Breaking News:

Opini

Realitas Hidup

Keberadaannya tidak dapat dipisahkan dengan ruang dan waktu, yakni dunia realitas atau kenyataan saat ini (of now)

Realitas Hidup
IST
Adnan, Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh

Oleh Adnan, Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh

Manusia merupakan makhluk sosial (zoon politicon, annas) dan diciptakan beragam oleh Allah Swt. Keberadaannya tidak dapat dipisahkan dengan ruang dan waktu, yakni dunia realitas atau kenyataan saat ini (of now). Dimana setiap orang akan berhadapan dengan ragam realitas kehidupan yang sesunggguhnya, baik yang menyenangkan (lovers) maupun yang tidak menyenangkan (haters).

Realitas yang dimaksud meliputi kenyataan dalam menghadapi berbagai fenomena alam dan sosial, peristiwa dan kejadian, interaksi dan komunikasi dengan sesama manusia `saat ini'. Memahami realitas `saat ini' urgen dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam kehidupan sering ditemukan orang-orang yang tidak mau tahu dengan kenyataan. Ia menjadi sosok yang pongah dan lengah, sehingga sulit menerima kenyataan atau realitas hidup. Padahal, jika seseorang tidak dapat memahami realitas/ kenyataan dengan baik dan sempurna (syamil, holistic), maka ia akan menghadapi berbagai kesenjangan dalam kehidupan pribadi dan sosial, semisal dikucilkan, dicurigai, dibenci, dan dianggap orang lain (out group) oleh lingkungan keluarga dan sosial.

Akhirnya, lambat laun pun ia menjadi sosok yang `berbeda' dalam lingkungan keluarga dan sosial. Jika hal ini terus terjadi, maka muncullah beragam patologis sosial baru dalam kehidupan, semisal egois, individualistik, musuh bebuyutan, dan berbagai perilaku destruktif dan amoral lainnya.

Maka inilah di antara penyebab terjadinya kesenjangan sosial, perusak hubungan pertemanan, sebab putus silaturahmi, dan saling menjadi `orang lain' dalam realitas kehidupan. Fenomena ini dapat terjadi dalam setiap setting realitas kehidupan, semisal keluarga dan tempat kerja. Pun, tak jarang ditemukan dalam realitas kehidupan terjadinya konflik antara satu individu atau kelompok dengan individu atau kelompok lain. Dimana setiap individu atau kelompok saling menganggap individu atau kelompok lain sebagai `mereka', sehingga keberadaannya hanya mempertegas posisi `kita'.  Inilah awal konflik itu terjadi. Sebab itu, Tajfel dan Turner (1987) mengungkap dalam teori the social identity bahwa `kita' (in-group) selalu menjadi acuan dalam menilai `mereka' (out-group).

Lebih lanjut, pembentukan identitas sosial antara `kita' dan `mereka' selalu muncul dalam seluruh aspek kehidupan. Semisal, munculnya diskriminasi dalam dunia pendidikan antara `swasta' dan `negeri', terdaftar dan terakreditasi, pendidikan agama dan umum.

Dalam dunia politik, munculnya diskriminasi antara partai penguasa dan oposisi, partai lokal dan nasional, hingga populer adagium: `meunyoe kon ie leuhob, meunyoe kon tanyoe gob'. Bahkan, pembentukan identitas sosial ini pun merambah ke paham keagamaan, semisal berbeda mazhab, dan beda organisasi keagamaan yang digeluti.

Artinya, kalimat: `kita Islam' tidak cukup untuk pembentukan identitas sosial seorang muslim, tapi akan berlanjut dengan ragam identitas lain yang lebih spesifik. Semisal, identitas `Islam santri', `Islam priyayi' dan `Islam abangan' yang dikemukan oleh Clifford Geertz.

Sikap saling

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved