Breaking News:

Opini

Akan Shutdown-kah Perbankan Aceh?

Perbankan syariah secara total di Provinsi Aceh telah digagas, merupakan suatu hal yang sangat membanggakan kita semua

Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc, Dosen Fakultas Pertanian Unsyiah 

Oleh Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc, Dosen Fakultas Pertanian Unsyiah

Perbankan syariah secara total di Provinsi Aceh telah digagas, merupakan suatu hal yang sangat membanggakan kita semua. Perbankan syariah adalah harapan bagi masyarakat untuk peningkatan kesejahteraan dengan perputaran uang yang terjaga kehalalannya.

Namun demikian, kenapa pola penerapan bank syariah di Aceh seolah menuai badai masalah, bukan menggapai maslahah?

Masyarakat harus mengantri panjang di bank-bank di masa pandemi karena berbagai kasus seperti pemblokiran atm. Masyarakat juga kelabakan ketika semua mesin atm tidak berfungsi, di mana beberapa atm bank konvensional seperti bank mandiri sudah tidak ada lagi. Fasilitas setor tunai melalui atm adalah salah satu layanan yang kiranya akan segera hilang bagi masyarakat Aceh.

Polemik yang terjadi akibat kebijakan ini sangat dramatis. Seorang ibu-ibu dengan sangat sedih sampai memohon kepada teller agar uangnya dapat diambil, sebab ada keperluan membayar tagihan yang sudah deadline, atm-nya terblokir dan sementara itu pelayanan di bank tersebut sangat macet karena membludaknya masyarakat yang terimbas. Perasaan terjajah lagi betul-betul lahir dalam situasi seperti ini yang sudah tentu tidak diketahui oleh para pejabat Aceh yang sentiasa berada dalam zona aman dan nyaman. Lagi-lagi masyarakatnya terdhalimi dengan kebijakan yang tidak bijaksana.

Di tempat lain, seorang pengusaha pangkalan gas elpiji subsidi harus mengurut dada, atm-nya diblokir lalu harus mengantri sepanjang hari untuk proses pembukaan blokir tersebut. Proses tebus gas ke pertamina harus tetap melalui sistem brimola di BRI konvensional, dan untuk memasukkan uang hasil penjualan gasnya dia harus melakukan di bank syariah dan kemudian melakukan transfer antarbank agar proses tebus selanjutnya dapat dilakukan. Ada juga seorang bapak yang masuk ke dalam kamar atm menjadi kecewa karena dari sejumlah mesin yang ada, semua atm berlogo bank syariah sedang dalam kondisi tidak bisa dipakai.

Seorang bapak yang lain kecewa dan marah-marah kepada teller karena atm-nya tidak berfungsi di Aceh, sedangkan di daerah lain atm-nya berfungsi. Apakah yang sedang terjadi di Aceh, akan shutdown kah layanan perbankan di Aceh? Siapakah yang mau diuntungkan dengan program Pemerintah yang seperti ini?

Hal ini tidak lain adalah dampak dari kebijakan top to bottom yang salah juknisnya. Pemerintah mengharuskan semua bank konvensional untuk angkat kaki dari Aceh. Dapat dikatakan ini adalah bentuk pengusiran perbankan konvensional seolah-olah hendak menghapuskan posisi bank-bank tersebut. Seluruh perkantoran bank konvensional ditutup, seluruh mesin atm-nya diangkat dan bahkan seluruh pegawai juga harus keluar dari Aceh. Kalau dalam suatu kompetisi, ini adalah metode yang tidak sehat di mana memanfaatkan kesempatan untuk mendeskriditkan lawan.

Rasa-rasanya kita ingin memeriksa dompet para pejabat Pemerintah Aceh, apakah mereka masih memiliki kartu-kartu atm bank konvensional? Apakah Pemerintah mau nyaman tapi masyarakatnya susah? Apakah Pemerintah dalam hal ini memahami dengan baik jenis-jenis transaksi perbankan yang diperlukan masyarakatnya? Bagaimana sistem tebus barang di agen-agen yang bekerja di bawah perusahaan nasional, bagaimana sistem perdagangan nasional dan internasional dapat dilakoni oleh warganya melalui alibaba, tokopedia, bukalapak, dll?

Di lain pihak Pemerintah mengharuskan warganya untuk konversi rekening banknya ke bank syariah tanpa pertimbangan apakah sumber daya perbankan syariah sudah memadai, cukup atau tidak kemampuannya untuk melayani seluruh kebutuhan transaksi masyarakat, cukup tidak sarana teknologi digital yang dimiliki, dan seterusnya. Di tengah ekonomi yang carut marut dengan pandemic Covid-19, isu konversi total bank syariah ini menjadi virus lain yang akan memandulkan perekonomian masyarakat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved