Breaking News:

Opini

Realitas Hidup

Keberadaannya tidak dapat dipisahkan dengan ruang dan waktu, yakni dunia realitas atau kenyataan saat ini (of now)

Realitas Hidup
IST
Adnan, Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh

Maka resolusi konflik (ishlah) hanya dapat dilakukan dengan menumbuhkan sikap saling, yakni saling mengenali (ta'aruf) dan saling memahami (tafahum), sehingga lahir sikap saling toleransi (tasamuh) dan saling membantu (ta'awun), serta saling menjamin (takaful). Konflik itu terjadi disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang dalam menumbuhkan sikap saling, untuk memahami dunia realitas dalam kehidupan sosial.

Sebab itu, setiap pertemanan atau komunitas perlu membangun `keintiman psikis' antaranggota kelompok, agar sesama anggota kelompok memiliki sikap saling, sehingga pertemanan atau komunitas menjadi guyub, langgeng, mesra, dan harmoni selamanya.

Manusia itu unik. Maka setiap individu harus menyadari bahwa ia tidak berhak memaksa kehendak agar `sama dengan orang lain' dan `orang lain sama dengannya'. Bahkan, secara teologis pun manusia diciptakan beragam, meliputi agama, jenis kelamin, sosial budaya, suku bangsa, ras, kecerdasan, orientasi, dan karakter (Qs. Al-Hujurat: 13).

Keragaman ini menjadi keunikan dan hamparan kemahakuasaan Allah Swt, bertujuan agar menjadi medium pembelajaran dan refleksi bagi seluruh umat manusia (Qs. Ali Imran: 191). Maka setiap individu mesti harus menumbuhkan sikap saling dalam dunia realitas, agar kehidupan bertambah guyub, mesra dan harmonis, sehingga tercapainya cita-cita bersama.

Lebih lanjut, William Glasser (1925-2013), seorang psikolog dan psikiater berkebangsaan Amerika Serikat, mengembangkan teori reality therapy (konseling/ terapi realitas), sebagai terapi untuk menghubungkan (koneksi) individu dengan dunia realitas. Teori ini muncul disebabkan perhatian Glasser terhadap banyak individu yang tidak dapat memahami dunia realitas, sehingga sering timbulnya pertentangan dalam kehidupan sosial.

Padahal, mestinya setiap orang hidup dengan kenyataan saat ini, bukan dengan kenyataan di masa lalu. Semisal, seseorang yang pernah berkuasa di masa lalu, mestinya ia menerima kenyataan hidup di masa pensiun, atau pernah kaya di masa lalu, mestinya ia siap dengan kehidupannya di kala miskin. 

Bukankah sering dijumpai orang-orang yang tidak mau menerima kenyataan dalam hidup? Sehingga ia frustasi, depresi, stres, gampang sakit, dan berbagai dampak buruk psikis dan biologis lainnya, yang disebabkan oleh waham kebesaran (grandiose) dan enggan menerima kenyataan. Maka profetik menyebutkan bahwa penyakit berbahaya yang mengidap umat manusia adalah wahn, yakni terlalu mencintai dunia dan takut mati.

Syaikh Az-Zarnuji juga mengungkapkan bahwa gila dunia akan menghalangi seseorang berbuat kebaikan, dan gila akhirat akan membawa seseorang ke dalam kebaikan (Ta'lim Muta'allim: 42).  Berkali-kali Allah Swt memastikan bahwa akhirat itu lebih baik dan kekal (Qs. Al-A'la: 17).

Mestinya masa lalu hanya menjadi medium pembelajaran dan refleksi agar lebih baik di masa kini dan masa depan. Semisal adagium: experience is the best teacher (pengalaman adalah guru terbaik). Jangan sampai masa lalu menjadi penghambat untuk berkembang dan maju di masa kini dan masa depan. Ketika seseorang hanya terpaku dengan pengalaman masa lalu, maka ia akan mengalami gangguan interaksi dan komunikasi di masa kini. Sehingga menyebabkan munculnya kesenjangan antara dirinya dengan orang lain.

Jika seseorang pernah membenci dan dibenci di masa lalu, mestinya ia menjadi pribadi yang pemaaf di masa kini. Sebagai wujud dari kemampuan ia dalam beradaptasi dengan dunia realitas sebagai dunia yang sedang dijalani. 

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved