Breaking News:

Opini

Mengoptimalkan Peran Ayah dalam Keluarga

Sosok ibu sebagai pemasok nilai kasih dan kelembutan pada anak-anak, perannya sebagai stabilitator begitu penting dalam keluarga

Mengoptimalkan Peran Ayah dalam Keluarga
IST
Dr. Agustin Hanafi, MA, Ketua Prodi Pascasarjana Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, Anggota Ikatan Alumni Timur Tengah Aceh

Tak kalah pentingnya adalah menyediakan quality time mengajaknya bermain apa saja yang ia senangi, apakah bermain layang-layang, mengayuh sepeda, berolahraga, memancing, dan lainnya karena dunia anak adalah dunia bermain. Anak akan memiliki kecerdasan kognitif dan psikomotorik jika memiliki kedekatan emosional yang baik dengan ayahnya, untuk itu berikan kesan yang dalam baginya. Misalnya, membacakan cerita sebelum tidur, bagaimana perjuangan Rasulullah, sahabat, penyerangan Kakbah oleh tentara bergajah, proses penciptaan alam semesta, dan sebagainya. Kemudian tak lupa mengagendakan pergi bersama saat akhir pekan ke tempat rekreasi, atau tempat sederhana sekadar duduk-duduk sambil menikmati sebongkah jagung dan sebungkus kuaci.

Dalam mendidik anak, seorang ayah haruslah menjadi panutan bagi anak-anaknya, karena setiap tindak tanduk ayah akan dicontoh anak. Ciptakan suasana rumah menjadi nyaman dan penuh cinta, bersedia menjadi imam shalat bagi istri dan anak serta berdoa dan mengaji bersama sambil mendalami ilmu tajwid dan makna yang terkandung dalam Alquran. Sungguh merupakan momen indah yang tak akan terlupakan sepanjang hayat si anak.

Bahkan, suatu saat dengan penuh rasa bangga akan menyebut-nyebut nama ayahnya, saya bisa seperti ini berkat didikan dan bimbingan ayahku, sehingga ia tak lupa berterima kasih, mendoakan ayahnya sehingga pahalanya mengalir secara terus menerus. Sebaliknya, perangai buruk yang ditampilkan seorang ayah akan menimbulkan luka pada anak hingga dewasa, bahkan akan menimbulkan sifat dendam dan membenci ayah.

Untuk itu tampilkan perilaku terpuji dan syarat nilai-nilai. Misalnya, berkpribadian luhur, rendah hati, tidak reaktif dalam merespon perbedaan, serta selalu bersyukur dan qana`ah. Setiap mau makan dan minum, tidak lupa membaca "basmalah", dengan kondisi duduk, serta mengakhirinya dengan "alhamdulillah". Setiap akan berangkat tugas, memberitahu istri dan anak, memeluk dan menciumnya, menjabat tangan sembari mendoakannya, dan ketika masuk rumah, tidak lupa mengucapkan salam.

Berkata lembut dan santun kepada istri dan anak, tidak mudah marah, tidak bersikap egois, dan sebagainya karena semua ini akan direkam oleh memori anak secara baik, dan suatu saat anak pun akan mempraktekkan hal yang sama kepada keluarganya. Sikap terpuji akan melahirkan nilai positif yang akan dikenang sepanjang masa, sebaliknya sikap kasar dan tercela akan mudah tertular dan meracuni jiwa si anak sehingga akan menjustifikasi bahwa apa yang dilakukan oleh ayahnya baik yang dapat ditiru.

Begitulah pentingnya sosok peran ayah, maka harus selalu bersedia hadir dalam keluarga. Jangan dibiarkan anak menjadi yatim sebelum waktunya karena laki-laki yang hanya diasuh ibunya, yang pada umumnya penuh protektif, maka anak laki-laki akan berkembang menjadi pribadi yang penurut, namun minim keberanian. Selamat Hari Ayah! Wallahu A`lam! (agustinhanafi77@yahoo.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved