Breaking News:

Opini

Akan Shutdown-kah Perbankan Aceh?

Perbankan syariah secara total di Provinsi Aceh telah digagas, merupakan suatu hal yang sangat membanggakan kita semua

Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc, Dosen Fakultas Pertanian Unsyiah 

Pihak bank konvensional juga telah melakukan hal yang anti undang-undang KUHAP yaitu melakukan pemblokiran layanan kepada nasabahnya, misalnya pemblokiran atm. Padahal, hal pemblokiran boleh dilakukan apabila seseorang terlibat kasus tindak pidana, bukan dalam hal tidak melakukan konversi rekeningnya. Sebagian masyarakat yang masih membutuhkan layanan bank konvensional seolah dipaksa untuk menutup rekening banknya dan hanya membuka rekening bank syariah saja.

Pertanyaannya apakah warga Aceh tidak boleh memiliki rekening di bank konvensional? Lalu bagaimana mereka akan mengirimkan uang kepada anak yang sedang kuliah di luar daerah? Bagaimana mereka akan membayar tagihan kartu kredit dan listrik? Bagaimana mereka akan melakukan transaksi belanja online yang termudahkan dengan rekening di bank-bank bonafit seperti bank central asia (BCA), bank mandiri atau bank BNI? Bagaimanakah nasib pekerja-pekerja perusahaan nasional dan multinasional? Bagaimanakah nasib turis yang datang ke Aceh nantinya ketika atm mereka tidak berfungsi? Bagaimanakah para investor dapat berbisnis dengan lancar?

Fungsi bank adalah sebagai tempat menyimpan uang yang aman dan memudahkan transaksi di era digital ini seperti membayar tagihan dan belanja secara nontunai. Sejauh seseorang menggunakan fungsi bank ini, maka jenis bank apapun adalah tidak melanggar syariat Islam. Sedangkan dalam hal tujuan penyimpanan uang adalah untuk investasi atau untuk pembiayaan, maka perbankan yang melaksanakan akad syariah harus dijadikan pilihan oleh masyarakat.

Pemahaman yang seperti ini seharusnya dibangun sehingga pikiran kita tidak jatuh kolot dan seperti memaksakan diri untuk menguasai perbankan di Aceh dengan bank syariah ketika sumber daya yang dimiliki belum mencukupi.

Kenapa tidak sebagai alternatif, Pemerintah memperkuat eksistensi bank syariah di Aceh, sehingga lambat laun masyarakat akan beralih dengan sendirinya ke perbankan syariah, kalau benar ia syariah. Terutama sekali sistem di bank lokal yang kita cintai yaitu bank Aceh. Sampai saat ini bank Aceh belum memiliki fasilitas layanan transaksi digital berbasis internet atau mobile banking, kecuali sistem sms banking.

Penguatan bank lokal dengan teknologi digital dan sistem perbankan syariah seharusnya dapat dilakukan oleh Pemerintah apabila benar ingin mensupport perekonomian masyarakat. Pelayanan bank Aceh harus prima di segala segi, terutama di segi keramahan dan kecepatan petugas bank dalam memberikan pelayanan kepada nasabah. Bank Aceh dapat mengucurkan berbagai produk yang menggunakan akad syariah misalnya tabungan mudharabah dan wadiah, program pembiayaan atau jual beli berbasis syariah dan program investasi bagi hasil berbasis syariah.

Beberapa kearifan lokal dapat diadaptasikan dalam program bank Aceh seperti transaksi mawah. Dan perlu usaha serius dari pemerintah untuk memberantas rentenir-rentenir yang berjamur di tengah masyarakat yang sejatinya merupakan penyebab rusaknya perekonomian masyarakat. Usaha rentenir semacam ini patut dikategorikan sebagai kejahatan karena sifatnya yang sangat parasit dengan sistem pelipatgandaan uang.

Kesadaran masyarakat bahwa perbankan syariah adalah solusi alternatif pengganti rentenir perlu dipromosikan oleh Pemerintah dengan lebih gencar. Semoga implementasi bank syariah membawa maslahah bagi Aceh.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved