Breaking News:

Opini

Membumikan "Islam Wasathiyah"

Islam wasathiyah bukanlah Islam aliran baru. Sebab, wasathiyah merupakan salah satu karakteristik ajaran Islam

Editor: bakri
Membumikan
IST
Teuku Zulkhairi, Dosen UIN Ar-Raniry, Penulis buku `Paradigma Islam Wasathiyah Tu Sop Jeunieb"

Menurut al-Qardhawy, wasathiyah ini bisa dipahami sebagai tawazun, dengan makna seimbang atau adil. Tidak berat sebelah antara spirtualisme dan materislisme, antara individu dan jama'ah, antara realitas dan idealitas, antara keteguhan dan perubahan, antara orientasi duniawi, dan orientasi ukhrawi.

Secara praksis, aplikasi karakteristik ini akan menjadikan seorang Muslim sebagai hamba Allah yang senantiasa menjadi manusia unggul dan teladan sesuai harapan Islam. Jika hari ini kita melihat segudang persoalan yang mendera masyarakat Muslim sehingga membuatnya lemah di pentas, maka hal itu seringkali terjadi karena jauhnya umat Islam dari pengamalan karakteriktik ajaran yang wasathiyah.

Ketika jauh dari karakter Wasathiyah ini, maka seseorang akan condong ke salah satunya dan meninggalkan yang lain. Misalnya condong kepada dunia lalu melupakan akhirat. Atau tidak peduli pada urusan bagaimana membuat dunia ini agar lebih baik dan hanya fokus pada urusan akhirat.

Kalau hari ini kita melihat perpecahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Muslim, maka itu juga terjadi karena menjauh karakteristik wasathiyah. Akibatnya masyarakat Muslim menjadi lemah karena tercera beraih. Sebab, mereka sibuk bertikai dengan sesama mereka. Padahal, mereka sedang dihadapkan pada persoalan besar di hadapan mereka, yaitu kezaliman dan ketimbangan yang mendera masyarakat Muslim di berbagai belahan dunia yang dapat mengancam eksistensi mereka.

Oleh sebab itu, pada titik ini saya menjadi sangat tertarik ketika Tu Sop Jeunieb suatu waktu berkata: "Jangan sampai kita ini seperti bertarung di kandang macan. Yang menang dan yang kalah sama-sama akan dimakan macan". Ungkapan ini diungkapkan Tu Sop ketika beliau berpartisipasi dalam Pilkada Bireuen. Saat itu, beliau juga mengatakan, "Siapa bisa menang (dalam Pilkada Bireuen), asalkan anak-anak kita berada di dalam negeri yang memiliki peradaban dan mampu bersaing di pentas global".

Pandangan seperti ini semestinya dimiliki oleh umat Islam lainnya, khususnya pada elit-elit kita. Kita harus mampu memposisikan seorang Muslim lain sebagai partner kebaikan, bukan lawan. Inilah yang antara lain mendorong saya menyelesaikan naskah buku berjudul "Paradigma Islam Wasathiyah Tu Sop Jeunieb" yang beberapa hari lalu dibedah guru besar UIN Ar-Raniry, Prof Syamsul Rijal, M. Nasir Djamil (DPR RI), Usamah el Madny (Dinas Dayah) dan sastrawan Aceh, Thayeb Loh Angen.

Saya melihat ini cara pandang yang sangat penting untuk dibumikan agar sebagai bangsa kita dapat keluar dari persoalan yang mendera kita. Mengutup teori al-Qardhawy, bahwa di antara bukti-bukti Wasathiyah adalah saat dimana seorang Muslim dapat menjadi pusat persatuan umat (Wihdatul Ummah).

Seorang Muslim akan dapat menjadi pemersatu umat apabila ia mampu memposisikan manusia pada posisi manusia. Sering kita dengar petuah para ulama sufi agar kita jangan pernah merasa diri lebih baik dari orang lain. Alquran bahkan secara tegas juga meminta kita agar jangan merasa diri paling suci.

Dengan cara ini kita akan dapat melihat manusia lain dengan pandangan kasih sayang sehingga kita akan menjadi pusat persatuan. Visi dan misi yang harus kita miliki dimanapun posisi kita adalah memperkuat arus kebaikan dan perbaikan. Dimanapun posisi kita tugas kita adalah amar ma'ruf dan nahi mungkar, karena dengan cara itu kita akan menjadi umat terbaik.

Selain itu, di antara karakter wasathiyah pada diri seorang Muslim adalah ketika dia mampu menunjukkan akhlaknya sesuai dengan akhlak yang diajarkan Rasulullah Saw, senantiasa istiqamah di atas jalan Islam yang lurus. Walllahu a'lam bishshawab.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved