Breaking News:

Opini

Mengoptimalkan Peran Ayah dalam Keluarga

Sosok ibu sebagai pemasok nilai kasih dan kelembutan pada anak-anak, perannya sebagai stabilitator begitu penting dalam keluarga

Editor: bakri
Mengoptimalkan Peran Ayah dalam Keluarga
IST
Dr. Agustin Hanafi, MA, Ketua Prodi Pascasarjana Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah Aceh

Oleh Dr. Agustin Hanafi, MA, Ketua Prodi Pascasarjana Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah Aceh

Sosok ibu sebagai pemasok nilai kasih dan kelembutan pada anak-anak, perannya sebagai stabilitator begitu penting dalam keluarga, namun peran ayah juga dinilai tak kalah penting, karena sebagai pemasok sifat maskulinitas kepada anak-anaknya. Dewasa ini, sebagian orang hanya mencurahkan perhatian terhadap peran ibu, lalu mengabaikan peran ayah dalam kehidupan anak-anaknya.

Sebagian ayah terlupa dan menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pengasuhan kepada istrinya, sedang ia sibuk dengan tugas, hobi, serta lebih banyak menghabiskan waktu bersama sejawatnya. Tak jarang ketika berada di rumah, ayah masih sibuk dengan gawai sehingga perannya dalam pengasuhan nyaris tidak kelihatan, kecuali hanya dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketitidakhadiran ayah dalam kehidupan anaknya ditenggarai mindset keliru di masyarakat bahwa pengasuhan dan pendidikan anak adalah kewajiban ibu. Intinya ketika ayah pulang ke rumah, ia hanya tahu satu hal, yaitu semua urusan di rumah sudah beres. Ketika anak mendapat nilai rendah di sekolah, terjerat narkoba, pergaulan bebas, dan sebagainya, tudingan miring sering dialamatkan kepada ibu yang dinilai kurang becus mendidik anak. Maka wajar, ketika praktisi Parenting menyebut Indonesia sebagai salah satu negara Fatherless, yaitu hilangnya peran ayah dalam keluarga. Karena ayah kurang matang secara emosional, mudah marah dan emosi, bersikap kasar, memiliki luka pengasuhan, serta sibuk mencari nafkah, laksana Bang Thoyyib yang tak pulang-pulang.

Peran ayah dan ibu begitu vital dalam keluarga, bahkan dalam Alquran dikisahkan, Lukman al-Hakim begitu perhatian terhadap anaknya sehingga menanamkan pondasi yang kuat agar memiliki kesalehan spiritual dan sosial, selamat di dunia dan akhirat. Kemudian bagaimana indahnya dialog nabiyullah Ibrahim dengan Ismail, Ya`qub dengan anaknya. Bahkan sosok Rasulullah yang begitu dekat dan perhatian kepada anaknya, beliau menggendong, memeluk dan menciumnya.

Peran ayah

Kehadiran ayah dan ibu dalam keluarga akan memberikan dampak positif terhadap psikis dan psikologis anak. Sebagaimana hasil penelitian, bahwa anak yang memiliki kedekatan dengan ayahnya beresiko lebih kecil terkena masalah psikologis, cenderung berprestasi dan mendapatkan nilai tinggi, lebih jarang membuat masalah atau berulah, lebih bahagia dan akan berperilaku positif jika sejak bayi dekat dengan ayahnya karena berdasarkan fitrah keayahbundaan, anak laki-laki akan melihat sifat maskulinitas yang dimiliki sang ayah yaitu, jiwa kepemimpinan, keberanian, ketegasan, serta interaksi sosial yang baik di tengah masyarakat.

Sedangkan bagi anak perempuan sosok ayah merupakan pribadi tangguh yang memberikan perlindungan dan kenyamanan, sehingga anak perempuan yang dekat dengan ayah di 5 tahun pertama hidupnya akan lebih matang saat menghadapi fase pubertas, lebih jarang mengalami masalah mental saat beranjak dewasa. Ayah yang kerap memberikan pujian, membantu anak perempuan tumbuh menjadi perempuan yang percaya diri dan mandiri. Ayah bisa mengatasi kesepian yang dialami anak perempuan lebih cepat, sehingga lebih tahan godaan dan rayuan sehingga tidak mudah dibonceng oleh yang bukan mahramnya.

Untuk itu, jangan sepelekan peran ayah, tanamkan peran ayah sebagai pemimpin sedari kecil bagi anak-anak. Mereka akan melihat bagaimana ayahnya mengambil sebuah keputusan sulit dan penuh risiko, arif, dan bijak dalam menyelesaikan persoalan, serta tidak mudah panik ketika ada masalah sehingga anak-anak pun tidak gampang menyerah ketika dihadapkan oleh berbagai tantangan.

Untuk itu, sediakanlah waktu khusus bagi anak, mendampinginya belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah. Tanyakan apa cita-cita dan kesenangannya dengan memberikan pelukan dan mengurus kebutuhan sehari-harinya, karena sentuhan orang tua akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang si anak. Sosok ayah juga hendaknya menjadi pendengar yang baik, kadang anak hanya ingin mencari perhatian dan mengharap pujian dari sang ayah bahwa ia sudah pintar meniup balon, menggambar, mendapat nilai bagus di sekolah atau sudah hafal surat pendek dan sebaginya. Pujian dan respon yang baik tentu akan membuatnya semakin percaya diri, tidak mudah minder dan rendah diri.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved