Breaking News:

Opini

Menanti Pemimpin Wira'i

Ada banyak ekspresi ketika seseorang berhasil memperoleh sesuatu yang sangat diidam-idamkan

Menanti Pemimpin Wira'i
IST
M ANZAIKHAN, S.Fil.I., M.Ag., Direktur Pematik (Pusat Entrepreneur) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Banda Aceh

M. Anzaikhan, S.Fil.I., M.Ag.

Alumnus Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry dan Founder Komunitas Menulis Pematik Banda Aceh   

Ada banyak ekspresi ketika seseorang berhasil memperoleh sesuatu yang sangat diidam-idamkan. Pada masa akumulasi hasil pilkada misalnya, terkadang saya membayangkan fenomena itu dengan imajinasi yang berbeda.

Sesekali saya berfikir, bagaimana ekspresi kandidat ketika ia dinyatakan menang dan terpilih sebagai seorang kepala daerah. Jika mereka seorang Muslim, mungkin ada yang melakukan sujud syukur, ada yang menangis haru, bahkan tak jarang ada yang memeluk istri atau suami terkasih.

Menarik jika beragam ekspresi itu disandingkan dengan apa yang dialami oleh Umar bin Abdul Aziz. Saat ditunjuk sebagai Khalifah, kata yang terucap di bibirnya justru berkonotasi terbalik dengan kebiasaan umum. Ia dengan spontan mengucapkan; "Innalilahi wa innailaihi rojiun". Pertanda bahwa itu adalah kabar buruk atau musibah bagi dirinya.

Umar sempat meminta pemilihan ulang secara demokratis, tapi itu tidak mengubah hasil apapun. Sebab, ia adalah sosok yang dianggap mampu dan dicintai oleh umat muslim saat itu. Umar pun pulang dan menangis karena ia takut tidak mampu mengemban tanggung jawab yang begitu besar.

Coba bayangkan, apakah ada sosok seperti Umar di era milenial seperti sekarang ini? Di saat posisi khalifah yang dulunya diperebutkan dengan berdarah-darah, namun ia justru ingin menolaknya. Ini menjadi pelajaran, bahwa dalam memilih pemimpin sebaiknya memilih sosok yang tidak ambisius. Namun, jika sudah percaya, maka ia siap untuk mengemban amanah rakyat.

Salah satu yang menyebabkan Umar menjadi idaman rakyat, bahkan ditunjuk oleh Khalifah sebelumnya adalah karena kiprahnya sebagai gubernur yang dianggap adil dan wira'i. Wira'i atau dalam orientasi tasawuf disebut juga dengan wara', merupakan sikap seorang sufi yang memiliki kondisi jiwa yang sangat berhati-hati.

Bila dikaitkan dengan wilayah fiqh, seorang pemimpin wira'i adalah pemimpin yang menjauhi perkara subhat (tidak jelas), perkara makruh, apalagi haram.

Sebagai contoh, Umar bin Abdul Azis mematikan lampu kerjanya jika urusan negara sudah selesai. Padahal, ia masih berada di ruang tersebut untuk mengurus atau menunggu seseorang. Pernah juga, ketika Umar membutuhkan air panas, ajudannya mengambil air tersebut melalui dapur umum. Setelah keperluannya selesai, Umar mengganti biaya air tersebut, termasuk biaya kayu bakarnya karena takut (sedikit saja) memakan uang negara.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved