Breaking News:

Opini

Stigma Menjadi Penyumbang Kematian

Virus yang menyebabkan penyakit saluran pernapasan, seperti flu dengan gejala batuk, demam serta pada kasus

Stigma Menjadi Penyumbang Kematian
IST
dr. Rizki Anjar Pinanggih, Mahasiswi Program Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah

Oleh dr. Rizki Anjar Pinanggih, Mahasiswi Program Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah

Coronavirus (Covid-19) merupakan penyakit menular jenis baru yang belum pernah teridentifikasi pada manusia. Virus yang menyebabkan penyakit saluran pernapasan, seperti flu dengan gejala batuk, demam serta pada kasus yang lebih serius, pneumonia. Covid-19 menjadi  penyebab kematian yang menakutkan dunia saat ini, termasuk di Indonesia karena sudah ribuan orang meninggal dalam waktu yang singkat sejak ditemukan di Wuhan Desember 2019 lalu.

Jumlah kasus positif corona di seluruh dunia mencapai 58,4 juta kasus yang terinfeksi dan 40,4 juta dinyatakan sembuh, serta 1,38 juta lebih meninggal dunia. Data tersebut hasil update terbaru 22 November 2020 dari laman Worldometers terhadap Kasus Covid-19 di dunia.

Bahkan, jumlah kematian akibat Covid-19 di dunia terus naik, menyentuh angka 1,38 juta jiwa. Berikut lima negara dengan kasus terbanyak di dunia, Amerika Serikat (12.435.885 kasus), 261.746 meninggal), (sembuh 7.396.968). Lalu, India, (9.095.908 kasus), (133.263 meninggal), (sembuh 8.520.039); Brasil, (6.052.786 kasus), (169.016 meninggal), (sembuh 5.422.102). Kemudian Perancis, (2.127.051 kasus), (48.518 meninggal), (sembuh 149.521), dan Rusia, (2.064.748 kasus), (35.778 meninggal), (sembuh 1.577.435).

Selain menjadi ketakutan, munculnya stigma atau pelebelan negatif bagi mereka yang terkonfirmasi Covid-19, juga menjadi persoalan baru dan hal tersebut masih terjadi di masyarakat kita yang terkesan memandang mereka yang terkonfirmasi virus tersebut hina.

Bahkan, WHO menyerukan agar masyarakat tidak memberikan stigma terkait Covid-19 dan meminta masyarakat menghindari penggunaan istilah tertentu yang mengandung arti negatif. Di satu sisi para penderita itu tengah berjuang melawan penyakitnya, di sisi lain terkadang dia juga harus menghadapi stigma negatif di lingkungan sekitarnya tentang virus yang tengah menghantuinya.

Jadi, semua harus bersatu melawan virus ini dan jangan ada lagi muncul stigma negatif di masyarakat bagi mereka yang tengah menghadapi penyakit ini. Karena stigma yang diberikan oleh individu atau kelompok masyarakat terhadap pasien Covid-19 juga berkontribusi terhadap tingginya angka kematian akibat virus corona tipe baru itu.

Lalu munculnya stigma akan semakin memperburuk kondisi dan status kesehatan seseorang serta tingkat kesembuhannya yang semakin kecil.

Hal inilah yang seharusnya dipahami bahwa stigma berkontribusi terhadap tingginya angka kematian. Kondisi tersebut semakin parah karena Covid-19 itu dapat menyerang tubuh manusia secara fisik, berdampak ke kesehatan jiwa meski belum tertular.

Terhadap mereka yang terkonformasi positif Covid-19 semakin menimbulkan kondisi fisik yang lebih buruk, karena bertambah cemas dan stres. Lalu stres bisa menurunkan imunitas tubuh seseorang, karena pasokan darah, oksigen, dan nutrisi yang tidak baik pada keseluruhan organ tubuh.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved