Inovasi Petani Tamiang, Kembangkan Tanaman Gunung di Daerah Pesisir
Petani di Aceh Tamiang terus berinovasi mengembangkan budidaya sayuran sebagai langkah mendukung ketahanan pangan nasional
Petani di Aceh Tamiang terus berinovasi mengembangkan budidaya sayuran sebagai langkah mendukung ketahanan pangan nasional di masa pandemi Covid-19. Inovasi ini dengan mengembangkan budidaya tanaman yang cenderung hidup di dataran tinggi atau pegunungan.
“Kali ini kami sedang melakukan percobaan mengembangkan sayuran bunga kol,” kata Kadis Pertanian, Perkebunan dan Peternakan (Distanbunak) Aceh Tamiang, Yunus, Selasa (10/11/2020).
Uji coba ini dilakukan di halaman Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Seruway seluas 2,5 rante. Sejauh ini uji coba tersebut membuahkan hasil maksimal, karena 31 batang bunga kol sudah menghasilkan produksi 24,3 kilogram.
Keberhasilan ini sebelumnya di luar prediksi karena bunga kol merupakan khas dataran tinggi, sementara geografis Aceh Tamiang berada di pesisir dataran rendah. “Selama ini untuk jenis tanaman tertentu, kita harus menunggu kiriman dari Berastagi atau Gayo yang merupakan dataran tinggi. Sementara Tamiang merupakan dataran rendah, yang dianggap tidak akan berhasil,” katanya.
Sebelum bunga kol, Distanbunak Aceh Tamiang terlebih dahulu mengembangkan budidaya bawang merah yang juga merupakan tanaman khas pegunungan. Namun, metode yang digunakan cukup berbeda, karena Aceh Tamiang lebih cenderung menggunakan metode yang digunakan petani di Brebes, Jawa Tengah.
Metode yang dinamai true shallot seed (TSS) ini memiliki perbedaan mencolok dengan pola tanam di dataran tinggi. Bila pada umumnya bawang merah diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan umbi sebagai benih, TSS lebih mengedepankan biji botani TSS pun dinilai memiliki keunggulan karena lebih tahan lama dan memungkinkan petani memantau benih sejak disemai.(mad)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/penyuluh-di-bpp-seruway-menunjukan-bunga-kol.jpg)