Breaking News:

Opini

Ibu dengan 1.000 Bayangan

Peringatan Hari Ibu(PHI) dilaksanakan setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya. PHI ke-92 tahun ini tentu sangatlah berbeda dengan tahun-tahun

Ibu dengan 1.000 Bayangan
IST
Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM, Promotor Kesehatan Masyarakat pada RSU Cut Meutia Aceh Utara

Oleh Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM, Promotor Kesehatan Masyarakat pada RSU Cut Meutia Aceh Utara

Peringatan Hari Ibu(PHI) dilaksanakan setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya. PHI ke-92 tahun ini tentu sangatlah berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena pandemi Covid-19 melanda negeri ini sejak Maret 2020 dan sampai kini pun belum usai.

Meskipun menurut penulis sejatinya kita tidak memerlukan sebuah tanggal atau hari istimewa untuk memberikan penghargaan pada ibu. Doa dan kebaikan kita berikan pada orang tua adalah satu kewajiban tidak hanya pada tanggal 22 Desember saja.

Tidak ada yang salah atas kemuliaan seorang Ibu, semenjak keberadaan Islam yang risalahnya dibawa oleh Rasulullah SAW, seorang ibu telah mendapatkan posisi yang sangat tinggi nan mulia. Jauh sebelum hari ibu dirayakan, Allah dan Rasul sudah mengapresiasi setiap keringat ibu sedari saat mengandung, setiap helaan napas ibu saat melahirkan dan sampai setetes Air Susu Ibu di saat menyusui.

Esesnsi PHI setiap tahun seutuhnya adalah untuk kembali merefresh ingatan kita tentang keberadaan dan peran ibu, tentunya bukan menghormatinya dalam sehari ini saja. Hari Ibu Nasional diperingati karena memiliki latar belakang sejarah panjang dan penuh perjuangan yang diprakarsai oleh para pejuang perempuan waktu itu. Kongres Perempuan I pada 22 Desember 1928 sebagai tonggak perjuangan perempuan Indonesia dalam mengambil peran di setiap derap pembangunan di Indonesia. Perempuan mengisi ruang-ruang kontribusi dalam merebut kemerdekaan, menyuarakan berbagai permasalahan, dan turut serta mencari dan memberisolusi untuk mengantar Indonesia di titik sekarang.

Hasil Kongres Perempuan Indonesia pertama tersebut berlanjut sampai pada Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung tahun 1938, sehingga tanggal 22 Desember dinyatakan sebagai Hari Ibu melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional Yang Bukan Hari libur. Hal ini sebagai bentuk penghargaan bagi semua perempuan di Indonesia, atas peran dan kontribusinya bagi keluarga, masyarakat dan negara.

Paparan di atas jelas tergambar bahwa misi diperingatinya Hari Ibu lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini.

Hari Ibu diberi simbol/lambang berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya yang menggambarkan: 1. Kasih sayang kodrati antara ibu dan anak; 2. Kekuatan, kesucian antara ibu dan pengorbanan anak; 3. Kesadaran wanita untuk menggalang kesatuan dan persatuan, keikhlasan bakti dalam pembangunan bangsa dan negara.

Lambang Hari Ibu disertai tulisan `Merdeka Melaksanakan Dharma' mengandung arti bahwa tercapainya persamaan kedudukan, hak, kewajiban dan kesempatan antara perempuan dan laki-laki. Diharapkan terwujudnya kemitraan sejajar dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara demi keutuhan, kemajuan dan kedamaian bangsa Indonesia. Makna kekinian dari peringatan hari ibu ini adalah untuk menghargai peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya.

Tema utama PHI tahun ini adalah `Perempuan Berdaya Indonesia Maju' dengan salah satu subtema Perjuangan Perempuan di Era Tatanan Baru New Normal` Perempuan Penyemangat dan Garda Terdepan di Era New Normal'. Tujuannya mengangkat perjuangan perempuan sebagai inspirator dalam keluarga dan masyarakat pada era tatanan baru.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved