H Anwar Risyen, Mengemban Dua Jabatan di DPRK Aceh Utara
Saat duduk di bangku kelas tiga SD, ayahnya meninggal dunia, sehingga dia harus mencari biaya sendiri untuk sekolah dan jajanan harian
Perjuangan H Anwar Risyen, Ketua Badan Kehormatan Dewan (BKD) Aceh Utara ketika kecil memang berat. Saat duduk di bangku kelas tiga SD, ayahnya meninggal dunia, sehingga dia harus mencari biaya sendiri untuk sekolah dan jajanan harian. Saat itu, anak kedua dari lima bersaudara masih mencari kepiting di tambak dan udang untuk dijualnya sepulang sekolah.
Kegiatan itu berlanjut sampai usia remaja. Tahun 1990-an, Anwar Risyen mencoba membuka usaha jual beli udang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Awalnya sempat berjalan lancar, tapi enam bulan kemudian merugi karena tak mampu bersaing dengan tauke udang yang berada di kawasan yang memiliki banyak modal, dan pengalaman.
Namun, Anwar tak patah semangat. Ia kembali mencoba usaha jual beli udang, tapi kembali merugi lagi-lagi karena persoalan sama. Ini juga terjadi sampai empat kali. “Saat itu saya berpikir, bagaimana orang lain bisa maju usahanya kenapa saya tidak,” ujar Anwar. Karena itu terus mengkaji untuk mencari solusi atas persoalan yang dihadapinya. Pria kelahiran Paya Dua Uram, 2 Juli 1973 kemudian mengumpulkan udang dari luar Kecamatan Seunuddon, lalu dijual ke pengusaha lokal dan Medan. Cara tersebut ternyata menjadi solusi atas kegagalan sebelumnya. Usahanya semakin berkembang. Bahkan saat krisi moneter, pertahun keuntungan yang diperoleh Anwar melebihi Rp 2 miliar lebih.
Sampai tahun 2000, suami Hj Hasniah menjadi satu-satunya pengusaha yang memiliki modal belasan miliar. Apalagi, saat itu Anwar sudah membangun jaringan untuk ekspor udang ke luar negeri. “Tapi, tahun 2001, saya bangkrut lagi setelah terjadinya peristiwa runtuhnya Gedung WTC di New York, karena ekspor udang terhenti,” katanya.
Sedangkan Anwar sudah mengumpulkan udang dengan modal belasan miliar. “Setelah kejadian itu, saya mulai bangkit dan tak lama kemudian mulai normal kembali, sehingga saat terjadi pengungsian tsunami Aceh, bisa menyumbang barang senilai Rp 1 miliar lebih, di sejumlah lokasi,” ungkap Anwar.
Setelah Aceh damai, banyak tokoh masyarakat termasuk eks kombatan yang datang untuk meminta supaya dirinya maju sebagai caleg. Namun, Anwar langsung menolaknya. Jelang Pemilu 2014, tokoh masyarakat kembali datang agar dia maju. “Saya juga menolak, tapi semakin banyak masyarakat yang mendorong, bahkan mereka yang mendaftarkan saya sebagai caleg,” katanya.
Periode 2014-2019, Anwar Risyen satu-satunya anggota dewan dari Partai Gerindra di Aceh Utara. Kini periode kedua, Anwar selain menduduki jabatan BKD, juga dipercayakan menjadi Ketua Fraksi Gerakan Keadilan, gabungan dari Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, dan PAN.(jaf)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/h-anwar-risyen-ketua-badan-kehormatan-dewan-bkd-aceh-utara.jpg)