Breaking News:

Berita Lhokseumawe

Bikin Salut! Ini Alasan TNI Bantu Pengungkapan Kasus Penyelundupan Imigran Rohingya di Lhokseumawe

Ia menerangkan, selama ini banyak terjadi kasus-kasus perdagangan manusia, termasuk terhadap etnis Rohingya yang berusaha mencari suaka di negara lain

SERAMBINEWS.COM/ ZAKI MUBARAK
Dandim 0103/Aceh Utara, Letkol Arm Oke Kistiyanto 

Laporan Zaki Mubarak | Lhokseumawe

SERAMBINEWS.COM, LHOKSEUMAWE - Kodim 0103/Aceh Utara sejauh ini telah empat kali menyelamatkan imigran etnis Rohingnya dari upaya pelaku sindikat perdagangan manusia yang hendak menyelundupkan mereka ke Malaysia melalui Tanjung Balai, Sumatera Utara (Sumut).

Para pelaku diduga sindikat perdagangan manusia terus berupaya dengan berbagai cara agar dapat membawa imigran asal Myanmar itu keluar dari kamp bekas Balai Latihan Kerja (BLK) Kandang di Gampong Meunasah Mee, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe.

Dandim Aceh Utara, Letkol Arm Oke Kistiyanto kepada Serambinews.com, Sabtu (21/11/2020), membeberkan, tindakan yang dilakukan oleh TNI itu sengaja untuk mengantisipasi agar etnis Rohingya yang ditampung di dalam kamp sementara tersebut tidak menjadi korban perdagangan manusia, prostitusi, atau dipekerjakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Tindakan ini jelas untuk menghindari mereka agar tidak menjadi korban perdagangan manusia, dipekerjakan oleh pihak tidak bertanggung jawab, bahkan bisa saja mereka nantinya dijadikan wanita-wanita di rumah-rumah prostitusi. Sebelum itu terjadi, kita harus antisipasi,” ungkap Letkol Oke Kistiyanto.

Ia menerangkan, selama ini banyak terjadi kasus-kasus perdagangan manusia, termasuk terhadap etnis Rohingya yang berusaha mencari suaka di negara lain.

Baca juga: Pelaku Diupah Rp 6 Juta Bila Berhasil Bawa Kabur 4 Rohingya di Lhokseumawe

Baca juga: Dijanjikan Rp 6 Juta, Driver Ojol Terbang dari Tangerang ke Lhokseumawe Hendak Bawa Kabur Rohingya

Baca juga: Polisi Tetapkan Empat Tersangka Kasus Penyelundupan Rohingya di Lhokseumawe

Pelakunya, sebut Dandim, jelas sindikat dan mafia dengan jaringan yang kuat. Praktik perdagangan manusia, lugasnya, jelas sebuah kejahatan dan bisnis yang jarang terungkap ke permukaan.

Menurut Dandim, tindak pidana perdagangan manusia diatur dalam Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, di mana pelakunya bisa disanksi penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun.

“Intinya, apa yang kami lakukan selama ini demi kemanusian. Dan itu mendorong kami untuk terus berupaya menggagalkan upaya penyelundupan etnis Rohingya yang kian hari kian marak di BLK Kandang,” paparnya.

Dandim berharap, lembaga pengungsi dunia UNHCR menjadi leading sector dan bertanggung jawab penuh terhadap penanganan imigran Rohingya di Aceh, karena lembaga itu bukan implementor of last resort atau penanggung jawab terakhir.

Baca juga: Mantan Tentara Jadi Begal, Nekat Pakai Seragam TNI Setiap Kali Beraksi

Baca juga: Kodim Aceh Timur Pusatkan Binter di Peureulak, Programkan Rehab RTLH hingga Buat Rumah Online

Baca juga: Update Corona Hari Ini, Pasien Positif Covid-19 di Aceh Besar Capai 1.489 Orang

“Jangan karena Aceh memiliki rasa sosial dan kemanusian yang tinggi, kemudian UNHCR memanfaatkan itu untuk tidak bertanggung jawab atas nasib Rohingya di pengungsian atau Abuse Our Humanity. Lembaga pengungsi itu juga bukan implementor for last resort,” demikian Oke Kistiyanto.(*)

Penulis: Zaki Mubarak
Editor: Saifullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved