Breaking News:

Opini

KTR: Kontrol Publik Terhadap Rokok

Zat ini meningkatkan aliran adrenalin dan memicu peningkatan dopamin yang merangsang area otak terhadap kesenangan dan rasa bahagia

KTR: Kontrol Publik Terhadap Rokok
IST
dr. Nila Frisanti, Mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah

Oleh dr. Nila Frisanti, Mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unsyiah

Tembakau merupakan bahan yang sangat adiktif, mengandung nikotin yang menyebabkan ketergantungan pemakainya. Zat ini meningkatkan aliran adrenalin dan memicu peningkatan dopamin yang merangsang area otak terhadap kesenangan dan rasa bahagia. Menyerupai narkoba, penggunaan tembakau dapat menyebabkan kecanduan fisik dan psikologis.

Merokok merupakan lazimnya cara orang memakai tembakau, selain dihisap dan dikunyah. Selain nikotin, tar dan karbon monoksida, rokok mengandung lebih dari 4.000 senyawa kimia, 400 zat berbahaya, dan 43 zatkar sinogenik yang dapat memicu terjadinya kanker. Begitu juga dengan rokok elektronik yang belakangan ini populer pun mengandung nikotin, zat kimia yang bersifat racun (toksik) dan karsinogenik.

Rokok juga pemicu utama penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) dan pernafasan serta masalah kesehatan lainnya. Asap rokok pun mengancam kesehatan yang bukan perokok (perokok pasif). Paparan asap rokok pada bayi dan anak dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan, infeksi telinga dan penyakit saluran pernafasan yang dapat berakibat fatal. Pada wanita hamil dapat menyebabkan keguguran, berat bayi lahir rendah (BBLR), dan cacat janin yang dikandungnya.

WHO mencatat ada setidaknya 7 juta kematian di dunia setiap tahunnya akibat penyakit terkait produk tembakau, sehingga menganjurkan negara-negara di dunia agar meningkatkan pajak produk tembakau minimal 25 % setiap tahunnya untuk menekan jumlah perokok, karena sudah seharusnya negara peduli dan berkontribusi terhadap perbaikan derajat kesehatan masyarakatnya.

Pemerintah sendiri melalui Kemenkeu akan menaikkan cukai hasil tembakau di tahun 2021 sebesar rata-rata 12,5% yang akan menyebabkan harga rokok 14% lebih mahal. Meskipun hal ini menimbulkan pro dan kontra, apalagi dengan acuan lesunya keadaan ekonomi terdampak oleh pandemi Covid-19 yang dianggap membebani industri hasil tembakau dan kekhawatiran meningkatnya peredaran rokok ilegal, kenaikan harga ini diharapkan berperan mengurangi persentase merokok penduduk Indonesia terutama usia 10-18 tahun dari 9,1 % menjadi 8,7 % sesuai target Kemenkes di tahun 2024 yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) bidang kesehatan 2020-2024.

Regulasi terkait pengendalian produk tembakau di Indonesia tertuang dalam Undang-Undang RI nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 113 yang menetapkan bahwa tembakau, produk yang mengandung tembakau merupakan zat adiktif. Kemudian pasal 115 menyebutkan bahwa pemerintah daerah wajib menetapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di wilayahnya. KTR ini mencakup: fasilitas pelayanan kesehatan, tempat belajar mengajar, tempat bermain anak, tempat ibadah, angkutan umum, tempat kerja, dan tempat umum lainnya yang ditetapkan oleh pemerintah daerah.

Pemerintah juga menetapkan Peraturan Pemerintah RI nomor 109 tahun 2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan, yang mengatur penyelenggaraannya meliputi: produksidanimpor; peredaran; perlindungan khusus bagi anak dan perempuan hamil; dan KTR.

Namun di Aceh, perokok di tempat-tempat umum masih lazim kita jumpai. Rokok juga bebas dibeli oleh anak tanpa ada batasan usia. Apalagi dijual per batang dengan hargaki saran Rp 1.000-Rp 2.000. Anak dan remaja menjadi perokok karena melihat orang dewasa terdekatnya yang merokok disamping karena pergaulan dan pengaruh iklan-iklan rokok dengan imej gaul dan keren di media, jalanan dan tempat-tempat umum.

Menurut data Riskesdas provinsi Aceh tahun 2018 bahwa 24,01 % masyarakat Aceh adalah perokok, dengan jumlah rerata rokok yang dihisap adalah 16,35 batang setiap harinya. Dan 69,76 % perokok adalah penduduk dengan pekerjaan petani/buruh tani. Sementara 1,69 % anak usia 10-14 tahun dan 16,77 % usia 15-19 tahun adalah perokok, baik yang merokok setiap hari maupun yang merokok kadang-kadang.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved