Kamis, 30 April 2026

Wisatawan Dilarang ke Objek Wisata, Curah Hujan Kembali Tinggi

Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Aceh Tamiang kembali mengingatkan bahwa semua objek wisata di kabupaten itu masih ditutup

Tayang:
Editor: bakri
Serambi Indonesia
Puncak Bukit Awan, salah satu objek wisata unggulan di Aceh Tamiang. Disparpora mengingatkan wisatawan menahan diri untuk tidak berkunjung dulu di tengah cuaca ekstrim dan belum berakhirnya wabah Covid-19. 

KUALASIMPANG - Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Aceh Tamiang kembali mengingatkan bahwa semua objek wisata di kabupaten itu masih ditutup untuk umun. Imbauan ini disampaikan karena masih ada beberapa kelompok masyarakat yang nekat menerobos masuk ke objek wisata di tengah tingginya instensitas hujan.

“Penutupan objek wisata awalnya karena dampak Coivd-19. Tapi, melihat situasi cuaca ekstrim yang masih terjadi, kami sangat menyarankan agar masyarakat menahan diri agar jangan dulu pergi ke objek wisata,” pinta Kadisparpora Aceh Tamiang, Muslizar, Minggu (20/12/2020).

Muslizar juga mengingatkan, sebagian besar akses jalan menuju objek wisata di Aceh Tamiang terdampak banjir. Sehingga menyulitkan regu penolong bila pengunjung mendapat musibah saat berada di lokasi wisata tersebut. “Jangan memaksakan diri, cuaca belum mendukung,” ulang Muslizar.

Untuk diketahui, sebagian wilayah Aceh Tamiang diguyur hujan dengan intensitas tinggi sepanjang Minggu (20/12/2020). Curah hujan yang tinggi ini akan membuka kembali potensi terjadinya banjir di beberapa titik.

Ketua Satgas SAR Aceh Tamiang, Khairul, ketika dikonfirmasi, kemarin, mengatakan, pihaknya menyikapi fenomena alam ini dengan siaga penuh untuk mengantisipasi terjadinya luapan air di permukiman. Namun, hingga Minggu (20/12/2020) petang, dia belum mendapat laporan dari masyarakat. “Sejauh ini belum ada laporan masuk tentang banjir, tapi kami terus siaga,” ujarnya.

Sementara itu, banjir yang melanda sejumlah kecamatan di Aceh Tamiang, beberapa hari lalu, menyebabkan puluhan hektare sawah rusak. Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan (Distanbunak) Aceh Tamiang menyebut kerusakan terparah dialami lahan yang baru tanam. “Banjir tahun ini bersamaan dengan musim tanam. Makanya pendataan kami fokuskan pada lahan gagal tanam atau puso,” kata Kadistanbunak Aceh Tamiang, Yunus, Sabtu (19/12/2020).

Berdasarkan data awal, banjir menggerus areal tanam seluas 34,5 hektare. Yunus memprediksi kerusakan ini akan terus bertambah, mengingat pendataan masih terus berlangsung. Disebutkan, kerusakan terparah terjadi di Kampung Payameta, Karangbaru, dimana banjir merendam tanaman padi 25 hektare. Selanjutnya di Sukaramai misalnya 4 hektare sawah, di Telagameuku II   seluas 1, 2 hektare bawang merah, di Bandamulia 3 hektare sayuran, dan di Alurbaung 0,5 hektare tanaman padi.

Yunus menjelaskan, pemerintah sebenarnya sudah memiliki solusi atas kerusakan ini melalui Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dan Asuransi Usaha Ternak Sapi dan Kerbau (AUTSK) yang dirintis sejak tahun lalu.  “Tapi keinginan petani kita untuk ikut program ini masih rendah,” ungkap Yunus.

Berbeda dengan sektor pertanian sawah, sektor tambak sejauh ini belum diperoleh kerusakan akibat banjir. “Sejauh ini, belum ada masyarakat yang melaporkan tambaknya rusak akibat banjir,” kata Safuan yang sebelumnya menjabat Kadistanbunak Aceh Tamiang. (mad)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved