan Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat (AS). Biden akan menjadi presiden AS ke‑46

AFP/OLIVIER DOULIERY
Warga merayakan kemenangan Joe Biden pada pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) 2020 di Alun-alun Black Lives Matter di seberang Gedung Putih, Washington DC, AS, Sabtu (7/11/2020). 

Kandidat dari Partai Demokrat, Joe Biden, mengalahkan Donald Trump dalam pemilu Amerika Serikat (AS). Biden akan menjadi presiden AS ke‑46 direncanakan masuk ke Gedung Putih pada 20 Januari 2021.

Biden Ungguli Trump dengan selisih 2‑1 di kalangan pemilih minoritas. Kantor berita Reuters melaporkan, para pemilih sepertinya secara tegas menolak kepemimpinan yang kacau dari Donald Trump dan memilih janji Biden untuk memerangi pandemi virus Corona dan memperbaiki ekonomi AS.

Ex Bulletin melaporkan, salah satu prioritas pertama Biden adalah menerapkan rencana tanggap pandemi yang lebih agresif. Pada 6 November, Amerika Serikat mencatat lebih dari 130.000 infeksi virus Corona baru dalam satu hari, jumlah tertinggi yang dilaporkan di seluruh dunia sejak dimulainya epidemi.

Pemerintahan Biden juga akan membuka kembali jalur komunikasi dengan negara lain dan organisasi internasional dalam memerangi virus Corona. Presiden Trump yang sempat terinfeksi Covid‑19 menarik Amerika Serikat keluar dari Organisasi Kesehatan Dunia awal tahun ini. Trump mengkritik badan internasional tersebut yang memberi dukungan kepada China, tempat epidemi dimulai.

Kemenangan Biden didorong oleh dukungan kuat dari berbagai kelompok termasuk wanita, Afrika‑Amerika, pemilih kulit putih dengan gelar sarjana, dan penduduk kota. Dia unggul lebih dari empat juta suara di atas Trump dalam penghitungan suara populer nasional.

Biden yang telah menghabiskan setengah abad dalam kehidupan publik sebagai senator AS dan kemudian menjadi wakil presiden di pemerintahan Barack Obama, akan mewarisi sebuah negara yang berada dalam kekacauan atas pandemi virus corona dan perlambatan ekonomi terkait serta protes yang mengganggu terhadap rasisme dan kebrutalan polisi.

Biden mengatakan, prioritas pertamanya adalah mengembangkan rencana untuk menahan dan pulih dari pandemi, berjanji untuk meningkatkan akses ke pengujian dan memperhatikan saran dari pejabat kesehatan masyarakat dan ilmuwan terkemuka yang selama ini diabaikan Trump.

Kemenangan Biden disambut lega oleh banyak kalangan. Ilmuwan AS mengaku lega ketika Biden menang. Mereka berharap Biden bisa menghapus kebijakan anti‑sains yang dibuat Trump. "Mimpi buruk nasional kami yang panjang sudah berakhir," kata Alta Charo, ahli bioetika di Fakultas Hukum Universitas Wisconsin.

Peneliti berharap banyak kerusakan bisa diperbaiki Biden. Dengan tidak adanya Trump, fisikawan dan spesialis proliferasi nuklir yang berbasis di Islamabad, Pervez Hoodbhoy, akan membuat AS lebih memiliki kerja sama internasional serta akan lebih patuh terhadap hukum dan perjanjian, lebih banyak kesopanan dalam politik di seluruh dunia. "Lebih sedikit 'berita palsu', lebih banyak senyuman, dan sedikit kemarahan," ujar Hoodbhoy.

Yang menjadi pertanyaan, apa arti kemenangan Biden bagi Indonesia?  "Bagi Indonesia, kemenangan Biden akan menurunkan tensi perang dagang antara AS dan China yang mendorong nilai komoditas dan stabilitas pasar keuangan global. Kondisi itu akan menguntungkan Indonesia dari sisi ekspor dan nila tukar. Jadi, kemenangan Biden diharapkan dapat membawa sentimen positif bagi perekonomian Indonesia dengan perubahan kebijakan ekonomi yang akan diambil Amerika Serikat dalam empat tahun ke depan yang berbeda dari pemerintahan saat ini," kata Managing Partner Grant Thornton Indonesia, Johanna Gani.

Namun, ekonom senior Faisal Basri menilai kemenangan Biden tak akan lebih menguntungkan Indonesia. Biden memiliki kebijakan fiskal yang berlawanan dengan Trump. Faisal menyebut Partai Demokrat yang mengusung Biden, lebih 'ribet' dalam persyaratan bisnis bilateral. Menurut dia itu karena dalam menjalin hubungan bilateral, Demokrat kerap memasukkan isu kemanusiaan (human rights) dan energi terbarukan. Ini jauh berbeda dengan Trump yang tak memusingkan hal‑hal tersebut dan cenderung menekankan keuntungan bisnis semata. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved