Breaking News:

Salam

Ternyata Dunia Kesulitan Perbaiki Perekonomian

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, salah satu hal yang dibahas dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Menteri Keuangan Sri Mulyani 

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, salah satu hal yang dibahas dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 adalah financial track sebagai upaya untuk menghadapi Covid-19 yang telah menyebabkan dampak luar biasa di berbagai negara.

“Oleh karena itu, semua negara melakukan kebijakan bersama-sama untuk menangani Covid dan mengembalikan perekonomian agar pulih kembali. Dukungan kebijakan perekonomian dan keuangan terutama di bidang fiskal, moneter, dan regulasi di bidang sektor keuangan perlu dilakukan dan terus dilakukan," kata Sri Mulyani.

Menkeu mengingatkan, meskipun pada kuartal ketiga banyak perekonomian di negara G20 sudah menunjukkan adanya pembalikan, namun itu masih sangat awal dan masih sangat rapuh. Makanya, kebijakan fiskal, moneter, dan regulasi sektor keuangan harus tetap dijalankan sampai ekonomi betul-betul pulih secara kuat.

"Dalam financial track juga dibahas mengenai pembiayaan dari vaksin Covid-19 yang tentu memakan resources yang sangat besar. Dalam hal ini dibahas mengenai bagaimana negara-negara terutama negara berkembang bisa mendapatkan akses vaksin," tambah Sri Mulyani.

Secara teori, dalam kondisi demikian, peranan lembaga multilateral dalam memberikan dukungan pendanaan bagi negara-negara berkembang atau negara miskin untuk mendapatkan vaksin sangat diperlukan. Sebab, akses terhadap vaksin ini penting karena tidak akan ada pemulihan ekonomi di seluruh dunia jika seluruh negara belum mendapatkan akses vaksin.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan virus Corona merusak ekonomi dunia lebih buruk dari angka perkiraan yang dikeluarkan sebelumnya. IMF kini memprediksi output ekonomi dunia tahun ini akan menyusut hampir 5%, atau hampir 2% lebih buruk dari perkiraan yang dirilis pada bulan April.

Dalam satu laporan yang dikeluarkan beberapa waktu lalu, disebutkan, dengan penurunan maka dunia bakal kehilangan output ekonomi senilai US$12 triliun selama dua tahun. China adalah satu-satunya negara besar yang diperkirakan akan tetap mencatat pertumbuhan walaupun hanya 1% tahun ini. Sedangkan sejumlah negara Eropa Barat, termasuk Inggris dan Prancis, diperkirakan mengalami penyusutan lebih dari 10%.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, sudah memperingatkan bahwa berbagai peristiwa telah menggugurkan perkiraan versi bulan April. Ditambahkan arah perekonomian global kini lebih buruk. 'Indonesia berpotensi resesi' - dampak ekonomi akibat pandemi 'jauh lebih berat' ketimbang krisis moneter 1998

Perkiraan yang suram itu antara lain mencerminkan kenyataan bahwa data sejak April menunjukkan penurunan lebih tajam dibanding perkiraan sebelumnya. Namun IMF memperkirakan konsumsi konsumen akan sangat terpengaruh. Laporan IMF menggarisbawahi bahwa ada sesuatu yang tidak biasa dalam tren penurunan ini. Biasanya konsumen menggunakan tabungan, atau mendapat bantuan dari keluarga dan sistem jaminan sosial untuk mengurangi fluktuasi pengeluaran.

Warga diperkirakan lebih banyak "menabung untuk jaga-jaga", mengurangi konsumsi karena masa depan yang tidak menentu.  Hal yang peling penting dari laporan IMF itu adalah kita diperingatkan untuk berhati-hati mengelola keuangan karena kemungkinan timbulnya "luka" ekonomi. Dengan adanya lebih banyak perusahaan yang bangkrut dan orang lebih lama menganggur maka lebih sulit bagi roda perekonomian untuk menggelinding lebih cepat sebagaimana diharapkan.

Itulah sebabnya, memulihkan ekonomi harus sejalan pula dengan pencegahan penularan infeksi Corona secara disiplin. Maka, jangan lupa mengenakan masker setiap beraktivitas di luar rumah, jangan lupa mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, serta jaga jarak artinya jangan berkerumun!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved