Breaking News:

Opini

Ketika Kehormatan Tidak Lagi Penting

Sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia, polisi mengamankan enam orang anak dan remaja yang yang masih di bawah umur, tiga laki-laki

Ketika Kehormatan Tidak Lagi Penting
IST
Dr. H. Agustin Hanafi, Lc., Ketua Prodi S2 Hukum keluarga UIN Ar-Raniry, IKAT-Aceh

Oleh Dr. H. Agustin Hanafi, Lc., Ketua Prodi S2 Hukum keluarga UIN Ar-Raniry, IKAT-Aceh

Sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia, polisi mengamankan enam orang anak dan remaja yang yang masih di bawah umur, tiga laki-laki dan tiga perempuan mengadakan pesta seks di sebuah rumah kosong di salah satu kabupaten di Aceh pada Kamis (1/10/2020). Kemudian salah seorang ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) juga mengungkapkan fakta mengejutkan, oknum pelajar SMP di daerahnya terjerumus prostitusi online (Harian Serambi Indonesia, Rabu, 25/11/ 2020).

Peristiwa ini merupakan tamparan keras bagi kita masyarakat Aceh, bak petir di siang bolong, antara percaya dan tidak, namun nyata adanya. Selama ini mungkin kita sering berasumsi bahwa anak Aceh tidak mungkin membuat aib di negerinya sendiri, terlebih kita Muslim fanatik dan hidup dalam bingkai syariat Islam, sehingga gerak gerik mereka kurang menjadi perhatian kita secara serius.

Kita lupa dan kurang menyadari akan perubahan zaman yang saat ini memiliki problem yang serba kompleks, seperti darurat narkoba, pergaulan bebas dan pornografi. Tidak sedikit kasus ditemukan, oknum pelajar berani mengirim fotonya tanpa busana kepada pacarnya, bahkan ada yang rela menggadaikan kehormatannya dengan harapan akan dinikahi.

Peran orang tua

Belum diketahui jelas apa motif yang melatarbelakangi kasus di atas, apa karena faktor ekonomi, anak yang berasal dari keluarga yang bermasalah (broken home), atau kecanduan pornografi, atau sekadar iseng untuk memenuhi tuntutan gaya hidup modern atau ingin mengikuti trend orang Barat bahwa subuah kehormatan bukanlah dianggap suatu yang penting. Nauzu billah!

Terlepas apapun faktornya, selayaknya kita sebagai orang tua lebih bertanggung jawab dan perhatian terhadap anak, tidak mudah lupa dan abai terhadap mereka meski kesibukan merayapi hari-hari kita. Saat ini banyak kita lihat orang tua yang bersama anak-anaknya, namun tidak membersamai anak-anak mereka, karena sibuk dengan handphone masing-masing meski duduk berdampingan.

Oleh karena itu, tuntutan orang tua untuk menciptakan keluarga yang harmonis, agar anak tidak merasa frustrasi dan mencari pelampiasan sehingga terjerembab kepada pergaulan bebas, merupakan pekerjaan rumah yang besar dewasa ini. Untuk itu, mulai saat ini kita lebih berhati-hati dalam mendidik anak, memberikan perhatian yang besar dan tulus, dan tidak pilih kasih di antara mereka, memanggil dengan lembut dan mesra yang mencerminkan kasih sayang orang tua terhadap buah hatinya.

Memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat anak bangga dan percaya diri seperti memeluk dan mencium, menyisir rambut dan menambalkan bedak di pipinya. Juga memujinya dengan tulus dan menatapnya dengan senyuman sumringah sehingga anak merasakan cinta kasih sepenuhnya dari ayah dan ibunya, agar tidak merasa haus sehingga mencari perhatian dan kasih sayang ke orang lain.

Sebuah kewajiban bagi kita sebagai orang tua untuk mencegah anak dari perilaku amoral dengan berupaya membentenginya melalui cinta tulus dan suci. Kemudian, memberi perhatian terhadap hal-hal yang dilakukan anak, seperti menanyakan buku bacaan apa yang ia tekuni, apakah telah mampu membaca Alquran secara baik, mengajaknya untuk taat beribadah, mendalami kandungan Alquran, menanyakan berteman dengan siapa saja dan apa kendala yang ia hadapi ketika di sekolah maupun di kampus.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved