Breaking News:

Opini

Perempuan Penyembuh Alam

Bukan sebuah kebetulan ketika pada bulan Desember ini saya mendapatkan pekerjaan menjadi editor sebuah buku yang ditulis oleh sejumlah perempuan

Perempuan Penyembuh Alam
IST
Teuku Kemal Fasya, Antropolog Universitas Malikussaleh

Oleh Teuku Kemal Fasya, Antropolog Universitas Malikussaleh

Bukan sebuah kebetulan ketika pada bulan Desember ini saya mendapatkan pekerjaan menjadi editor sebuah buku yang ditulis oleh sejumlah perempuan yang peduli lingkungan.

Mereka sebenarnya perempuan biasa, tapi memiliki spirit luar biasa dalam menyelamatkan hutan. Selaksa ingatan saya langsung terhubung pada banjir bandang yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara yang berlangsung sejak 5 Desember dan terus susul-menyusul membuat kerugian masyarakat semakin nyata.

Isu baru

Tulisan dari perempuan peduli lingkungan seperti ini menampar pola perlakuan kita terhadap alam. Perempuan menulis isu lingkungan juga hal baru. Jika selama ini kelompok feminis hanya berkutat pada problem tubuh, kekerasan seksual, dan politik emansipasi, kini para perempuan mulai menunjukkan kasihnya pada "Ibu bumi".

Mereka resah nasib bumi yang terus dirusak dengan penuh keserakahan. Mereka bersuara di tengah saputan awan patriarkhi yang menjadikan lingkungan asri sebagai komoditas pribadi dan kelompok.

Ada kisah aksi perlindungan sumber air di Bener Meriah yang dilakukan para perempuan dari kabupaten penghasil kopi arabika terbaik dunia itu dengan membentuk Kelompok Rawar Bengi dan Payung Bumi. Mereka memboikot aksi "laki-laki perusak alam" dengan menjadi penjaga sumber air di Wih Delong, salah satu anak sungai yang bermuara ke Krueng Peusangan.

Aksi tokohnya, Yusdarita, cukup heroik. Ia menjadi penggerak sekaligus bagian dari pengurus mukim, menghela para perusak tepian aliran sungai. Aksinya ini bukan tanpa alasan. Jika aliran sungai rusak maka akan mempengaruhi hasil perkebunan dan mengancam kesejahteraan anak cucunya kelak.

Ada juga kisah perempuan di Kampung Bergang, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah yang berani menyetop truk-truk pengangkut illegal logging. Kampung Bergang yang terletak 1.600 mdpl, berpenduduk 130 KK atau 556 jiwa memiliki lahan perkebunan dan hutan seluas 4.000 ha. Hutan itu telah dijaga selama turun-temurun.Namun, di era Otonomi Khusus, rimba mereka cepat sekali hilang, bak helai demi helai rambut di kepala.

Padahal dengan potensi unggulan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yaitu kopi, pinang, kemiri dan coklat, masyarakat sudah cukup sejahtera. Kampung ini juga penghasil langsat dan durian terbaik di Aceh. Diperkirakan keindahan Kampung Bergang akan segera sirna jika tutupan hutan menghilang ditelan laki-laki rakus penebas pohon. 

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved