Breaking News:

Jurnalisme Warga

Bunga dan Dampak Sosial

Akhir-akhir ini, terutama sejak pandemi, kaum ibu mulai ramai mengoleksi berbagai jenis bunga. Tidak diketahui pasti apa sebab berbagai bunga tersebut

Bunga dan Dampak Sosial
IST
QUDDUSIS SARA, Amd.Gz., Siswa Sekolah Kita Menulis dan alumnus Poltekkes Kemenkes Aceh, melaporkan dari Bireuen

OLEH QUDDUSIS SARA, Amd.Gz., Siswa Sekolah Kita Menulis dan alumnus Poltekkes Kemenkes Aceh, melaporkan dari Bireuen

Akhir-akhir ini, terutama sejak pandemi, kaum ibu mulai ramai mengoleksi berbagai jenis bunga. Tidak diketahui pasti apa sebab berbagai bunga tersebut menjadi tren secara tiba-tiba. Harganya pun melonjak sangat tinggi. Sebelumnya, berbagai jenis bunga tersebut jarang bahkan tidak dilirik oleh masyarakat, terutama kaum ibu.

Melihat fenomena berbagai jenis tanaman bunga yang kini jadi incaran masyarakat sepertinya telah tercipta fenomena sosial yang unik di Aceh, yakni viralnya tanaman hias di berbagai media sosial.  Satu contoh di antaranya adalah jenis bunga keladi, Aglonema, dan yang paling menghebohkan adalah geliat bunga jenis janda bolong. Bunga-bunga tersebut dulunya hanyalah tanaman biasa yang tumbuh di hutan atau hanya dipandang sebagai tanaman liar di belakang rumah. Namun, sekarang justru menjadi tanaman hias yang paling diburu oleh banyak kalangan, terutama kaum ibu. Atas fenomena inilah saya menyebutnya sebagai dampak perubahan sosial karena bunga.

Berdasarkan pengalaman, saya melihat ibu saya sangat menyukai tanaman jenis Aglonema karena bunga tersebut memiliki daun yang sangat unik. Aneka ragam percampuran warnanya menambah kecantikan bunga tersebut. Ada yang berwarna merah, putih, ada juga seperti ukiran batik. Tanaman Aglonema ini juga sangat mudah dirawat, karena bunga jenis ini cukup ditempatkan saja pada area yang terkena sinar matahari secara langsung agar bunganya dapat tumbuh dan subur, cantik, serta memukau saat dipandang.

Dalam merawat bunga Aglonema, kita hanya perlu menyiramnya sehari sekali. Intinya kita harus jaga tanaman tersebut tetap lembab. Saat menyiram tanaman ini dengan air yang berlebihan juga tidak baik, malah akan membuatnya cepat layu dan mati. Begitu pula dengan proses pemupukannya, cukup dengan pupuk kandang saja.  Selain itu, tempatkanlah bunga ini di dalam pot putih dan di atas rangkaian kayu yang ditempah, sehingga menambah kesan keindahannya jika dilihat dari kejauhan. Beginilah pengetahuan awal saya dalam memahami dunia bunga.

Seiring dengan tren masa kini, maraknya bunga-bunga yang sedang diminati kaum ibu memiliki keunikan tersendiri, karena keberadaan bunga dapat memperindah sudut-sudut ruangan. Untuk tanaman hias yang memiliki nilai estetika tinggi, soal harga tentu bukanlah menjadi penghalang bagi mereka pecinta atau pemburu tanaman hias.

Dari situlah saya lihat mengapa kaum ibu sangat menyukai bunga. Salah satunya faktornya bukan untuk sekadar menghias rumah, tetapi juga karena faktor ekonomi. Sebab, bunga yang memiliki estetika dan keunikan dapat diperjualbelikan dengan harga yang menguntungkan, apalagi dalam kondisi pandemi ini, semua orang terkendala dari segi perekonomian keluarga. Pada kondisi ini, beberapa bulan lalu masyarakat diharuskan untuk tetap berada di rumah, sehingga tergiringlah sekelompok kaum ibu beralih utuk melakukan kegiatan bercocok tanam di rumah guna mengisi kekosongan waktu mereka.

Berdasarkan amatan saya, setiap tahunnya tren bunga selalu memiliki perubahan, baik yang bersifat negatif maupun postitif. Dampak negatif  bagi kehidupan sosial masyarakat dapat dilihat dari fenomena yang dulunya tak pernah mengoleksi bunga, sekarang mengalami kecintaan yang berlebihan terhadap bunga. Bahkan ibu-ibu yang sibuk bekerja di siang hari, rela mengahabiskan waktu istirahat malamnya untuk merawat bunga.

Namun, dampak positifnya dapat dilihat dari adanya sekelompok kaum ibu yang saat bertamu ke rumah temannya sering melirik bunga dan menukarkan dengan bunga yang ada di rumahnya ataupun membelinya. Bahkan muncul cerita lucu dari mereka yang rela berburu tanaman keladi dengan menyusuri pinggir sungai hingga menyuruh suaminya masuk hutan. Hal inilah yang membuat saya berani mengatakan perilaku masyarakat juga dapat berubah karena bunga.

Tidak hanya itu, adanya peningkatan minat dan harga bunga hias ini ternyata mengundang terjadinya kasus pencurian tanaman hias di mana-mana. Salah satunya adalah teman ibu saya yang mengoleksi banyak bunga di rumahnya. Bunganya dicuri sangat banyak. Pagi hari hanya tinggal potnya saja. Jika dijual, bunga tersebut bisa sembilan jutaan dan tentunya dengan harga tersebut sungguh sangat berharga saat kondisi perekonomian yang terjepit pada masa pandemi ini.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved