Breaking News:

Opini

Konsep Pemberdayaan Ala Rasulullah SAW

Suka cita merayakan maulid Nabi Muhammad Saw sungguh terasa di bumi Aceh, yang bahkan dalam kalender Aceh dilaksanakan selama 2 bulan

Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala 

Oleh Dr. Rita Khathir, S.TP., M.Sc, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala

Suka cita merayakan maulid Nabi Muhammad Saw sungguh terasa di bumi Aceh, yang bahkan dalam kalender Aceh dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu bulan ke-3 dan 4, molod dan adoe molod. Maulidurrasul yang rutin kita laksanakan setiap tahun semestinya menjadi sarana pembentukan jiwa intelektual masyarakat dan peningkatan kualitas kehidupan, bukan malah terjerumus pada dekadensi moral, peningkatan angka kemiskinan, dan peningkatan pencemaran dan pengrusakan lingkungan hidup.

Kesan kita pada Baginda Rasul sebagai manusia hebat sebenarnya tidak terlepas dari keberhasilannya dalam melakukan pemberdayaan pada kehidupan kita. Rasulullah adalah tokoh pemberdayaan manusia. Beliau menyandang dua peran, yaitu sebagai pemimpin tanpa gelar raja sekaligus sebagai mahaguru.

Strategi pemberdayaan masyarakat yang pertama Rasulullah lakukan adalah proses pendidikan sehingga mengubah kehidupan jahiliyah menjadi kehidupan yang ilmiah. Beliau adalah seorang guru yang mengajarkan murid-muridnya dengan cara-cara yang luar biasa, penuh kasih sayang dan kesabaran. Beliau menjadi guru seutuhnya, tidak hanya perkataan, perbuatan dan diamnya pun adalah suatu ilmu pengetahuan.

Proses pendidikan ini dilakukan melalui berbagai kesempatan pertemuan/diskusi dengan para sahabat, bermula dari menanamkan ketauhidan, membaca Alquran dan merenungi isinya, mengambil pelajaran dan mengaplikasikan dalam kehidupan mereka. Orang-orang yang kehidupan sebelumnya tanpa arah, tidak ada tempat bergantung, bertuhankan akal mereka, semua berubah menjadi hamba yang taat kepada Allah, mempunyai tujuan hidup yang jelas yaitu kehidupan kekal di akhirat, dan tidak lagi bingung terombang-ambing dalam kehidupan dunia karena sudah menggantungkan diri kepada zat yang Maha Agung, Allah SWT.

Kedua, Rasulullah memulai suatu sistem pemerdekaan budak. Pada masa itu, masih terdapat sistem perbudakan manusia, yang mana manusia diperjualbelikan. Tidak dapat kita bayangkan bagaimana seorang manusia harus hidup dengan hati dan perasaan yang tidak dapat diapresiasikan, ia seperti hidup dalam kematian. Rasulullah selalu melakukan pemerdekaan budak, membeli budak lalu memerdekakan mereka, yang sama artinya memanusiakan kembali orang-orang yang sebelumnya hidup seperti hewan peliharaan tuan-tuan mereka tersebut. Rasulullah menanamkan suatu nilai yang konsisten, bahwa semua manusia sama derajatnya di sisi Allah, yang membedakan satu dan yang lain hanyalah ketaqwaan mereka sahaja. Untuk itu Rasul memberikan pelajaran penting kepada kita bahwa perbudakan harus dihapuskan.

Kita tidak bingung dengan konsep pendidikan, karena kita sudah mengaplikasikannya. Namun mereview metode dan kurikulum dapat kita lakukan supaya capaian pendidikan dapat membentuk generasi dengan imtaq dan iptek yang unggul. Lalu, pertanyaan selanjutnya, di era ini bagaimana kita bisa meniru Rasulullah dalam hal pemerdekaan budak? Ketika perbudakan manusia telah dihapuskan? Ternyata telah terjadi perubahan gaya sistem perbudakan yang menjadi faktor penghambat pemberdayaan masyarakat.

Perbudakan era zaman now yang pertama adalah perbudakan ekonomi. Perbudakan ekonomi adalah perbudakan di mana sebagian manusia yang lemah bekerja pada manusia yang kuat sebagai pemodal. Pemodal ini bermakna orang yang mempunyai uang (borju) yang dapat bersumber dari warisan (biasanya kalau keturunan raja dan bangsawan), atau pengusaha-pengusaha. Majalah Forbes (17/10/2016) pernah merilis sumber kekayaan para milyuner (sesuai rangkingnya) yaitu industri teknologi, industri ritel dan mode, industri media dan hiburan, industri makanan, industri properti, dan industri energi.

Pemodal dapat juga berupa orang-orang yang mengelola keuangan (bankir) yang sesungguhnya mereka adalah pelaku industri keuangan dan investasi, yang selama ini kita kenal sebagai perbankan atau asuransi. Bankir adalah pemodal yang harus diperhitungkan karena dalam rilis majalah forbes tersebut, industri keuangan dan investasi berada pada rangking ke-2 setelah industri teknologi.

Tujuan pemodal adalah untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya sehingga mempertahankan status quonya sebagai hartawan. Dengan situasi ini, pemodal akan semakin kaya, menimbun harta di sana sini, dan menjadi milyuner, sebaliknya pekerja selamanya menjadi pekerja atau karyawan atau buruh. Kondisi perbudakan ini semakin parah ketika para majikan tidak memberikan penghasilan yang layak kepada pekerjanya, dan bertahun-tahun bekerja mereka tidak mampu meningkatkan perekonomian keluarganya.

Perbudakan era zaman now yang kedua adalah perbudakan politik. Perbudakan politik adalah sistem perbudakan di mana pemodal tadi memegang jabatan politik sehingga memanfaatkannya untuk meletakkan orang-orang lain pada berbagai posisi strategis sebagai bawahan yang penuh khidmat, melaksanakan kepentingan si penguasa tersebut. Proses pemberdayaan masyarakat tentu menjadi null dalam situasi ini karena sumber daya yang ada seluruhnya dikerahkan untuk mencapai visi dan misi sang penguasa. Lebih parah lagi, pelaku perbudakan politik sifatnya lebih ganas dari pelaku perbudakan ekonomi, karena selain menimbun harta kekayaan, mereka juga mengejar yang namanya kekuasaan.

Dalam Alquran dikisahkan tentang seorang milyuner yang bernama Qarun yang hidup pada zaman Nabi Musa as. Harta Qarun sangat banyak sehingga beberapa orang saja masih merasa berat memikul kunci pintu gudang hartanya. Dapat kita simpulkan bahwa musuh pemberdayaan masyarakat adalah lahirnya tokoh-tokoh Qarun zaman now. Mereka menggunakan berbagai kendaraan baik ekonomi maupun politik, karena kedua cara ini merupakan cara yang paling manjur untuk mengumpulkan harta kekayaan. Kita rindu pada Rasulullah yang sejatinya seorang raja yang agung, namun hidup dalam kesederhanaan, dan segera mengalokasikan harta yang diperoleh untuk zakat, infaq, dan shadaqah. Di samping itu, Rasulullah juga menanamkan dogmatis bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, sehingga masyarakat di masa itu malu menjadi pengemis.

Langkah awal supaya kita mampu melakukan pemerdekaan budak ekonomi dan politik adalah membunuh jiwa Qarun yang bersemayam dalam dada. Seiring matinya jiwa Qarun ini, maka jiwa dan pikiran kita akan mengikuti pola pemberdayaan masyarakat ala Rasulullah. Para majikan/toke perlu memperhatikan agar gaji pekerja dibayar minimal sesuai standar upah minimum yang ditetapkan Pemerintah setempat, memastikan jaminan keselamatan kerja, jaminan kesehatan pekerja dan keluarganya, memastikan pembayaran pajak penghasilan kepada negara, serta mempersiapkan dana pensiun.

Cara lain yaitu melakukan pengembangan usaha menggunakan azas kemitraan dengan karyawan. Apabila usaha sudah berjalan dengan lancar, dilakukan pengalihan kepemilikan cabang usaha tersebut kepada mitra, sehingga dia yang sebelumnya pekerja berubah menjadi pengusaha (cara ini sudah kami aplikasikan).

Pemerdekaan budak ekonomi sangat strategis dilakukan dengan implementasi Koperasi Syariah. Perekonomian syariah dilaksanakan berlandaskan enam prinsip, yaitu tolong menolong, kebenaran, keseimbangan, kejujuran, keadilan, dan kebersamaan. Dengan sistem perkoperasian, metode pemberdayaan ala Rasulullah dapat diterapkan sekaligus, yaitu dengan pendidikan dan pemerdekaan budak.

Sedangkan pemerdekaan budak politik hanya dapat dilakukan oleh para penguasa dengan penerapan nilai integritas dan profesionalisme. Selain itu sebagai anggota masyarakat kita pun harus proaktif menghapuskan jiwa Qarun dan mental budak dalam diri. Jangan mau menjadi budak ekonomi mapupun budak politik.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved