Breaking News:

Salam

Kita Hormati Sikap PM Selandia Baru

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, meminta maaf kepada rakyat atas kegagalan negara mencegah penembakan jamaah di dua masjid kawasan

montase (Sumber : Twitter, NZ Herald)
Sebuah aksi penembakan terjadi di Masjid An Noor, di Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3/2019). Sekelompok orang menyerbu masjid dengan senapan mesin dan menembaki jamaah yang sedang berada di Masjid menunaikan ibadah Salat Jumat. 

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, meminta maaf kepada rakyat atas kegagalan negara mencegah penembakan jamaah di dua masjid kawasan Christchurch pada 2019.

Permintaan maaf itu disampaikan Ardern setelah laporan investigasi soal penyerangan Christchurch dipresentasikan di depan parlemen, Rabu (9/12).

Tim penyelidik mengidentifikasi minimnya sistem kepemilikan senjata api dan "konsentrasi sumber daya yang tidak tepat" di badan keamanan negara. Makanya, dalam laporan itu penyelidik memberi sejumlah rekomendasi termasuk manajemen kepemilikan senjata api, pembentukan badan intelijen dan keamanan baru, serta dorongan agar kepolisian bisa lebih baik dalam mengidentifikasi dan merespons kejahatan yang didasari ujaran kebencian. "Komisi penyelidikan memang tidak menemukan bahwa masalah‑masalah itu bisa menghentikan serangan teror. Tapi, itu semua adalah bentuk kegagalan dan saya meminta maaf karenanya," kata Ardern.

Ardern menuturkan pemerintah sepakat mengikuti seluruh 44 rekomendasi yang tertuang dalam laporan tersebut demi memastikan keamanan warga Kiwi, sebutan warga Selandia Baru, termasuk kelompok minoritas dan pendatang. Ia mengatakan pemerintah telah membentuk kelompok pengarah antar‑lembaga untuk melaksanakan rekomendasi yang diajukan. "Kaum Muslim di Selandia Baru harus aman. Semua orang yang menganggap Selandia Baru adalah rumah mereka harus dalam keadaan selalu aman terlepas dari ras, agama, gender, dan orientsi seksual mereka," ujar perdana menteri.

Pemerintahan Selandia Baru segera memperkuat kapasitas Komisi Hak Asasi Manusia dengan meningkatkan anggaran lembaga tersebut. Mereka bekerja keras menggodok undang‑undang terkait ujaran kebencian dan Terrorism Suppression Act.

Sebagaimana kita tahu, insiden berdarah Christchurch terjadi pada 15 Maret 2019. Saat itu pria penganut supremasi kulit putih asal Australia, Brenton Tarrant, menembak jemaah Masjid Linwood dan Masjid Al Noor di Christchurch, ketika umat Muslim tengah menunaikan shalat Jumat. Sebanyak 51 orang meninggal dan 40 orang terluka dalam kejadian tersebut.

Sebagai Muslim kita tentu menerima permintaan maaf Arden. Apalagi, kebijakan Arden pasca serangan terhadap jamaah dua masjid itu terindikasi sangat ingin memberi perlindungan bagi kaum Muslim dan kelompok minoritas pada umumnya di Selandia Baru.

Setelah serangan yang terjadi 21 bulan lalu itu, dunia muslim sangat mengecam pelaku kejadian tersebut, dan sepakat menyebutnya sebagai teroris. Sang pelaku dipandang sudah bertinda biadab yang melukai nurani, menghancurkan akal sehat, dan berpeluang kian memperdalam jurang perbedaan yang ada.

Banyak juga yang berpandangan bahwa peristiwa di Selandia Baru itu menunjukkan meningkatnya Islamophobia. Sebuah perbuatan radikal dan intoleran. Sebuah tindakan yang berdasar pada fundamentalisme. Kita menggarisbawahi soal radikalisme dan intoleransi ini karena peristiwanya terjadi di Selandia Baru, satu negara yang diagung‑agungkan sebagai kawasan dengan tingkat toleransi yang tinggi.

Yang pasti seluruh dunia serentak bersuara mengecam teror terhadap Muslim di Selandia Baru. Dunia menyampaikan duka mendalam dan merasa terusik nilai‑nilai kemanusiaan mereka. Sekjen PBB, Antonio Guterres, menyampaikan hal yang membuat kita boleh memiliki harapan. Apa katanya? “Hari ini dan setiap hari, kita harus bersatu menghadapi kebencian anti‑Muslim, seluruh bentuk bigot dan teror.” Kita berharap, apa yang terjadi di Selandia Baru adalah hal terakhir yang terjadi, terhadap siapapun. Kita ingin dunia yang damai, di bagian dunia manapun. Tak ada lagi tumpahan darah, terutama darah dari orang‑orang yang tak bersalah.

Kita pun ingin mengutip pernyataan Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, yang menegaskan bahwa “terorisme tak memiliki agama.” Dan, tragedi terhadap Muslim di Selandia Baru adalah buktinya?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved